Monday, April 13, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaPerbedaan Mantu Dan Ngundhuh Mantu

Perbedaan Mantu Dan Ngundhuh Mantu

Published on

- Advertisement -spot_img

KAHIYANG-BOBBY-001

 

Soloevent.id – Presiden Jokowi (Joko Widodo) sedang berbahagia karena putrinya, Kahiyang Ayu, telah dipersunting oleh Muhammad Afif Bobby Nasution. Satu yang menarik dari prosesi pernikahan ini adalah bagaimana keluarga Presiden Jokowi memperlihatkan prosesi pernikahan yang Jawa banget.

 

Dalam tradisi Jawa, menikahkan anak perempuan disebut dengan mantu. Banyak rangkaian kegiatan dalam acara ini, seperti siraman, sadeyan dawet, midodareni, menerima lamaran, ijab, dan panggih.

 

Ketika panggih pun masih ada acara seperti midak wiji dadi atau menginjak telur ayam, lalu mempelai putri membasuh kaki sang suami sebagai wujud berbaktinya istri pada suami. Lalu ada acara krobongan, kacar-kucur, dulangan yaitu saling menyuapi, juga ada ngunjuk degan, dan tentunya sungkeman pada kedua orang tua sebagai tanda bakti sebelum menjalani hidup baru.

 

Setelah panggih  dan pembacaan doa dilanjut dengan ular-ular temanten yang berisi nasehat pemuka agama. Sehabis itu biasanya ada hiburan tarian Jawa klasik, Tari Karonsih, yang menceritakan perpaduan dua kekasih atau dua mempelai. Sebelumnya ada Tari Gambyong untuk menyambut tamu. Juga di akhir ada tarian Kijang atau Merak atau Kelono Gandrung yang musiknya lebih rancak dari dua tarian sebelumnya.

 

Banyak pernik tradisi yang dilalui saat mantu maka durasinya jadi lebih panjang. Acaranya pun lebih besar dibanding menikahkan anak laki-laki alias ngundhuh mantu.

 

Ngundhuh  mantu dilakukan setelah acara mantu di pihak manten putri. Ngundhung mantu juga melalui serangkaian acara. Dimulai dari pembawa acara mengumumkan kedatangan rombongan pengantin, setelah itu dilakukan pasrah manten dari pihak laki-laki dan dijawab dari pihak laki-laki. Kemudian ibunda pengantin laki-laki meminumkan air putih pada dua mempelai atau ngunjuk toyo wening. Lalu ibu pengantin laki-laki membawa ikatan daun opo-opo dan digoyangkan di depan wajah dua mempelai. Daun opo-opo punya simbol agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga selalu selamat dan tidak ada apa-apa.

 

 

Penulis: Puitri Hati Ningsih

Foto: Facebook (Presiden Joko Widodo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

UNI PARJO, Peresmian Ikon Baru Akulturasi Budaya Minang dan Jawa di Pasar Jongke

Soloevent.id - Sebuah perhelatan budaya dan kuliner bertajuk UNI PARJO (Urang Minang Pasar Jongke)...

Event Bukan Musik Biasa Hadirkan Musik Religi Etnik Jawa di Taman Budaya Jawa Tengah

Soloevent.id - Perayaan Event Bukan Musik Biasa (BMB) kembali digelar di Pendopo Wisma Seni...

Bakdan Ing Sala 2026: Alasan Kenapa Mudik ke Solo Selalu Bikin Kangen!

Soloevent.id - Liburan lebaran di Kota Solo tahun ini lebih seru dan meriah. Ada...

More like this

UNI PARJO, Peresmian Ikon Baru Akulturasi Budaya Minang dan Jawa di Pasar Jongke

Soloevent.id - Sebuah perhelatan budaya dan kuliner bertajuk UNI PARJO (Urang Minang Pasar Jongke)...

Event Bukan Musik Biasa Hadirkan Musik Religi Etnik Jawa di Taman Budaya Jawa Tengah

Soloevent.id - Perayaan Event Bukan Musik Biasa (BMB) kembali digelar di Pendopo Wisma Seni...

Bakdan Ing Sala 2026: Alasan Kenapa Mudik ke Solo Selalu Bikin Kangen!

Soloevent.id - Liburan lebaran di Kota Solo tahun ini lebih seru dan meriah. Ada...