Friday, January 23, 2026
spot_img
HomeFilmFilm Indie Karya Mahasiswa Solo Masuk Bioskop Lagi

Film Indie Karya Mahasiswa Solo Masuk Bioskop Lagi

Published on

- Advertisement -spot_img

FILM INDIE KARYA MAHASISWA SOLO MASUK BIOSKOP LAGI 2

Film indie akhirnya masuk bioskop lagi! Yap, dua film garapan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta diputar di Platinum Cineplex Hartono Mall, Solobaru, Sukoharjo, Kamis (28/1/2016). Film berjudul  Desak Terdesak dan Lelana itu merupakan karya tugas akhir Program Magister minat studi Penciptaan Seni ISI Surakarta.

Kedua film ini punya benang merah sama, yaitu mengemas karyanya dengan penonjolan nilai lokalitas. Desak Terdesak arahan Gde Basuyoga Prabawita tayang pertama. Ber-setting di Bali, film Made Tegeh Okta Wahyu Mahery, Ni Nyoman Wiwik Hartati, A.A Ketut Oka Adnyana, dan lain-lain ini menampilkan pergolakan di dalam rumah tangga Desak dan Putu.

Konflik tersebut hanyalah fenomena gunung es. Lebih dari itu, Desak ternyata juga mempunyai hubungan yang kurang baik dengan ayahnya. Pernikahan beda kasta antara Desak dan Putu-lah yang jadi penyebabnya.

“Film ini diambil dari kisah nyata yang ada di Bali. Konflik keyakinan yang dianut masyarakat Bali, dijadikan alat untuk mempertajam konflik,” terang sang sutradara, saat mempresentasikan karyanya kepada dosen dan penonton, sebelum pemutaran.

Film garapan Arie Surastyo, Lelana, dibuat semi absurd. Karya ini terinspirasi dari kedekatan petani dan Babinsa (Badan Pembina Desa) yang bekerjasama menanggulangi hama. Cerita kemudian berfokus pada kehidupan keluarga si petani dan Babinsa.

FILM INDIE KARYA MAHASISWA SOLO MASUK BIOSKOP LAGI 2

Marketing Executive Platinum Cineplex Hartono Mall, Danang Prabowo, mengatakan, pemutaran di bioskopnya merupakan bentuk apresiasi kepada para filmmaker indie. “Kami memfasilitasi mereka, takutnya jika tidak terputar secara baik. Makanya kedua film dibikin satu show dengan lingkup yang lebih gede yaitu bioskop,” tuturnya.

Diputar di bioskop, mau tak mau film harus disesuaikan dengan standar bioskop. “Kami memakai DCP [Digital Cinema Package], sehingga filmmaker harus menyesuaikannya,” terang dia. Danang menambahkan, filmmaker dan timnya juga harus memikirkan berapa lama filmnya diputar, bagaimana cara promosinya, serta jaminan penonton seberapa banyak. “Dari situ aku berharap, ketika mereka terjun di industri yang lebih gede, mereka tidak kaget,” jelasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

Vibe Pasar Gede Beda Banget! Solo Di waktu Malam : Spot Nongkrong Klasik yang Lagi Hits

Soloevent.id - Kota Solo emang ada aja gebrakannya yang baru, selain menghadirkan berbagai acara...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Red Lantern Buffet

The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman kuliner tematik melalui Red Lantern Buffet, sebuah...

More like this

GUMREGAH! Sinema Akhir Tahun #10 ISI Solo: Seruan Bangkit Lewat Karya, Targetkan Panggung Internasional.

Soloevent.id - Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Program Studi (Prodi) Film Institut Seni...

Dekade Kreativitas: Sinema Akhir Tahun ke-10 ISI Surakarta Rayakan Inovasi Film!

Festival Film Sinema Akhir Tahun #10 resmi dibuka hari ini Rabu (12/11) di Teater...

Solo Film Festival 2025, Putar Film Pendek Drama Kehidupan Berbalut Komedi

Soloevent.id - Sebuah festival film pendek diselenggarakan di Kota Solo dengan nama Solo Film...