Friday, February 27, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaTribute To Munir

Tribute To Munir

Published on

- Advertisement -spot_img

tribute-to-munir

“Jasadmu mungkin sudah lapuk tak berbentuk. Lantang suaramu mungkin sudah tak pernah terdengar. Mereka katakana kau sudah mati. Namun sesungguhnya kau tak pernah mati.”
Penggalan puisi di atas berasal dari karya Munif Chatib yang berjudul “Munir Tak Pernah Mati”. Puisi tersebut dibacakan oleh Fanny Chotimah dalam pembukaan acara Tadarus Puisi yang diselenggarakan oleh Jejer Wadon pada Rabu, 16 Juli 2014, di Rumah Seni Lokananta. Dengan diiringi gitar dengan suasana mencekam, ia juga membacakan dua puisi lainnya yakni “Cak Munir di Awan” karya Asep Sambodja dan “Sajak Suara” dari Wiji Thukul.

dialog acara tadarus puisiSelain membaca puisi secara bergiliran, dalam acara tersebut juga diadakan sesi diskusi dengan pembicara Indah Darmastuti dari Komunitas Sastra Pawon. Walaupun hanya dihadiri sekitar 20-an orang, tapi acara pada malam itu berlangsung khidmat.

Tadarus Puisi merupakan rangkaian acara yang dihelat dalam Tribute to Munir, sebuah acara yang juga merupakan pameran tunggal Saifuddin Hafiz bertema “Melawan Lupa”. Dalam sambutannya di acara pada malam itu, Saifuddin mengingatkan agar kita tidak lupa dengan perjuangan Munir. “Hampir sepuluh tahun lewat kita tidak tahu persis dan tidak pernah terbongkar siapa pembunuh Munir. Semakin lama kita semakin tenggelam dalam kondisi, sehingga kita lupa. Dari pameran ini, ketika orang masuk dan kemudian melihat karya, ia bisa teringat tentang sosok Mas Munir. Pameran ini adalah bagian melawan lupa. Ini adalah semangat resistensi melawan ketidakadilan,” tegasnya.

pengisi acara tadarus puisiYa, melawan lupa adalah bahan obrolan dalam acara itu. Cerita-cerita tentang Munir banyak disampaikan oleh Fanny Chotimah dan juga Indah Darmastuti. Indah pun menyamakan sosok Munir dengan Wiji Thukul. Spirit dan juga kata-kata yang mereka keluarkan untuk melawan ketidakadilan, Indah analogikan sebagai dinamit. “Munir itu sama seperti Wiji Thukul. Di dalam diri mereka ada dinamit,” tuturnya. Indah pun menambahkan, “Musuh terbesar Munir itu ada empat: modal, imperialisme, kekuasaan, dan kesewenang-wenangan.” Karena mempunyai spirit yang sama, puisi-puisi Wiji Thukul banyak dibacakan oleh para hadirin.

Pameran tunggal yang digelar oleh Saifuddin Hafiz sendiri adalah pameran yang ditujukan untuk memperingati 10 tahun kematian Munir. Untuk memeriahkannya, diselenggarakan juga beberapa agenda, antara lain Forum Musik “Munir Nggugat” (13 Juli), Tadarus Puisi Untuk Munir (16 Juli), dan Diskusi Seni Rupa (17 Juli).pembacaan puisi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Aston Solo Hotel Hadirkan Pengalaman Iftar Dunia dengan Sentuhan ASEAN

Soloevent.id - Dalam menyambut bulan suci ramadhan, Aston Solo Hotel resmi memperkenalkan rangkaian program...

Rayakan Hari Pers Nasional, Monumen Pers Solo Pamerkan 101 Koleksi Iklan Ikonik.

Soloevent.id - Monumen Pers Nasional Solo menggelar pameran bertajuk Warta Pariwara yang menampilkan koleksi...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Ratusan Menu Nusantara di Iftar All You Can Eat Buffet

Soloevent.id - Menyambut bulan suci Ramadhan, The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman berbuka...

More like this

Upacara Peringatan HUT ke-281 Kota Solo, Masyarakat Umum Ikut Kenakan Busana Adat Jawa

Soloevent.id - Ribuan peserta memadati Stadion Sriwedari untuk mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun...

Rayakan Hari Jadi ke-281 Kota Solo, Ribuan Warga Serbu Koridor Ngarsopuro demi Jenang

Soloevent.id - Festival Jenang Solo kembali digelar pada Selasa (17/2/2026) di Koridor Ngarsopuro. Acara ...

Heritage in Harmony: Saat Akulturasi Budaya Jawa-Tionghoa Bersatu di Panggung Imlek Solo

Soloevent.id - Puncak perayaan imlek di Kota Solo digelar dengan panggung hiburan semarak heritage...