Wednesday, February 11, 2026
spot_img
HomeLainnyaFilosofi Jenang Procot

Filosofi Jenang Procot

Published on

- Advertisement -spot_img

jenang

Soloevent.id – Pernah mendengar atau mencicipi Jenang Procot atau Jenang Grawul? Keduanya adalah jenang tradisional khas Solo. Mungkin bagi generasi muda di era milenial ini, nama-nama tersebut terdengar asing.

Untuk mengenalkan lagi ke masyarakat – khusunya anak muda, jenang-jenang itu disajikan dalam Festival Jenang Solo 2017 yang diadakan di koridor Ngarsopuro, Jumat (17/2/2017). Ada 17 jenang tradisional khas Solo yang disuguhkan dalam event ini.

Soloevent sempat mencoba beberapa jenang yang dimasak oleh ibu-ibu PKK. Salah satunya yakni jenang bikinan ibu-ibu PKK RW 2 Kelurahan Pucangsawit, yang menyediakan Jenang Procot dan Jenang Grawul. Soloevent disambut oleh Ketua PKK RW 2 Kelurahan Pucangsawit, Retno Untari.

Retno menjelaskan, Jenang Procot dimasak dari tepung beras. Sedangkan untuk juruh atau kuahnya menggunakan santan yang dicampur gula jawa cair. Cara penyajiannya, jenang dituangkan dalam takir kemudiah diguyuri juruh. Di tahap akhir, jenang diberi potongan pisang raja.

Bagian akhir inilah yang unik karena pisang tidak ditaruh begitu saja di atas jenang, melainkan diperosotkan dari daun pisang yang dibentuk menyerupai tabung. “Bentuk ini menyimbolkan jarik yang dipakai kaum wanita saat akan melahirkan anak. Kalau pisang raja menandakan kelahiran bayi,” terang Retno.

Menurut Retno, Jenang Procot dibuat supaya memudahkan proses persalinan. Penganan ini biasanya dihidangkan saat usia kehamilan mencapai 9 bulan 10 hari. “Diharapkan sesudah mengonsumsi Jenang Procot, bayi lahir selamat dengan proses dan dalam kondisi normal,” terangnya.

PKK RW 2 Kelurahan Pucangsawit juga memasak Jenang Grawul. Berbeda dengan Jenang Procot yang lembut, tekstur Jenang Grawul agak kasar. “Ya memang [teksturnya] dibikin kasar karena itu menyimbolkan gigi bayi. Jenang ini dibuat supaya bayi cepat tumbuh gigi,” ujar Retno.

Ketua Dewan Pengawas Yayasan Jenang Indonesia, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipokusumo, menguraikan,dalam budaya Jawa, jenang selalu melekat dalam kehidupan, terutama saat momen-momen penting.

“Di beberapa prosesi, jenang selalu hadir. Ini menandakan bahwa melalui jenang, nenek moyang kita mengajarkan tentang pemahaman hidup dalam suasana penuh keyakinan kepada Sang Maha Pencipta. Lewat jenang pula kita diajari untuk berhubungan baik dengan masyarakat dan alam” katanya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mangkunegaran Meresmikan Layanan Ambulans Jenazah dan Pembukaan Kembali Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran

Surakarta, 5 Februari 2026. Mangkunegaran meresmikan layanan ambulans jenazah dan membuka kembali Perpustakaan Reksa Pustaka...

Maraton 48 Jam: Intip Keseruan Global Game Jam Solo 2026 di Solo Technopark!

Soloevent.id - Global Game Jam Solo 2026 kembali digelar pada 30 Januari hingga 1...

Chef Jane Spill Rahasia “Dubai Chewy Cookies” di Atrium Neo Solo Grand Mall.

Soloevent.id - Neo Solo Grand Mall kembali menggelar acara festival kuliner pada 23 Januari...

More like this

Solo Full Energi! 35 Kabupaten/Kota Tumpah Ruah di FORDA Jateng, Aksi Battle Dance Curi Perhatian di CFD!

Soloevent.id - Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) Jawa Tengah 2025 digelar pada 5 hingga...

5 Artis Indonesia yang Suka Lari Maraton: Dian Sastrowardoyo Hingga Gisella

Soloevent.id - Dibandingkan dengan jenis olahraga lain, lari dikenal sebagai olahraga paling ekonomis dan...

Rapma FM Rayakan Milad ke-28 Lewat Rapmafest #12

Soloevent.id - Surakarta, 3 Agustus 2025 – Rapma FM, radio komunitas di bawah naungan...