Thursday, December 11, 2025
spot_img
HomeSeni dan BudayaTetesan: Upacara Buang Sial Khas Jawa

Tetesan: Upacara Buang Sial Khas Jawa

Published on

- Advertisement -spot_img

tetesan

Soloevent.id – Pernah mendengar upacara tetesan? Atau jangan-jangan ini baru pertama kali mendengarnya? Tetesan adalah salah satu prosesi dalam kebudayaan Jawa. Upacara ini merupakan acara selamatan bagi anak perempuan yang berusia delapan tahun.

Di era modern ini tetesan mungkin sudah jarang dilakukan. Untuk mengenalkan lagi ke masyarakat dan sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa, Istana Mangkunegaran menampilkan simulasi tetesan dalam Mangkunegaran Performing Art 2017 yang digelar di Pendhapa Pura Mangkunegaran, Sabtu (18/3/2017).

Tetesan dilaksanakan sebagai penanda proses tumbuh dan kembangnya seorang anak perempuan menjadi dewasa. Menurut kepercayaan, jika prosesi ini tidak dilakukan bakal mengakibatkan anak menjadi klunthing (tidak bisa tumbuh dan berkembang secara wajar). Tetesan sebaiknya digelar bertepatan dengan ulangtahun kedelapan si anak.

Tetesan biasanya dilangsungkan pada pukul delapan pagi di sebuah ruang tertutup. Sebelum tetesan dimulai, berbagai ubo rampe (perlengkapan) harus disiapkan, antara lain jenang (abrit, pethak, baro-baro), tumpeng (robyong dan gundul), setangkup gula jawa, satu buah kelapa, beras, sirih, kemiri, dan lainnya.

Alas untuk upacara tetesan juga harus diperhatikan. Untuk alas bagian atas disusun dari tujuh lapis kain yakni letrek, sindu, panguntulak, mayang sekar, liwatan, yuyu sekandang, dan lurik sinjang. Sedangkan alas bagian bawah menggunakan bermacam daun, seperti keluak, opo-opo, dadap srep, dan alang-alang.

Prosesi ini diawali dengan Bong Wadon (juru sunat wanita) mengusapkan kapas basah yang telah diolesi kunyit ke organ intim si anak. Selama tahap ini mata si anak ditutup oleh ibunya menggunakan tangan. Kemudian si anak diberi dua macam minuman tradisional.

Tahap selanjutnya adalah prosesi siraman. Si anak dimandikan menggunakan air kembang oleh nenek, ibu, ayah, dan tujuh kerabat perempuan. Setelah itu si anak dibawa ke kamar rias. Pada saat putrinya didandani, ibu menyiapkan nasi tumpeng yang akan dibagikan dalam perjamuan tetesan (biasa disebut dengan jagongan wadon).

Peraga Bong Wadon, Raden Ayu Tumenggung Anna Hudoko Artista, menjelaskan, tetesan dimaksudkan untuk membuang sial. “Harapan setelah prosesi ini agar anak dapat berkembang dan tumbuh menjadi dewasa dan terbebas dari segala gangguan, serta bisa berguna bagi orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.

 

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Solo Full Energi! 35 Kabupaten/Kota Tumpah Ruah di FORDA Jateng, Aksi Battle Dance Curi Perhatian di CFD!

Soloevent.id - Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) Jawa Tengah 2025 digelar pada 5 hingga...

Pohon Terang 16 Meter Menyala di Solo Square! Wakil Walikota Turun Tangan Sampaikan Pesan Toleransi

Soloevent.id - Menyambut Natal dan Tahun Baru Solo Square menggelar acara “A Symphony of...

Klinik Kesehatan Dibuka di Dalam Pura Mangkunegaran, Siapa Saja yang Bisa Berobat Gratis?

Surakarta, 3 Desember 2025. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkoenagoro X meresmikan Klinik...

More like this

UEA Rayakan Hari Nasional Ke-54 di Solo, Gelar Pertunjukan Budaya di Masjid Sheikh Zayed.

Soloevent.id - Puncak Peringatan Hari Nasional Uni Emirate Arab (UEA) ke-54 kembali di gelar...

Pemkot Surakarta dan BPSDM Jawa Tengah Luncurkan Program “Kado Mama” di Kota Solo.

Soloevent.id - Pemerintah Kota Surakarta berkolaborasi dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Jawa Tengah...

Konterensi Internasional Indonesia Mask Organization (IMO) 2025 : Bertukar Ilmu Topeng Global!

Soloevent.id - International Mask Festival (IMF) 2025 menghadirkan Konferensi Internasional Indonesia Mask Organization (IMO)...