Tuesday, September 15, 2026
HomeMusik‘Ritual’ Rock In Solo Berlanjut

‘Ritual’ Rock In Solo Berlanjut

Published on

- Advertisement -spot_img

‘RITUAL’ ROCK IN SOLO BERLANJUT-post

Siang itu, Firman “Bolie” Prasetyo menerangkan, ada suatu momen ketika ia dan rekan-rekannya dari Down For Life, ngobrol bersama personil Superman Is Dead, Navicula, dan beberapa scenester Bali, di sebuah kafe di Kuta. Dalam perbincangan itu, sempat terucap keirian pegiat skena Pulau Dewata terhadap Solo. “Gila ya, kota sekecil Solo, bisa punya acara segede Rock In Solo,” ucap Bolie menirukan salah satu omongan.

Tidak bisa dipungkiri, kota berpenduduk kurang lebih 563.659 jiwa ini, telah masuk ke dalam percaturan metal dunia, dengan menggelar hajatan bertaraf internasional yang mendatangkan band-band luar negeri. Tidak hanya nama-nama beken mancanegara saja yang diundang, musisi domestik pun turut diajak untuk menghentak pergelaran tahunan bernama Rock In Solo (RIS).

Dalam sesi bincang-bincang santai “Merayakan Satu Dekade yang Penuh dengan Pembangkangan” di Ruang Seminar FISIP UNS, Selasa (30/9/2014), Bolie mengutip pernyataan salah satu penggagas Hammersonic Festival, sebuah event metal besar di Tanah Air. Ia berkata bahwa, “Hammersonic ada karena Rock In Solo.”

Dalam sesi obrolan yang diprakarsai oleh Komunitas Musik FISIP (KMF) itu, para pembicara menguraikan bahwa RIS yang bermula dari acara musik, seiring berkembangnya usia telah menjadi entitas baru di Kota Bengawan.  “Jika berbicara Solo, tidak hanya keraton, nasi liwet, batik, tapi ada juga RIS di sana,” terang Bolie selaku Dewan Jenderal Divisi Media dan Propaganda. Ini tak lepas dari banyaknya metalheads dari seluruh penjuru Indonesia yang hadir di gelaran tahunan itu, sehingga nama RIS telah termahsyur di segala pelosok negeri.

Beragamnya karakteristik metalheads yang hadir, menyebabkan event yang bakal diselenggarakan pada 11 Oktober 2014 mendatang ini, menurut Adia Prabowo selaku MC RIS 2014, telah menyebabkan perhelatan tersebut berkembang dari bersenang-senang menjadi “ritual”. Mereka semua berkumpul, menikmati musik kesukaan, headbang, moshing, tanpa mempertimbangkan identitas agama dan kesukuan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

SIPA 2026 Tegaskan Posisi sebagai Festival Seni Internasional melalui Semangat “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”

SURAKARTA – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menggelar jumpa pers di...

More like this

Kemeriahan Konser Harmony Manikam Nusantara di Ndalem Ndjojokoesoeman

Soloevent.id - Konser orkestra "Harmony Manikam Nusantara" bersama Svara Dhananjaya Music Orchestra sukses digelar...

Penutupan PKKMB UNS 2026 Pecah! Raim Laode Sukses Hibur Ribuan Maba di Semar Night Festival

Soloevent.id - Penyanyi dan komedian Raim Laode turut hadir memeriahkan Semar Night Festival 2026...

Pecah Maksimal! Trio Macan, Denny Caknan hingga NDX AKA Sukses Goyang De Tjolomadoe.

Soloevent.id - Ribuan orang joget bareng di konser FYP (FestivalnYa Pedangdut) di De Tjolomadoe,...