Tuesday, July 21, 2026
HomeSeni dan BudayaTetesan: Upacara Buang Sial Khas Jawa

Tetesan: Upacara Buang Sial Khas Jawa

Published on

- Advertisement -spot_img

tetesan

Soloevent.id – Pernah mendengar upacara tetesan? Atau jangan-jangan ini baru pertama kali mendengarnya? Tetesan adalah salah satu prosesi dalam kebudayaan Jawa. Upacara ini merupakan acara selamatan bagi anak perempuan yang berusia delapan tahun.

Di era modern ini tetesan mungkin sudah jarang dilakukan. Untuk mengenalkan lagi ke masyarakat dan sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa, Istana Mangkunegaran menampilkan simulasi tetesan dalam Mangkunegaran Performing Art 2017 yang digelar di Pendhapa Pura Mangkunegaran, Sabtu (18/3/2017).

Tetesan dilaksanakan sebagai penanda proses tumbuh dan kembangnya seorang anak perempuan menjadi dewasa. Menurut kepercayaan, jika prosesi ini tidak dilakukan bakal mengakibatkan anak menjadi klunthing (tidak bisa tumbuh dan berkembang secara wajar). Tetesan sebaiknya digelar bertepatan dengan ulangtahun kedelapan si anak.

Tetesan biasanya dilangsungkan pada pukul delapan pagi di sebuah ruang tertutup. Sebelum tetesan dimulai, berbagai ubo rampe (perlengkapan) harus disiapkan, antara lain jenang (abrit, pethak, baro-baro), tumpeng (robyong dan gundul), setangkup gula jawa, satu buah kelapa, beras, sirih, kemiri, dan lainnya.

Alas untuk upacara tetesan juga harus diperhatikan. Untuk alas bagian atas disusun dari tujuh lapis kain yakni letrek, sindu, panguntulak, mayang sekar, liwatan, yuyu sekandang, dan lurik sinjang. Sedangkan alas bagian bawah menggunakan bermacam daun, seperti keluak, opo-opo, dadap srep, dan alang-alang.

Prosesi ini diawali dengan Bong Wadon (juru sunat wanita) mengusapkan kapas basah yang telah diolesi kunyit ke organ intim si anak. Selama tahap ini mata si anak ditutup oleh ibunya menggunakan tangan. Kemudian si anak diberi dua macam minuman tradisional.

Tahap selanjutnya adalah prosesi siraman. Si anak dimandikan menggunakan air kembang oleh nenek, ibu, ayah, dan tujuh kerabat perempuan. Setelah itu si anak dibawa ke kamar rias. Pada saat putrinya didandani, ibu menyiapkan nasi tumpeng yang akan dibagikan dalam perjamuan tetesan (biasa disebut dengan jagongan wadon).

Peraga Bong Wadon, Raden Ayu Tumenggung Anna Hudoko Artista, menjelaskan, tetesan dimaksudkan untuk membuang sial. “Harapan setelah prosesi ini agar anak dapat berkembang dan tumbuh menjadi dewasa dan terbebas dari segala gangguan, serta bisa berguna bagi orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.

 

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Kolaborasi Lintas Generasi di Satu Panggung Solo Keroncong Festival 2026

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali digelar pada Sabtu (18/7/2026) di Alun-Alun...

Surga Anggrek Nusantara! Solo Anggrek Festival 2026 Hadir di Loji Gandrung

Soloevent.id - Solo Anggrek Festival kembali digelar untuk kedua kalinya di Kota Solo pada...

Dari Gambyong Hingga Band Local: Pre-Event SIPA 2026 Sukses Hipnotis Anak Muda Solo di Solo Paragon Lifestyle Mall.

Soloevent.id - Bulan September mendatang, Solo International Performing Arts (SIPA) bakalan digelar lagi.  Berbagai...

More like this

Kolaborasi Lintas Generasi di Satu Panggung Solo Keroncong Festival 2026

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali digelar pada Sabtu (18/7/2026) di Alun-Alun...

Dari Gambyong Hingga Band Local: Pre-Event SIPA 2026 Sukses Hipnotis Anak Muda Solo di Solo Paragon Lifestyle Mall.

Soloevent.id - Bulan September mendatang, Solo International Performing Arts (SIPA) bakalan digelar lagi.  Berbagai...

Seniman dari 28 Negara Kumpul di Solo International Art Camp 2026!

Soloevent.id - Yayasan Jagoan Indonesia bersama The Asian Post (member of Infobank Media Group)...