Tuesday, September 1, 2026
HomeSeni dan BudayaPit Lempit Yang Membuat Patah Hati

Pit Lempit Yang Membuat Patah Hati

Published on

- Advertisement -spot_img

PIT LIPET YANG MEMBUAT PATAH HATI_

 

Petikan gitar akustik Max Baihaqi mengiringi Hanindawan Sutikno dan Palupi Bawono, saat keduanya membacakan cerkak milik Yessita Dewi dan Indah Darmastuti. Di sesi pertama, Palupi Bawono membacakan karya berjudul ” Pit Lempit ” karya Yessita Dewi.

Karya tulis berbahasa Jawa yang dibuat pada Oktober 2014 itu menceritakan tentang kisah cinta seorang wanita dengan pria idamannya bernama Landi. Mereka berdua merupakan anggota komunitas sepeda. Perawakan Landi yang seorang blasteran, menjadi magnet bagi si wanita untuk menaruh hati padanya.

Namun apa boleh buat, cinta yang dipendamnya itu harus dikubur dalam-dalam saat Landi mengenalkan calon istrinya yang bernama Rukmi. Momen patah hati itu terjadi saat komunitas sepedanya singgah di rumah Landi di daerah Delanggu, usai menghadiri undangan gathering komunitas sepeda di Yogyakarta. “Jane ana rasa ora trima, nanging yo wis. Urip kui soale kaya ban pit sing mlaku,” ucap Palupi dengan nada kecewa.

Tiga cerita lain dibacakan pula oleh Hanindawan dan Palupi. Yaitu “Jenang” karya Yessita Dewi, “Golek Jalaran” dan “Ngalah Karo Simbah” karya Indah Darmastuti. Ya, pembacaan cerita cerkak itu merupakan agenda rutin Bentara Budaya Balai Soedjatmoko yang dikemas dalam Maca Cerkak.

Menurut Hanindawan, karya kedua penulis itu memberikan kesan menyenangkan. Dari segi penulisan pun mereka telah menggunakan bahasa yang komunikatif, plot yang tidak ruwet, blaka suta, ceplas-ceplos, dan sesuai zaman. Sedangkan Palupi mengatakan karya keduanya gampang diterima karena menggunakan bahasa yang lugu. “Kejadian ini ada di lingkungan sekitar, dan cerita-ceritanya pun ‘tragis’,” terang Palupi di sesi diskusi Maca Cerkak, Rabu (20/5/2015) di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Solo.

Sementara Indah Darmastuti mengatakan ada perbedaan antara menulis dengan bercerita lisan. Pun dengan membaca pribadi dan dibacakan orang lain. “Saya ingin agar karya saya dibaca dan diperagakan orang lain. Tulisan yang dibacakan di sini, saya pilih yang paling seger, dan saya rasa cerkak itu tidak rumit,” tuturnya.

Sedangkan Yessita Dewi menambahkan dalam proses pembuatan karya, dia mencuplik dari kejadian sehari-hari, dengan beberapa tambahan adegan yang didramatisasi. “Saat dibacakan orang lain ternyata gregetnya lebih,” ungkapnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Kemeriahan Konser Harmony Manikam Nusantara di Ndalem Ndjojokoesoeman

Soloevent.id - Konser orkestra "Harmony Manikam Nusantara" bersama Svara Dhananjaya Music Orchestra sukses digelar...

Satu Dekade Dayskomvis! Intip Pameran Desain ‘Interplay Visual Noise’ di Gedung Djoeang 45

Soloevent.id - Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual (DKV) telah sukses menggelar acara Dayskomvis...

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

More like this

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

Eksplorasi Peran Perempuan Keraton: Retno Sulistyorini Pentaskan KEPUTREN di TBJT

Soloevent.id - Retno Sulistyorini sukses menampilkan karya terbarunya yang berjudul KEPUTREN di Teater Arena...

Ketika Seni Turun ke Jalan : Pre-Event 2 SIPA 2026 Guncang Koridor Gatsu

Surakarta, 22 Agustus 2026 — Menjelang gelaran utama Solo International Performing Arts (SIPA) 2026,...