Friday, January 23, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaPit Lempit Yang Membuat Patah Hati

Pit Lempit Yang Membuat Patah Hati

Published on

- Advertisement -spot_img

PIT LIPET YANG MEMBUAT PATAH HATI_

 

Petikan gitar akustik Max Baihaqi mengiringi Hanindawan Sutikno dan Palupi Bawono, saat keduanya membacakan cerkak milik Yessita Dewi dan Indah Darmastuti. Di sesi pertama, Palupi Bawono membacakan karya berjudul ” Pit Lempit ” karya Yessita Dewi.

Karya tulis berbahasa Jawa yang dibuat pada Oktober 2014 itu menceritakan tentang kisah cinta seorang wanita dengan pria idamannya bernama Landi. Mereka berdua merupakan anggota komunitas sepeda. Perawakan Landi yang seorang blasteran, menjadi magnet bagi si wanita untuk menaruh hati padanya.

Namun apa boleh buat, cinta yang dipendamnya itu harus dikubur dalam-dalam saat Landi mengenalkan calon istrinya yang bernama Rukmi. Momen patah hati itu terjadi saat komunitas sepedanya singgah di rumah Landi di daerah Delanggu, usai menghadiri undangan gathering komunitas sepeda di Yogyakarta. “Jane ana rasa ora trima, nanging yo wis. Urip kui soale kaya ban pit sing mlaku,” ucap Palupi dengan nada kecewa.

Tiga cerita lain dibacakan pula oleh Hanindawan dan Palupi. Yaitu “Jenang” karya Yessita Dewi, “Golek Jalaran” dan “Ngalah Karo Simbah” karya Indah Darmastuti. Ya, pembacaan cerita cerkak itu merupakan agenda rutin Bentara Budaya Balai Soedjatmoko yang dikemas dalam Maca Cerkak.

Menurut Hanindawan, karya kedua penulis itu memberikan kesan menyenangkan. Dari segi penulisan pun mereka telah menggunakan bahasa yang komunikatif, plot yang tidak ruwet, blaka suta, ceplas-ceplos, dan sesuai zaman. Sedangkan Palupi mengatakan karya keduanya gampang diterima karena menggunakan bahasa yang lugu. “Kejadian ini ada di lingkungan sekitar, dan cerita-ceritanya pun ‘tragis’,” terang Palupi di sesi diskusi Maca Cerkak, Rabu (20/5/2015) di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Solo.

Sementara Indah Darmastuti mengatakan ada perbedaan antara menulis dengan bercerita lisan. Pun dengan membaca pribadi dan dibacakan orang lain. “Saya ingin agar karya saya dibaca dan diperagakan orang lain. Tulisan yang dibacakan di sini, saya pilih yang paling seger, dan saya rasa cerkak itu tidak rumit,” tuturnya.

Sedangkan Yessita Dewi menambahkan dalam proses pembuatan karya, dia mencuplik dari kejadian sehari-hari, dengan beberapa tambahan adegan yang didramatisasi. “Saat dibacakan orang lain ternyata gregetnya lebih,” ungkapnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

Vibe Pasar Gede Beda Banget! Solo Di waktu Malam : Spot Nongkrong Klasik yang Lagi Hits

Soloevent.id - Kota Solo emang ada aja gebrakannya yang baru, selain menghadirkan berbagai acara...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Red Lantern Buffet

The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman kuliner tematik melalui Red Lantern Buffet, sebuah...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...