Saturday, October 3, 2026
HomeSeni dan BudayaKue Keranjang: Lengket dan Manisnya Penuh Filosofi

Kue Keranjang: Lengket dan Manisnya Penuh Filosofi

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Selalu ada kue keranjang setiap perayaan Tahun Baru Imlek. Penganan yang disebut juga dengan nian gao (“nian” berarti lengket, “gao” berarti kue) ini merupakan kue khas masyarakat Hakka di Cina Selatan. Kue keranjang terbuat dari tepung beras/ketan dan gula merah. Saat dicicipi, rasanya manis, sedangkan teksturnya kenyal dan lengket.

Di Kota Solo, terdapat kue keranjang legendaris, yaitu Kue Keranjang Dua Naga Mas, yang berlokasi di Gang Balong VI, Kelurahan Sudiroprajan. Brand ini ada sejak tahun ’70-an. Pemilik kue keranjang Dua Naga Mas Susana menceritakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Solo sekitar 60 tahun silam, ia tidak menemukan satu pun penjual kue keranjang. Kemudian, ayahnya berinisiatif membuat usaha kue keranjang.

Di kota asalnya, Bekasi, kue keranjang dikenal dengan nama kue cina. Di sana, sebenarnya banyak kue yang bentuknya mirip kue keranjang, tetapi karena yang membuat adalah keturunan Tionghoa, sehingga sebutan kue cina ini melekat. Nama kue keranjang terinspirasi dari bentuk cetakan kuenya. Saat itu cetakannya terbuat dari bambu dan menyerupai keranjang.

“Dulu waktu awal-awal pakai bahan kayu untuk cetakan, tetapi karena sering rusak, ya, kami ganti pakai cetakan yang berbahan besi,” jelas Susana saat ditemui Soloevent di rumahnya, Sabtu (18/1/2020).

Susana menceritakan awalnya kue keranjang hanya diproduksi sedikit. Setelah jadi, dititipkan ke tetangga dan pasar. Waktu berjalan, nama Kue Keranjang Dua Naga Mas semakin besar. Sekarang, setiap menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Susana selalu kebanjiran pesananan.

Karena memegang teguh tradisi, kue keranjang bikinannya tetap memakai satu rasa. Ditambah lagi Susana hanya menerima pesanan saat momen perayaan Tahun Baru Imlek saja.



Susana menjelaskan kue keranjang punya filosofi kuat. “Lengketnya itu melambangkan rasa persaudaraan, sedangkan rasa manis melambangkan keharmonisan dari persaudaraan itu,” bebernya.

Dalam tradisi Tionghoa, nian gao atau kue keranjang merupakan persembahan kepada Dewa Dapur. Kue manis dipersembahkan kepada sang dewa agar saat melapor ke Kaisar Langit, ia hanya membicarakan yang manis-manis saja tentang pemilik rumah. Selain itu orang Tionghoa percaya bahwa kue keranjang dapat membawa promosi ke level lebih tinggi saat memasuki tahun/musim baru.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...

Gerakan Solusi Indonesia Gelar Event GSI Youth di Kota Solo, November mendatang.

Soloevent.id - Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, gagasan, dan kemampuan untuk...

Gowes 30K Jelajah Sejarah! Intip Kemeriahan Solo Diversity Bike 2026

Soloevent.id - PT Viva Vastenburg Fortress bersama Pemerintah Kota Surakarta menggelar acara Solo Diversity...

More like this

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...