Dikritik dan Disanjung: Cerita di Balik Film Darah dan Doa

76

Soloevent.id – Mau tahu enggak apa film Indonesia yang dirilis pertama kali? Judulnya Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi. Film yang disutradarai dan diproduseri oleh Usmar Ismail ini dirilis tahun 1950. Ceritanya soal Kapten Soedarto bersama Divisi Sliwangi yang melakukan perjalanan menuju Jawa Barat untuk berperang melawan tentara Belanda yang hendak menjajah Indonesia kembali, pascadeklarasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

Film yang diproduksi oleh PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) ini dibuat dengan bujet Rp350 ribu (saat itu, jika dikurskan ke Dollar nilainya US$90 ribu). Film ini rencananya hendak ditayangkan di Cannes Film Festival. Proses pembuatannya hampir saja berhenti karena adanya masalah keuangan. Namun, setelah mendapat dukungan keuangan dari beberapa pihak, akhirnya proses pembuatannya bisa selesai.

Kapten Soedarto diperankan oleh Del Juzar, pemeran lainnya yaitu Ella Bergen, Faridah, Aedy Muward, Awaluddin Djamin, Rd Ismail, Suzana, Muradi, dan Rosihan Anwar. Kala itu, para pemain direkrut langsung dengan memasang iklan pencarian bakat di surat kabar.

Karena memakai aktor dan aktris yang belum memiliki pengalaman dalam seni peran, ditambah pemakaian efek-efek yang kurang mendukung untuk sebuah film laga, film ini dibanjiri kritikan saat perilisannya. Sang sutradara juga disentil karena tidak bisa memberikan ketegangan perang seperti kenyataannya, serta ekspresi para pemain cenderung datar dan kurang gereget

Selain itu, ada pula elemen yang tidak tergarap dengan baik, yaitu scoring (musik pengiring). Contohnya saat adegan perang, Usmar menghadirkan musik latar march yang sering tidak nyambung dengan suasana yang digambarkan.

Meski bayak kekurangan dari segala lini, Darah dan Doa dianggap sebagai eksperimentasi visual yang cukup perlu mendapatkan apresiasi, sekaligus menjadi tonggak awal perfilman nasional. Di film ini, Usmar berani menggunakan puluhan atau bahkan ratusan pemain pendukung untuk memvisualkan suasana long march. Gambar-gambar long shot barisan para pejuang sewaktu melintasi bukit merupakan salah satu kekuatan visual dalam film ini. Disadari atau tidak, gambar-gambar ini adalah salah satu yang terbaik dari era awal film Indonesia.



Pengambilan gambar Darah dan Doa dimulai pada tanggal 30 Maret 1950, berlokasi di Subang, Jawa Barat. Film ini rilis secara nasional pada tanggal 1 September 1950. Karena beberapa faktor, salah satunya kontroversi dari berbagai pihak, film ini batal masuk Canes Film Festival.

Dari karyanya ini, pemerintahan Orde Baru menggelari Usman sebagai Bapak Film Nasional. Lalu, hari pengambilan gambar film ini ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.