MASJID AGUNG SURAKARTA LUNCURKAN BUKU

MASJID-AGUNG-SURAKARTA-LUNCURKAN-BUKU1

Masjid Agung Surakarta luncurkan buku berjudul “ Sejarah Masjid Agung Surakarta ”. Buku tersebut diluncurkan bersamaan dengan Peringatan Nuzulul Qur’an 1435 H, yang diselenggarakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Surakarta pada Senin, 14 Juli 2014, bertempat di Masjid Agung Surakarta.

Dalam peluncuran buku tersebut, Ketua Pengurus Masjid Agung Surakarta, H. Slamet Aby, BA, memberikan kata sambutan. “Buku ini kami persembahkan kepada masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Islam pada khususnya,” katanya. Dia juga menambahkan bahwa dana untuk proses penerbitannya berasal dari sumber dana Pengurus Masjid Agung.

Masih menurut Slamet Aby, buku “Sejarah Masjid Agung Surakarta” merupakan buku yang diterbitkan sebagai kajian pustaka tentang salah satu masjid  bersejarah di Kota Solo ini. Masjid Agung yang memiliki kandungan historis, filosofis, dan juga nilai persebaran Islam bagi kota ini, dengan  diterbitkannya buku tersebut diharapkan mampu melestarikan salah satu icon kebudayaan kota ini agar tak lapuk ditelan zaman.

Ditemui sebelum acara berlangsung, Sekretaris Tim Penulis Buku “Sejarah Masjid Agung Surakarta”[quote align=”center” color=”#999999″]Purnomo Subagyo menerangkan bahwa proses pengerjaan buku sejarah tersebut berlangsung dari Maret 2013. “(buku) itu disusun hampir satu tahun lebih, mulai Maret 2013. Sampai kemarin sebelum puasa sudah jadi,” jelasnya.[/quote]Karena banyaknya pihak dari berbagai disiplin ilmu yang ikut berpartisipasi dalam penulisan buku itu, menurutnya menjadikan proses pengerjaan buku berlangsung lama. Kesulitan yang dimaksud adalah menyatukan semua data temuan untuk kemudian dibukukan. “Lamanya itu karena yang menulis dari berbagai ilmu. Ada dari sejarawan, arsitektur, sastra Jawa, dosen dari IAIN, dan juga dari pengurus masjid. Sulitnya di situ, untuk menyatukan itu (data),” ungkapnya.

Memang dalam pengerjaannya, pengurus Masjid Agung tidak bekerja sendiri. Mereka membentuk Tim Penulisan Sejarah Masjid Agung Surakarta, yang mana di dalamnya berisi beberapa unsur seperti Heri Priatmoko (akademisi/sejarawan), Leny Pramesti (dosen Fakultas Teknik Arsitektur UNS), Syaiful Islam (dosen IAIN Surakarta), Rahmat Wibisono (wartawan Solopos), Imam Sutardjo (dosen Fakultas Sastra UNS), KGPH Puger (tokoh Keraton Surakarta). Dilansir dari website Masjid Agung Surakarta, total ada 22 penulis yang ikut berkontribusi dalam pengerjaannya.

Buku “Sejarah Masjid Agung Surakarta” diterbitkan oleh penerbit asal Yogyakarta, Absolute Media. Di cetakan  pertamanya, buku tersebut dicetak sebanyak 500 eksemplar. Namun menurut Purnomo, pengurus Masjid Agung belum memutuskan apakah akan dikonsumsi massal atau tidak. “Pengurus belum memutuskan itu (buku) dijual atau tidak. Tapi jika berkaitan dengan masjid, kami kirimi. Media juga kami kirimi,” kata Purnomo.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo (mewakili Wali Kota FX. Hadi Rudyatmo yang berhalangan hadir), mengucapkan selamat atas terbitnya buku “Sejarah Masjid Agung Surakarta”. “Selamat kepada takmir atas terbitnya buku tentang sejarah Masjid Agung Surakarta. Mudah-mudahan dari buku itu membuat masjid ini lebih harum,” tuturnya.

Terkait

LAMPU TING KHAS MALEM SELIKURAN Masjid Agung Surakarta, Jumat, 18 Juli 2014. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, sekitar pukul 21.00 WIB, rombongan kirab yang dinanti akhirny...
MENYUSUN KEPING SEJARAH MASJID AGUNG SURAKARTA Bagi masyarakat Solo, Masjid Agung Surakarta yang terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon ini begitu bermakna. Masjid yang telah berd...
MASJID AGUNG SURAKARTA BIKIN MUSHAF ALQURAN BATIK Soloevent.id - Ada banyak cara untuk menyemarakkan bulan Ramadan 1438 H. Salah satunya seperti yang dilakukan takmir Masjid Agung Surakarta dan Kamp...
Mengenang Habib Ali sang Ulama Besar Soloevent.id - Mulai Minggu hingga Selasa, 7-9 Januari 2018, jemaah dari berbagai daerah di Indonesia – bahkan mancanegara – memadati kawasan Masj...
BIKIN MUSHAF ALQURAN BATIK, HATI JADI TENANG Soloevent.id - “Hati saya rasanya tenang. Tangan juga lebih enteng pas mencantingnya,” kata Erni, salah satu pembatik yang ikut di kegiatan Alquran ...