Friday, January 23, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaRama Dan Sinta: Ketika Kesetiaan Dipertanyakan

Rama Dan Sinta: Ketika Kesetiaan Dipertanyakan

Published on

- Advertisement -spot_img

SINTA-OBONG-KETIKA-KESETIAAN-DIPERTANYAKAN

Malam itu, Jumat, 8 Agustus 2014, penonton nampak memenuhi panggung terbuka Taman Balekambang. Solo. Angin semilir, langit yang tidak terlalu cerah –dan sempat gerimis kecil sesaat (dalam Bahasa Jawa disebut tletik), tidak menyurutkan semangat para penonton untuk beranjak dari tempat duduknya.

Setelah menggelar Bakdan Ing Balekambang, taman kota sekaligus salah satu kantong seni kota ini , kembali memberikan persembahan bagi para warga Solo dan sekitarnya. Persembahan itu bernama Sendratari Remayana. Acara reguler Taman Balekambang tersebut, pada Jumat lalu menghadirkan kisah “Sinta Obong”, yang ditampilkan oleh Sanggar Sana Puspa Budaya.

Pementasan tersebut menceritakan tentang perjalanan asmara antara Rama dan Sinta. Bukti kesetiaan dan rasa percaya antar kedua tokoh itu diuji. Sinta tidak lagi di tangan Rama, ia diculik oleh Rahwana. Perjalanan untuk mendapatkannya kembali, menemui banyak rintangan. Peperangan terus berkecamuk antara Rama yang dibantu prajurit kera, melawan pasukan Alengka.

Setiap kemenangan berpihak pada kebenaran dan kebaikan, maka begitu pulalah yang terjadi dalam fragmen ini. Rama berhasil menumbangkan Rahwana, tapi itu bukanlah akhir cerita. Walaupun menang, ada pergolakan dalam hati Rama. Ia menyangsikan kesucian Sinta yang telah ia dapatkan kembali dari tangan Rahwana. Menurutnya, selama Sinta disekap oleh Rahwana, ia melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap sang kekasih.

Maka untuk membuktikan bahwa ia masih suci, serta sebagai bentuk kesetiaannya kepada Rama, Sinta memutuskan untuk pati obong. Sinta menepati janjinya. Singkat cerita ia memasukkan tubuhnya ke dalam kobaran api. Api melumat tubuhnya. Justru pada kobaran api itulah keajiban terjadi. Sinta ternyata berhasil selamat dari kobaran api berkat pertolongan Dewa Brahma. Dan ini menandakan bahwa omongan Sinta benar.

Ditemui tim Soloevent pasca pementasan, Darmadi selaku Ketua Sanggar Seni Puspa Budaya, menerangkan bahwa pementasan tersebut dimeriahkan oleh lebih kurang 50 orang untuk penari, dan 15 orang untuk pengrawit. Menurutnya, proses mereka terbilang singkat. “Tanggal 4 setelah Lebaran, kami baru mulai proses. Jadinya ya seperti itu tadi. Tapi saya tidak mencari kualitas. Biar anak-anak ini mampu karena semangat mereka luar biasa,” jelasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

Vibe Pasar Gede Beda Banget! Solo Di waktu Malam : Spot Nongkrong Klasik yang Lagi Hits

Soloevent.id - Kota Solo emang ada aja gebrakannya yang baru, selain menghadirkan berbagai acara...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Red Lantern Buffet

The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman kuliner tematik melalui Red Lantern Buffet, sebuah...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...