Thursday, September 17, 2026
HomeSeni dan BudayaTentacle Iain Surakarta Mainkan Visual Drama 1001 Malam, Shehrazat

Tentacle Iain Surakarta Mainkan Visual Drama 1001 Malam, Shehrazat

Published on

- Advertisement -spot_img

TENTACLE IAIN SURAKARTA MAINKAN VISUAL DRAMA 1001 MALAM, SHEHRAZAT

Siapa yang tak kenal Shehrazat? Cerita tentang 1001 malam bergenre Arabian ini dimainkan oleh Tentacle IAIN Surakarta, Senin (14/3). Dengan konsep visual drama, Shehrazat menjadi cerita arab pertama berdurasi satu jam yang dimainkan oleh Tentacle,  di Gedung D, IAIN Surakarta.

Malam itu, Tentacle sengaja mengkonsep dua panggung dalam satu pertunjukan. Berawal dari Shehdunya dan Shehrazat yang keduanya adalah kakak beradik yang bercerita tentang sebuah dongeng kepada sang raja. Dongeng tersebut ialah Aladin yang menginginkan seorang putri kerajaan yang mana putri tersebut ialah kekasih temannya sendiri, Fajr.

Iri hati, Aladin ingin merasakan kehidupan Fajr yang menurutnya sangatlah beruntung. Hal tak lazim pun ia lakukan. Dengan memakai lampu ajaib yang mana di dalamnya ada jin pengabul permintaan, Aladin memohonkan untuk bertukar jiwa dengan Fajr. Setelah bertukar jiwa, Aladin mampu merasakan dunia Fajr yang selama ini ia impikan. Namun tak disangka, kehidupan Fajr tak semulus yang diperkirakan.  Fajr memiliki musuh bernama Magister yang hendak membunuhnya. Aladin yang berjiwa Fajr sontak tak pernah menduga ia akan menjadi buronan Magister. Namun di akhir cerita, Fajr yang berjiwa Aladin menyelamatkan Aladin dari serangan Magister. Yang akhirnya, Fajr mati ditangan Magister. Sang putri yang diimpikan oleh Aladin pun tak berhasil ia dapatkan meski telah bertukar jiwa dengan Fajr.

Drama yang disutradari oleh Eisha Jamilla dan Amin Fitrianingsih ini memberikan sebuah moral value, bahwa apa yang kita inginkan tak selalu bisa kita dapatkan. Aladin yang sadar bahwa kehidupan Fajr tak seenak yang ia fikirkan, menyampaikan pesan bahwa “rumput tetangga tak selalu lebih hijau.” Dua panggung yang mereka tata dengan penonton ditengahnya menggambarkan dua sisi kehidupan yang sulit untuk dipersatukan.

“Membayangkan antara sisi moon dan sun. Moon artinya kebahagiaan , sedangakan sun kesedihan. Jalan ditengahnya (path penonton)  menggamabarkin sisi yang tidak bisa bersatu. Namun bila ada yang menginginkannya, harus ada proses dan tidak instan (seperti yang dilakukan Aladin),” ujar kedua sutradara tersebut.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

More like this

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...