Wednesday, September 9, 2026
HomeSeni dan BudayaMengubah Model “Biasa” Menjadi “Tidak Biasa” Ala Retno Tan

Mengubah Model “Biasa” Menjadi “Tidak Biasa” Ala Retno Tan

Published on

- Advertisement -spot_img

 

MENGUBAH MODEL ALA RETNO TAN

Jika biasanya seorang model hanya berlenggak-lenggok di atas catwalk saat memeragakan busana, maka di tangan R.A.F.S. (Retno Tan Arts in Fashion & Sport) “pakem” tersebut bakal diubah. Melalui workshop yang akan digelar pada Sabtu-Rabu (28 Februari – 4 Maret 2015) di lima tempat berbeda (Pendhapa Tamtomo, Kemlayan Art Camp, Balekambang, Studio Adhiwangsa, dan Laboratorium UNS), tujuh model profesional bakal dilatih untuk menjadi seorang peragawan/peragawati yang “spesial”.

Direktur R.A.F.S., Retno Tri Astuti, menerangkan dalam laboraturiumnya itu ada tiga disiplin yang digabungkan: seni, fashion, dan olahraga. Dengan turut mengajak seniman tari dan praktisi kesehatan seperti Boby Ari Setiawan, Bambang Mbesur, dan dr. Didik Gunawan Tamtomo, para peraga itu bakal melahap delapan materi, yaitu koreografi;  anatomy, health, and nutrition; conditioning; martial art, out door activity; yoga; words, sound, and technique; serta beauty class.

“Ini adalah program pertama R.A.F.S. Di sini para model akan kami coba tingkatkan self awareness-nya. Tubuh sangat penting bagi seorang model. Saat kami beri porsi latihan ala atlet dan penari, mereka bakal tahu cara mengenakan rancangan baju sesuai kebutuhan,” jelas Retno saat berbincang dengan wartawan, Jumat (27/2/2015) di Pendhapa Tamtomo, Banjarsari, Solo.

Wanita yang tahun lalu membuat pertunjukan tari kontemporer bertajuk Solo, Duo, Trio, Quarto ini, berharap dari materi-materi yang diberikan dapat menunjang performa para model saat menampilkan karya-karyanya di panggung Jogja Fashion Festival 2015, 6 Maret di Plaza Ambarukmo, Yogyakarta.

Menggunakan bahan-bahan bekas dan plastik, tujuh rancangan busana Retno akan berbicara tentang isu pencemaran lingkungan. “Koleksi ini merupakan teriakan saya tentang pencemaran lingkungan. Mereka saya kumpulkan untuk menunjukkan isu tersebut. Saya membutuhkan detail tubuh mereka,” ungkapnya.

Agar karyanya lebih bisa berbicara, Retno membungkus pertunjukannya dengan konsep performing art. “Isu tersebut tidak cukup jika hanya dituangkan dengan berjalan di atas catwalk. Ada nilai beauty, spirit, and body yang ingin saya tampilkan” tambahnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Kemeriahan Festival Payung Indonesia ke-13 di Taman Balekambang.

Soloevent.id - Festival Payung Indonesia (FESPIN) kembali digelar pada Jumat-Minggu (4-6/9/2026) di Taman Balekambang...

Kemeriahan Konser Harmony Manikam Nusantara di Ndalem Ndjojokoesoeman

Soloevent.id - Konser orkestra "Harmony Manikam Nusantara" bersama Svara Dhananjaya Music Orchestra sukses digelar...

Satu Dekade Dayskomvis! Intip Pameran Desain ‘Interplay Visual Noise’ di Gedung Djoeang 45

Soloevent.id - Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual (DKV) telah sukses menggelar acara Dayskomvis...

More like this

Kemeriahan Festival Payung Indonesia ke-13 di Taman Balekambang.

Soloevent.id - Festival Payung Indonesia (FESPIN) kembali digelar pada Jumat-Minggu (4-6/9/2026) di Taman Balekambang...

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

Eksplorasi Peran Perempuan Keraton: Retno Sulistyorini Pentaskan KEPUTREN di TBJT

Soloevent.id - Retno Sulistyorini sukses menampilkan karya terbarunya yang berjudul KEPUTREN di Teater Arena...