Saturday, January 31, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaMenanti Datangnya Godot Di Mimbar Teater Indonesia 2014

Menanti Datangnya Godot Di Mimbar Teater Indonesia 2014

Published on

- Advertisement -spot_img

mimbar-teater-indonesia-2014

Setelah sempat mengangkat tema karya Putu Wijaya dan Arifin C. Noer, kini Mimbar Teater Indonesia 2014 (MTI) edisi keempat hadir dengan tajuk “Waiting for Godot”. Naskah karya Samuel Beckett itu akan diapresiasi dalam berbagai pendekatan teater, pantomim, dan tari pada 23-28 September 2014, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

Tak hanya pegiat seni dalam kota saja yang turut berpartisipasi, empat penyaji dari luar kota juga turut meramaikan ajang tahunan ini. Mereka adalah Bengkel Mime (Yogyakarta, 24 September), Sinergi Teater (Makassar, 25 September), Sena Didi Mime Indonesia (Jakarta, 26 September), dan Surabaya Dance Collective (Surabaya, 27 September). Kota Solo diwakili oleh Kelompok Seni Macacarita (23 September) dan Studio Taksu (28 September).

Menurut salah seorang penggagas Mimbar Teater Indonesia, Hanindawan Soetikno, tema “Waiting for Godot” dipilih karena kontekstual dengan kondisi Indonesia pada masa sekarang. “Bangsa ini sedang menunggu-nunggu, apalagi dengan situasi pergantian pemimpin seperti sekarang ini,” jelasnya saat ditemui Soloevent, usai pementasasan hari pertama, Selasa (23/9/2014).

Terkait dengan sajian, para penampil dibebaskan melakukan pendekatan sesuai bidang seninya masing-masing, asalkan tetap mengacu pada benang merah “Waiting for Godot”. Sesuai keterangan Hanindawan, setiap penyaji, harus melalui tahap kuratorial terlebih dahulu, dinilai dari aktivitas kelompok-kelompok tersebut. “Jadi yang masih aktif, yang masih cukup eksis, yang ada proses kegelisahan, itulah yang kami undang,” imbuhnya.

Halim HD selaku kurator Mimbar Teater Indonesia 2014, dalam kata sambutannya ketika membuka pergelaran, menuturkan bahwa  tema “Waiting for Godot” menarik untuk diangkat. Karena tema itu telah menjadi bahan pembicaraan, kajian, dan festival. “Ini menjadi sesuatu yang menarik bagi masyarakat. Karena dalam naskah itu terdapat harapan, pencarian, dan penantian. Sangat sesuai dengan kondisi sekarang,” jelasnya.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Annisa & Venly Bongkar Tantangan Akting Paling Berat di Film ‘Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?’

Soloevent.id - Gimana sih rasanya kalau diajak meet n greet dan nonton bareng sama...

Bukan Sekadar Fashion Show, Rotary Club Solo Buktikan Perayaan Ultah Bisa Sambil Bantu Sesama.

Soloevent.id - Dalam rangka merayakan anniversary Rotary Club Solo Sriwedari ke-13 menggelar lomba batik...

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...