Friday, May 1, 2026
HomeSeni dan BudayaHujan Tak Halangi Festival Payung Indonesia 2014

Hujan Tak Halangi Festival Payung Indonesia 2014

Published on

- Advertisement -spot_img

festival payung-post__

Jumat (28/11/2014) sore itu, mendung tampak menggelayuti langit Taman Balekambang Solo. Seakan tak menghiraukan kelamnya angkasa, banyak orang asyik berfoto ria di bawah instalasi payung yang dipasang di sekitaran lokasi taman peninggalan KGPAA Mangkunegara VII itu. Ya, warna-warni seni instalasi tersebut menjadi primadona dalam ajang Festival Payung Indonesia 2014.

Namun kehendak alam tidak bisa dibendung. Hujan turun membasahi hutan kota tersebut. Ribuan orang yang hadir untuk menyaksikan prosesi pembukaan perhelatan yang baru pertama kali digelar di Indonesia ini, terpaksa berteduh di beberapa stan yang ada di area festival. Pembukaan acara yang sedianya digulirkan pada pukul 15.00 WIB harus diundur.

Selang satu jam, intensitas hujan telah berkurang. Rintik airnya menyambut kedatangan jajaran Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kota Solo, yang juga telah lama dinanti. Menteri Pariwisata, Arief Yahya, turut hadir dalam rombongan. Penampilan Reog Nirboyo dari Gunungkidul menjadi awalan pembukaan Festival Payung Indonesia 2014.

Penyanyi keroncong, Endah Laras, menjadi penampil berikutnya. Jika biasanya ia tampil solo, di kesempatan itu Endah mengajak serta Dimas Santo untuk mengisi instrumen keyboard. “Payung Nusantara” yang menceritakan tentang payung sebagai wujud keberagaman budaya Indonesia, dipilih sebagai lagu pembuka. “Lagu ini sengaja saya ciptakan untuk Festival Payung Indonesia,” tuturnya di atas panggung. Di lagu kedua, 20-an model dari Komunitas Red Batik tampil berlenggak-lenggok mengikuti irama tembang “Payung Fantasi” ciptaan Ismail Marzuki.

Dalam sambutannya, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo menyampaikan bahwa filosofi payung begitu tinggi. “Payung tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Dari lahir sampai mati, kita akan menggunakan payung,” tuturnya. Rudy menambahkan, payung yang merupakan akronim dari bapa lan biyung (bapak dan ibu) – disimbolkan oleh Rudy sebagai pemerintah – akan memayungi dan memberikan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Sementara Menteri Pariwisata, Arief Yahya, menuturkan bahwa industri kerajinan payung merupakan bentuk ekonomi kreatif yang harus dapat diperjuangkan. Ke depannya, agar kreativitas tersebut dapat terus hidup, maka pemerintah harus mendaftarkannya ke dalam HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). “Jika nilai ekonomi industri tersebut dapat berkembang, maka itu dapat menarik kunjungan wisatawan ke Indonesia, terutama Solo,” katanya.

Festival Payung Indonesia 2014 sendiri akan berlangsung selama tiga hari, Jumat-Minggu (28-30/11/2014) di Taman Balekambang, Solo. Banyak agenda yang dihelat, dan kesemuanya akan mengeksplorasi payung.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Pelatihan Membuat Sanggul Bersama Akademi Sanggul Nusantara di Event Solo Menari 2026

Soloevent.id - Pagelaran Solo Menari 2026 kembali digelar pada Selasa-Rabu (28-29/4/2026) di Pendhapi Gedhe...

Sebanyak 1.700 Penari Kipas Semarakkan Solo Menari 2026 di Kawasan Titik Nol

Soloevent.id - Kota Solo kembali menggelar acara Solo Menari pada 29 April 2026. Sebanyak...

Cukup 10 Ribu! Intip 5 Wahana Ikonik yang Wajib Kamu Coba di Pasar Malam Alun-Alun Kidul

Soloevent.id - Pasar Malam Alkid (Alun-Alun Kidul) kembali digelar mulai 3 April - 3...

More like this

Pelatihan Membuat Sanggul Bersama Akademi Sanggul Nusantara di Event Solo Menari 2026

Soloevent.id - Pagelaran Solo Menari 2026 kembali digelar pada Selasa-Rabu (28-29/4/2026) di Pendhapi Gedhe...

Sebanyak 1.700 Penari Kipas Semarakkan Solo Menari 2026 di Kawasan Titik Nol

Soloevent.id - Kota Solo kembali menggelar acara Solo Menari pada 29 April 2026. Sebanyak...

Cukup 10 Ribu! Intip 5 Wahana Ikonik yang Wajib Kamu Coba di Pasar Malam Alun-Alun Kidul

Soloevent.id - Pasar Malam Alkid (Alun-Alun Kidul) kembali digelar mulai 3 April - 3...