Soloevent.id – Puncak perayaan imlek di Kota Solo digelar dengan panggung hiburan semarak heritage in harmony di kawasan Pasar Gedhe Solo, Senin malam (16/2/2026). Kemeriahan semakin terasa karena banyak penampil yang menghibur malam itu. Mulai dari penampilan Kesenian Danirmala, Kesenian Sanggar Wung Ayu, DJ Anggara Music Ethnic, Owah Geer Band, D’Diamondz Band, Lavora hingga Himawan Diamond feat Silvy Kumalasari dan Diandra Ayu.
Ada dua panggung hiburan yang telah disiapkan, panggung utama berada di depan Pasar Gedhe Solo sementara panggung kecil berada di Pendhapa Balaikota Solo. Ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Joglo Solo yang menghibur dengan perkusi musik tradisional angklung dan gamelan membawakan lagu deling laras kusumo.
Di panggung utama tampil Owah Geer Band bersama Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani tampil menghibur dan memeriahkan acara. Semakin malam, suasana semakin ramai karena banyaknya warga yang sudah memadati kawasan depan Pasar Gede hingga depan halaman Balai Kota Solo.
Selain menikmati panggung hiburan musik, mereka juga menikmati suasana ribuan lampion yang dipasang di depan Pasar Gede, berkulineran khas Imlek hingga mencoba naik perahu wisata hias menyusuri sungai Kali Pepe.

Salah satu warga asal Surabaya, Angga yang datang hanya ingin menikmati suasana Imlek di Pasar Gedhe Solo. “Ini kan sudah ramai di media sosial, saya tuh penasaran saja pengen kesini mau lihat kayak gimana soalnya baru pertama kesini juga ya. Mumpung di Solo sekalian saja, ternyata ramai banget sampe susah jalannya tadi,” ujarnya kepada soloevent.
Panggung Semarak Heritage in Harmony menjadi rangkaian acara penutup grebeg sudiro 2026. Sebelumnya telah digelar beberapa acara seperti Umbul Mantram pada 5 Februari 2026, berupa ritual doa syukur yang diadakan di Kelurahan Sudiroprajan, Festival Kuliner Ketandan dan Kirab Budaya Grebeg Sudiro 2026.
Event Grebeg Sudiro adalah tradisi Imlek bernuansa Jawa yang tumbuh di Kampung Sudiroprajan, Surakarta, sebagai simbol akulturasi Jawa–Tionghoa. Digelar resmi sejak 2007, terinspirasi tradisi lama era Pakubuwono X, dengan dukungan tokoh seperti Oei Beng Kie. Ikonnya gunungan dan kue keranjang, barongsai, serta lampion di Pasar Gede, menjadi simbol harmoni dan daya tarik wisata Solo.





