Friday, January 23, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaKarya Masterpiece Sapardi, Hujan Bulan Juni, Difilmkan

Karya Masterpiece Sapardi, Hujan Bulan Juni, Difilmkan

Published on

- Advertisement -spot_img

HUJAN-BULAN-JUNI-01

 

Soloevent.id“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang membuatnya lapuk.”

 

Itulah salah satu penggalan puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang dibacakan oleh salah satu penggemarnya. Pada Rabu (27/9/2017), lantai 1 Gramedia Slamet Riyadi dipenuhi penggemar Sapardi yang akan melakukan meet & greet dan booksigning.

 

Pukul 17.00 WIB, penyair “Hujan Bulan Juni” ini hadir. Dirinya menceritakan bagaima proses diangkatnya “Hujan Bulan Juni” ke layar lebar. Sapardi mengatakan film Hujan Bulan Juni disokong penuh oleh pemerintah Manado serta dibintangi Velove Vexia dan Adipati Dolken.

 

“Kalau filmnya bagus ya berarti novelnya bagus. Kalau filmnya jelek ya berarti salah filmnya, bukan novelnya yang jelek,” kelakarnya.

 

HUJAN-BULAN-JUNI-03

 

Sapardi mengaku tidak terlibat dalam pembuatan film tersebut. Mulai dari isi cerita hingga pemilihan pemain, ia bebaskan pada tim produksi film. Walau Sapardi enggan berkomentar soal film Hujan Bulan Juni, ia menjamin secara fotografi dan scene-nya bakalan bagus karena indahnya pemandangan Kota Manado tertangkap dengan apik.

 

Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai penyair hujan karena beberapa puisinya bertemakan hujan. Lelaki kelahiran Solo, 20 Maret 1940 ini mulai menulis sejak kelas 2 SMA. Total sudah 14 bukunya yang terbit, Melipat Jarak dan Manuskrip Sajak adalah bukunya yang terbaru.

 

Khusus untuk Manuskrip Sajak, Sapardi menceritakan saat beres-beres rumah ia menemukan manuskrip puisi yang dibuat tahun 1957, yang masih ditulis tangan. Pikirnya pada saat itu iadalah sayang jika dibuang, tapi belum tahu mau diapakan.

 

HUJAN-BULAN-JUNI-04

 

Lalu dibantu seniman Indah Tjahjawulan karya tersebut dijadikan buku. Di sini pembaca bisa tahu bagaimana proses kreatif Sapardi menulis, mulai dari menulis dengan tangan, mesin ketik, PC, sampai laptop.

 

“Perbedaanya pas tulis tangan bisa saya coret, dan coretannya masih ada bisa terbaca. Ini jejaknya. Kalau mesin ketik kan tidak ada, jadi kalian bisa tahu ternyata Sapardi dulu tuh cengeng to,” katanya.

 

Di akhir acara ia pun menjanjikan memberi Manuskrip Sajak pada penggemar yang membuat catatan tentang buku-bukunya.

 

 

Teks & foto: Yasinta Rahmawati

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

Vibe Pasar Gede Beda Banget! Solo Di waktu Malam : Spot Nongkrong Klasik yang Lagi Hits

Soloevent.id - Kota Solo emang ada aja gebrakannya yang baru, selain menghadirkan berbagai acara...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Red Lantern Buffet

The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman kuliner tematik melalui Red Lantern Buffet, sebuah...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...