Tuesday, September 15, 2026
HomeSeni dan BudayaRed Batik Solo Perkenalkan Karya Terbarunya

Red Batik Solo Perkenalkan Karya Terbarunya

Published on

- Advertisement -spot_img

RED BATIK SOLO PERKENALKAN KARYA TERBARUNYA

Red Batik Solo tak berhenti melakukan eksplorasi. Dalam rangka keterlibatannya di Semarang Night Carnival 2016,  komunitas kreatif tersebut mengeluarkan karya terbarunya yang terinspirasi dari Warag Ngendog.

Warag Ngendog merupakan hewan mitologi yang tersusun atas tiga bagian tubuh binatang, yakni naga (kepala), buraq (badan), dan kambing (kaki). Red Batik Solo menjadikan Warag Ngendog sebagai sumber inspirasi karena hewan ini melambangkan akulturasi budaya, serupa dengan kondisi yang terjadi di Semarang.

“Naga mewakili etnis Tionghoa, buraq mewakili etnis Arab, sedangkan kambing mewakili etnis Jawa. Dari karya ini, kami ingin mengangkat nilai akulturasinya,” ujar Direktur Program Red Batik Solo, Heru Prasetya, saat ditemui di sela pemotretan kreasi terbarunya, Fantasi Warag Ngendog, di Omah Sinten, Selasa (23/2/2016).

Heru mengatakan, Fantasi Warag Ngendog didominasi tiga warna yaitu merah, kuning, hijau. Warna-warna tersebut mengesankan irama yang dinamis. Dalam pembuatan kostum ini, Red Batik Solo menggunakan bahan-bahan alami, seperti bambu, rotan, anyaman pandan, dan biji-bijian.

Lima rancangan Fantasi Warag Ngendog tersebut nantinya bakal dipresentasikan kepada seribu calon peserta Semarang Night Carnival 2016, Jumat (26/2/2016) mendatang. “Red Batik Solo sebagai konseptor dan instruktur Semarang Night Carnival 2016, akan memberikan sebuah awalan karya berbentuk Fantasi Warag Ngendog. Karya tersebut, kami jadikan pancingan agar para peserta bisa merancang kostumnya dengan penuh imajinasi dan fantasi,” jelas Heru.

Red Batik Solo bakal mengadakan workshop sebanyak sepuluh kali pertemuan untuk membimbing para calon peserta dalam mengkreasikan kostumnya. “Kami coba menginspirasi para remaja supaya Warag Ngendog semakin menjadi bahasa visual anak-anak muda Semarang, tanpa meninggalkan hakikatnya sebagai simbol akulturasi,” jelas dia.

Selama ini Heru mengamati, Warag Ngendog hanya dipakai sebagai ikon kirab dugderan atau dijadikan suvenir, dan belum ada yang menjadikannya sebagai inspirasi kostum karnaval. “Padahal Warag Ngendog itu sangat mencirikan Semarang,” tuturnya.

2016 ini jadi tahun kedua Red Batik Solo berpartisipasi di Semarang Night Carnival. Agenda budaya tahunan tersebut bakalan dihelat 7 Mei mendatang di Kota Lama, Semarang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

SIPA 2026 Tegaskan Posisi sebagai Festival Seni Internasional melalui Semangat “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”

SURAKARTA – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menggelar jumpa pers di...

More like this

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

SIPA 2026 Tegaskan Posisi sebagai Festival Seni Internasional melalui Semangat “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”

SURAKARTA – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menggelar jumpa pers di...