Friday, February 13, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaBerbagi Kepedihan Dan Ketegaran Di Hari Ianfu Internasional

Berbagi Kepedihan Dan Ketegaran Di Hari Ianfu Internasional

Published on

- Advertisement -spot_img

HARI-IANFU-INTERNASIONAL-01

 

Soloevent.id – Setiap 14 Agustus, masyarakat dunia memperingati Hari Ianfu Internasional. Ianfu adalah perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan tentara Jepang semasa perang Asia Pasifik pada 1931-1945.

 

Senin (14/8/2017) malam, Kota Solo ikut memperingati Hari Ianfu Internasional. Acara yang bertema “Potret Kelam Perempuan Jawa” ini diadakan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah. Beragam rangkaian acara disiapkan.

 

Saat memasuki Teater Arena, penonton bisa melihat lukisan-lukisan berjudul “Dokumen Rahim” yang dibuat Dewi Candraningrum. Wajah-wajah para penyintas ianfu yang penuh kesederhanaan dan ketegaran diabadikannya menggunakan cat air.

 

HARI-IANFU-INTERNASIONAL-03

 

Peringatan Hari Ianfu Internasional di Kota Solo kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter “Kisah Sri Sukanti yang Tertinggal di Gedung Papak”. Ivan Meirizio, Becky Karina, dan Eka Hindra sebagai pembuat karya mengajak penonton merasakan kegetiran yang dialami Sri Sukanti, salah seorang penyintas ianfu asal Salatiga.

 

Sri bercerita, saat berusia 9 tahun, tubuhnya dirusak oleh tentara Jepang bernama Ogawa selama empat hari berturut-turut. Akibat dari itu, Sri tidak bisa mempunyai keturunan dan ia hidup dalam trauma serta kesakitan. Bahkan, memori itu kerap singgah di mimpinya.

 

Tak hanya Sri yang mengisahkan kepiluannya, salah satu penyintas, Ngadirah, turut hadir untuk berbagi. Di usianya yang sepuh, ia mencoba berbesar hati terhadap keputusan pemerintah Indonesia apakah akan memperjuangkan mereka atau tidak. “Terima ndak papa, kalau ndak juga ndak papa,” katanya.

 

HARI-IANFU-INTERNASIONAL-04

 

Di akhir sesi diskusi itu, hanya ada dua yang diminta Ngadirah: ketentraman dan kesehatan. “Karena jika terus mengingat itu, saya akan sakit,” ucap dia.

 

Peringatan Hari Ianfu Internasional di Kota Solo ditutup dengan pentas tari “Ianfu” dan “Kamar 11” karya Dwi Surni Cahyaningsih. Dua tarian itu terinspirasi dari buku biografi Mardiyem (salah satu penyintas ianfu) berjudul Momoye: Mereka Memanggilku yang ditulis Eka Hindra dan Koichi Kimura.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Tradisi Pao Oen, Ritual Tolak Bala yang Dilakukan Warga Tionghoa Menjelang Imlek

Soloevent.id - Umat Konghucu Kota Solo menggelar ritual Pao Oen atau tolak bala di...

FIESTIVAL 2026 Digelar Februari – April 2026 Usung Tema “Semarak Resonasi Karya”

Fiesta Radio FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menggelar FIESTIVAL 2026, sebuah agenda tahunan...

Mangkunegaran Meresmikan Layanan Ambulans Jenazah dan Pembukaan Kembali Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran

Surakarta, 5 Februari 2026. Mangkunegaran meresmikan layanan ambulans jenazah dan membuka kembali Perpustakaan Reksa Pustaka...

More like this

Tradisi Pao Oen, Ritual Tolak Bala yang Dilakukan Warga Tionghoa Menjelang Imlek

Soloevent.id - Umat Konghucu Kota Solo menggelar ritual Pao Oen atau tolak bala di...

Mengenal Boga Sambrama: Tradisi Berbagi Jajanan Khas Mangkunegaran Setiap 35 Hari

Soloevent.id - Pura Mangkunegaran menggelar acara Boga Sambrama di Pamedan Pura Mangkunegaran Sabtu (31/1/2026)....

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....