Wednesday, October 21, 2026
HomeSeni dan BudayaBerbagi Kepedihan Dan Ketegaran Di Hari Ianfu Internasional

Berbagi Kepedihan Dan Ketegaran Di Hari Ianfu Internasional

Published on

- Advertisement -spot_img

HARI-IANFU-INTERNASIONAL-01

 

Soloevent.id – Setiap 14 Agustus, masyarakat dunia memperingati Hari Ianfu Internasional. Ianfu adalah perempuan-perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan tentara Jepang semasa perang Asia Pasifik pada 1931-1945.

 

Senin (14/8/2017) malam, Kota Solo ikut memperingati Hari Ianfu Internasional. Acara yang bertema “Potret Kelam Perempuan Jawa” ini diadakan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah. Beragam rangkaian acara disiapkan.

 

Saat memasuki Teater Arena, penonton bisa melihat lukisan-lukisan berjudul “Dokumen Rahim” yang dibuat Dewi Candraningrum. Wajah-wajah para penyintas ianfu yang penuh kesederhanaan dan ketegaran diabadikannya menggunakan cat air.

 

HARI-IANFU-INTERNASIONAL-03

 

Peringatan Hari Ianfu Internasional di Kota Solo kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter “Kisah Sri Sukanti yang Tertinggal di Gedung Papak”. Ivan Meirizio, Becky Karina, dan Eka Hindra sebagai pembuat karya mengajak penonton merasakan kegetiran yang dialami Sri Sukanti, salah seorang penyintas ianfu asal Salatiga.

 

Sri bercerita, saat berusia 9 tahun, tubuhnya dirusak oleh tentara Jepang bernama Ogawa selama empat hari berturut-turut. Akibat dari itu, Sri tidak bisa mempunyai keturunan dan ia hidup dalam trauma serta kesakitan. Bahkan, memori itu kerap singgah di mimpinya.

 

Tak hanya Sri yang mengisahkan kepiluannya, salah satu penyintas, Ngadirah, turut hadir untuk berbagi. Di usianya yang sepuh, ia mencoba berbesar hati terhadap keputusan pemerintah Indonesia apakah akan memperjuangkan mereka atau tidak. “Terima ndak papa, kalau ndak juga ndak papa,” katanya.

 

HARI-IANFU-INTERNASIONAL-04

 

Di akhir sesi diskusi itu, hanya ada dua yang diminta Ngadirah: ketentraman dan kesehatan. “Karena jika terus mengingat itu, saya akan sakit,” ucap dia.

 

Peringatan Hari Ianfu Internasional di Kota Solo ditutup dengan pentas tari “Ianfu” dan “Kamar 11” karya Dwi Surni Cahyaningsih. Dua tarian itu terinspirasi dari buku biografi Mardiyem (salah satu penyintas ianfu) berjudul Momoye: Mereka Memanggilku yang ditulis Eka Hindra dan Koichi Kimura.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

More like this

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...