Soloevent.id – Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan di Pendapa Ageng GPH Djoyokusomo, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Senin (15/12) lalu. Mereka tampil dalam konser “Gamelan Adi Kaloka” yang menyajikan sebuah konsep kuratorial unik, yang menonjolkan kontras dan
harmonisasi.
Konser ini menampilkan tujuh karakter etnik gamelan dalam satu panggung, mempertemukan tradisi keraton yang agung dengan tradisi rakyat yang dinamis. Ketujuh jenis gamelan yang ditampilkan meliputi; Gamelan Jawa Surakarta, Gamelan Jawa Yogyakarta, Gamelan Pakurmatan (Sekaten/Monggang/Kodhok Ngorek), Gamelan Cirebon, Gamelan Calung Banyumas, Gamelan Banyuwangi dan Gamelan Gong Kebyar Bali.

Konser ini digelar dengan tujuan untuk merawat, melestarikan dan memperkuat ekosistem gamelan Indonesia pasca penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Sekaligus menjadi momentum untuk menggerakkan upaya-upaya kolaborasi budaya nasional dalam pelestarian gamelan yang adaptif, inklusif, berkelanjutan untuk menjembatani tradisi dan inovasi, lokal serta global di masa depan. Acara ini juga diharapkan menumbuhkan rasa bangga serta tanggung jawab generasi muda dalam menjaga gamelan sebagai warisan budaya dunia.
Penyelenggaraan konser “Gamelan Adi Kaloka” menandai dilantiknya sejumlah seniman menjadi Pengurus SGI (Sekretariat Gamelan Indonesia) periode tahun 2025-2030 sekaligus penetapan kota Surakarta sebagai lokasi SGI, oleh Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia. Para Pengurus SGI terdiri dari para pakar dan praktisi, yang salah satunya yaitu Ki Mulyono Purwo Wijoyo yang terpilih sebagai Ketua Umum.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Bondet Wrahatnala mengatakan bahwa penetapan Surakarta sebagai lokasi SGI adalah sebuah simbol kepercayaan dan tanggung jawab. Kampus ISI Surakarta sudah lama menjadi sarana pelestarian dan penggalian seni tradisi khususnya gamelan. Dengan adanya SGI diharapkan semakin terbuka berbagai ruang berkesenian dan potensi pementasan. Membangun komunitas interaktif, menjembatani kesenjangan generasi. “Kita berada pada posisi strategis dalam peta seni gamelan di dunia. Dengan adanya Sekretariat Gamelan Indonesia kita memiliki mesin penggerak yang lebih formal, terstruktur di tingkat nasional,” ujarnya saat memberikan sambutan.





