Tuesday, May 19, 2026
HomeSeni dan BudayaMalam Selikuran, Tradisi Rutin Keraton Surakarta Sambut Lailatul Qadar

Malam Selikuran, Tradisi Rutin Keraton Surakarta Sambut Lailatul Qadar

Published on

- Advertisement -spot_img

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar acara kirab dan hadrah malam selikuran, Kamis malam (20/3/2025). Acara rutin ini selalu digelar untuk menyambut malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan. Acara dimulai dengan kirab yang diikuti Raja Keraton Solo PB XIII dan keluarganya serta para abdi dalem dari Pagelaran Keraton berjalan menuju Taman Sriwedari.

Para peserta kirab membawa lampu ting, obor, jodang nasi tumpeng berkat dan lampion warna-warni. Lampion tersebut dibuat menyerupai simbol-simbol agama Islam. Selama perjalanan, lantunan sholawat diiringi musik hadrah menambah kekhidmatan.

Setelah sampai di Taman Sriwedari rombongan kirab Malam Selikuran disambut oleh Wali Kota Solo Respati Ardi. Kemudian nasi tumpeng berkat dibagikan oleh warga datang. Acara dilanjutkan dengan pengajian yang diisi oleh pengasuh Pondok Pesantren Minggir, Sleman, KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq.

Selain itu, acara juga dimeriahkan dengan penampilan grup hadrah dari beberapa kelurahan di Kota Solo seperti Hadrah Merah Putih (Kelurahan Sangkrah), Hadrah Alcindi (Kelurahan Kedung Lumbu), Hadrah Ayam Tentrem (Kelurahan Semanggi), Hadrah Al Qallby (Kelurahan Mojo), Hadrah Al Fatih (Kelurahan Joyosuran), Hadrah Al Mustaqim (Kelurahan Pasar Kliwon), Hadrah Kahoirul Ummah (Kelurahan Baluwarti), Hadrah Al Fil (Kelurahan Gajahan), Hadrah Ahbaabunnabi (Kelurahan Kauman), Hadrah Al Jawahir (Kelurahan Sondakan), Hadrah Ashabul Kharim (Kelurahan Purwosari) Dan Hadrah Arba’ina Wa (Kelurahan Jajar).

Kirab Malam Selikuran adalah tradisi yang dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk menyambut malam ke-21 bulan Ramadan, yang diyakini sebagai awal dari datangnya malam Lailatul Qadar.

Bagi umat Islam, Lailatul Qadar adalah momen yang dinantikan saat berpuasa karena disebut lebih mulia dari seribu bulan yang jatuh pada malam-malam ganjil di 20 hari terakhir bulan Ramadan.

Dikutip dari laman kratonsurakarta.com, sejarah munculnya tradisi Malem Selikuran pada mulanya dicetuskan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Namun tradisi ini sempat mengalami pasang surut dan mulai dikembangkan lagi pada era Paku Buwono (PB) IX. Selanjutnya pada era PB X, Malam Selikuran diselenggarakan dengan kirab, iring-iringan dari Keraton Solo menuju Masjid Agung, lantas diteruskan menuju lapangan Sriwedari pada 1982.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Meski Balon Udara Gagal Terbang, Warga Tetap Padati Alun-Alun Utara Solo

Soloevent.id - Belasan balon udara yang disiapkan manajemen Bank Jateng Syariah Cabang Solo dalam...

Dari Kuliner Viral sampai Guyon Waton, Ini Keseruan Uleg Bazar Kuliner 2026 di Mangkunegaran

Soloevent.id - Uleg Bazar Kuliner (UBK) 2026 digelar pada 14 hingga 17 Mei 2026...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

More like this

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

Semarak Budaya Indonesia 2026 Kembali Hadir di Solo Bawa Semangat “Swarna Bumi Bahari”

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 sebagai agenda tahunan Kota Surakarta kembali digelar...

26 Delegasi Dari 23 Daerah Siap Meriahkan Event Semarak Budaya Indonesia 2026

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 kembali menghadirkan perhelatan budaya yang mempersatukan keberagaman...