Tuesday, February 10, 2026
spot_img
HomeFilmMasa Kelam Sinema Indonesia, Banyak Film Panas Bermunculan

Masa Kelam Sinema Indonesia, Banyak Film Panas Bermunculan

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Jagat perfilman Indonesia di masa Orde Baru rupanya tidak melulu didominasi dengan propaganda militer, kisah-kisah kemiskinan, melodrama, hingga perjuangan kemerdekaan. Sejak pertengahan era ’70-an hingga mendekati tahun 2000, film-film bertemakan seks (banyak orang menyebutnya film panas) bermunculan di Tanah Air.

Puncaknya terjadi pada ’90-an. Film-film panas membanjiri bioskop. Serbuan film panas tersebut disebabkan semakin tenggelamnya perfilman dalam negeri oleh dominasi film-film asing, baik dari Hollywood maupun Hong Kong.

Film-film asing pernah dilarang sewaktu pemerintahan Presiden Soekarno di tahun ‘60-an. Tindakan tersebut bermaksud untuk menghapus pengaruh budaya Barat di Indonesia setelah masa kolonialisme panjang. Saat kekuasaan berpindah tangan ke Presiden Soeharto, larangan penayangan film asing dicabut dan film-film yang berbau kekerasan dan seksual diperbolehkan untuk ditayangkan di bioskop.



Sebenarnya, di era ’80-an, perfilman nasional memasuki masa keemasan. Bintang-bintang seperti Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Nike Ardilla, Paramitha Rusady dan Desy Ratna Sari mulai bermunculan.  Film-film yang terkenal dan masih dikenang hingga sekarang, seperti Catatan Si Boy (film ini di-remake dua kali dalam versi sinetron di tahun 1998 dan 2016), Olga Sepatu Roda (film ini juga di-remake  dalam versi sinetron di tahun 1998), Blok M dan lainnya banyak tercipta.

Pada era ’80-an, ajang penghargaan tertinggi bagi insan film Indonesia, Festival Film Indonesia (FFI), masih digelar.  FFI bertahan hingga tahun 1992. Selanjutnya, seiring dengan kondisi “hidup segan mati tak mau”-nya perfilman Indonesia, FFI tidak diselenggarakan.

Itu terjadi pada dekade ‘90-an, industri perfilman nasional mengalami penurunan kualitas yang membuat hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema seks. Sebut saja Kenikmatan Terlarang (1996), Gairah Malam yang Pertama (1993), Ranjang yang Ternoda (1994) dan beberapa judul-judul panas lainnya sempat “menghiasi” sinema. Tema berbau seks dipilih untuk menarik minat penonton yang lebih menyukai film-film impor ketimbang film lokal.

Di masa kelam tersebut, dalam satu tahunnya, film-film Tanah Air yang diproduksi bisa dihitung dengan jari. Mati surinya industri film Indonesia juga ditunjang pesatnya perkembangan televisi swasta, serta munculnya teknologi VCD, LD, dan DVD yang menjadi pesaing baru.

Hingga akhirnya memasuki milenium kedua, perfilman Indonesia kembali bangkit dengan dirilisnya film-film bertemakan anak muda dan anak-anak, seperti Ada Apa Dengan Cinta (2002) dan Pertualangan Sherina (2000).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mangkunegaran Meresmikan Layanan Ambulans Jenazah dan Pembukaan Kembali Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran

Surakarta, 5 Februari 2026. Mangkunegaran meresmikan layanan ambulans jenazah dan membuka kembali Perpustakaan Reksa Pustaka...

Maraton 48 Jam: Intip Keseruan Global Game Jam Solo 2026 di Solo Technopark!

Soloevent.id - Global Game Jam Solo 2026 kembali digelar pada 30 Januari hingga 1...

Chef Jane Spill Rahasia “Dubai Chewy Cookies” di Atrium Neo Solo Grand Mall.

Soloevent.id - Neo Solo Grand Mall kembali menggelar acara festival kuliner pada 23 Januari...

More like this

Annisa & Venly Bongkar Tantangan Akting Paling Berat di Film ‘Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?’

Soloevent.id - Gimana sih rasanya kalau diajak meet n greet dan nonton bareng sama...

GUMREGAH! Sinema Akhir Tahun #10 ISI Solo: Seruan Bangkit Lewat Karya, Targetkan Panggung Internasional.

Soloevent.id - Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Program Studi (Prodi) Film Institut Seni...

Dekade Kreativitas: Sinema Akhir Tahun ke-10 ISI Surakarta Rayakan Inovasi Film!

Festival Film Sinema Akhir Tahun #10 resmi dibuka hari ini Rabu (12/11) di Teater...