Wednesday, September 30, 2026
HomeSeni dan BudayaMengubah Model “Biasa” Menjadi “Tidak Biasa” Ala Retno Tan

Mengubah Model “Biasa” Menjadi “Tidak Biasa” Ala Retno Tan

Published on

- Advertisement -spot_img

 

MENGUBAH MODEL ALA RETNO TAN

Jika biasanya seorang model hanya berlenggak-lenggok di atas catwalk saat memeragakan busana, maka di tangan R.A.F.S. (Retno Tan Arts in Fashion & Sport) “pakem” tersebut bakal diubah. Melalui workshop yang akan digelar pada Sabtu-Rabu (28 Februari – 4 Maret 2015) di lima tempat berbeda (Pendhapa Tamtomo, Kemlayan Art Camp, Balekambang, Studio Adhiwangsa, dan Laboratorium UNS), tujuh model profesional bakal dilatih untuk menjadi seorang peragawan/peragawati yang “spesial”.

Direktur R.A.F.S., Retno Tri Astuti, menerangkan dalam laboraturiumnya itu ada tiga disiplin yang digabungkan: seni, fashion, dan olahraga. Dengan turut mengajak seniman tari dan praktisi kesehatan seperti Boby Ari Setiawan, Bambang Mbesur, dan dr. Didik Gunawan Tamtomo, para peraga itu bakal melahap delapan materi, yaitu koreografi;  anatomy, health, and nutrition; conditioning; martial art, out door activity; yoga; words, sound, and technique; serta beauty class.

“Ini adalah program pertama R.A.F.S. Di sini para model akan kami coba tingkatkan self awareness-nya. Tubuh sangat penting bagi seorang model. Saat kami beri porsi latihan ala atlet dan penari, mereka bakal tahu cara mengenakan rancangan baju sesuai kebutuhan,” jelas Retno saat berbincang dengan wartawan, Jumat (27/2/2015) di Pendhapa Tamtomo, Banjarsari, Solo.

Wanita yang tahun lalu membuat pertunjukan tari kontemporer bertajuk Solo, Duo, Trio, Quarto ini, berharap dari materi-materi yang diberikan dapat menunjang performa para model saat menampilkan karya-karyanya di panggung Jogja Fashion Festival 2015, 6 Maret di Plaza Ambarukmo, Yogyakarta.

Menggunakan bahan-bahan bekas dan plastik, tujuh rancangan busana Retno akan berbicara tentang isu pencemaran lingkungan. “Koleksi ini merupakan teriakan saya tentang pencemaran lingkungan. Mereka saya kumpulkan untuk menunjukkan isu tersebut. Saya membutuhkan detail tubuh mereka,” ungkapnya.

Agar karyanya lebih bisa berbicara, Retno membungkus pertunjukannya dengan konsep performing art. “Isu tersebut tidak cukup jika hanya dituangkan dengan berjalan di atas catwalk. Ada nilai beauty, spirit, and body yang ingin saya tampilkan” tambahnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Gerakan Solusi Indonesia Gelar Event GSI Youth di Kota Solo, November mendatang.

Soloevent.id - Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, gagasan, dan kemampuan untuk...

Gowes 30K Jelajah Sejarah! Intip Kemeriahan Solo Diversity Bike 2026

Soloevent.id - PT Viva Vastenburg Fortress bersama Pemerintah Kota Surakarta menggelar acara Solo Diversity...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

More like this

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...