Friday, January 23, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaRed Batik Pilih Kain Jumputan Klasik Di Solo Karnaval 2016

Red Batik Pilih Kain Jumputan Klasik Di Solo Karnaval 2016

Published on

- Advertisement -spot_img

RED BATIK PILIH KAIN JUMPUTAN KLASIK DI SOLO KARNAVAL 2016

Tembang “Prau Layar” mengalun dari Jl. Slamet Riyadi, Solo. Lagu ciptaan Ki Narto Sabdo itu dimainkan di Solo Karnaval 2016, Minggu (21/2/2016) menggunakan alat musik calung dan sejumlah perkusi. Solo Karnaval adalah acara tahunan yang digelar untuk menyemarakkan hari jadi Kota Solo. 50-an personel Red Batik Solo Community berlenggak-lenggok mengikuti irama tembang tersebut.

Red Batik Solo Community adalah salah satu dari 28 kelompok yang turut menyemarakkan gelaran Solo Karnaval 2016. Sepanjang Loji Gandrung hingga Jl. Jenderal Sudirman, para peserta menampilkan street performance. Penonton yang memadati area karnaval tak hanya dihibur dengan tarian jalanan. Mereka juga disuguhi eksplorasi kostum yang terbuat dari kain batik.

Mengangkat tema “Batik is My Life”, Solo Karnaval ingin menghadirkan nuansa karnaval yang beda dari karnaval-karnaval lainnya. Di edisi ini, peserta diwajibkan menggabungkan kreasi kain batik dengan atraksi jalanan.

Pimpinan Produksi Solo Karnaval 2016, Fafa Utami, menyebutkan, diangkatnya batik sebagai ikon di event ini bukan jadi kelatahan ataupun hal klise. “Ini telah didasari pada riset, bahwa batik sangat berpengaruh ke seni pertunjukan,” ungkapnya. Fafa menambahkan, motif kain batik yang dipakai, disesuaikan dengan konsep pertunjukan masing-masing kelompok.

Beragamnya kain batik yang dikenakan para peserta Solo Karnaval, lanjut Fafa, dimungkinkan jadi sarana edukasi bagi masyarakat. “Motif batik yang ditampilkan di event ini berasal dari seluruh Indonesia. Ada lasem, jumputan, Pekalongan, dan lainnya,” jelas dia.

Direktur Artistik Red Batik Solo Community, Bambang Besur, menjelaskan, di Solo Karnval 2016, komunitasnya memakai kain batik jumputan klasik. Warnanya yang cerah jadi alasan pemilihannya. “Untuk menunjang konsep artistik, kami mengombinasikan kain batik jumputan dengan kutu baru dan kebaya,” urainya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

Vibe Pasar Gede Beda Banget! Solo Di waktu Malam : Spot Nongkrong Klasik yang Lagi Hits

Soloevent.id - Kota Solo emang ada aja gebrakannya yang baru, selain menghadirkan berbagai acara...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Red Lantern Buffet

The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman kuliner tematik melalui Red Lantern Buffet, sebuah...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...