Tuesday, September 1, 2026
HomeSeni dan BudayaKota Knalpot Karya Thoekoel

Kota Knalpot Karya Thoekoel

Published on

- Advertisement -spot_img

KOTA-KNALPOT-KETIKA-POLUSI-MENJADI-PENJARA

“Kalau saya suka naskahnya. Saya pikir kontekstual (dengan kondisi sekarang). Selain kontekstual tentang kota knalpot, lalu tentang polusi di mana-mana juga. Naskah ini juga sedikit bercerita tentang sejarah Indonesia, kan. Orba bagaimana, lalu sekarang bagaimana. Saya pikir naskah ini kontekstual sih,” tutur Retno Sayekti Lawu, sutradara Pentas Produksi XV Kelompok Kerja Teater (KKT) Thoekoel Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan judul “Kota Knalpot”, pada 18 Juni 2014 bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo.

Naskah karya Hanindawan berjudul “Kota Knalpot” ini bercerita tentang kehidupan orang-orang kota yang dipenuhi polusi, sehingga memaksa mereka berdesakan dalam keputusasaan. Polusi yang berasal dari cerobong-cerobong asap pabrik ataupun kendaraan bermotor, menjadikan kota sebagai belantara asap. Di balik cerobong-cerobong itu, terdapat orang-orang yang mencari eksistensi diri, mereka bekerja seperti mesin. Merekalah orang-orang yang disebut Karl Marx sebagai orang-orang terasing. Ketika protes adalah jalan tengah untuk mencapai kesetaraan, mereka terhalang oleh tembok tebal bernama peluru dan moncong senapan. Dan ketika berteriak adalah pilihan paling akhir, mau tak mau mereka dipaksa bungkam demi keadaan yang diseragamkan.

Dalam penggarapannya, Lawu masih berada dalam pola khasnya: menjadikan panggung sebagai kanvas dan menggiring imajinasi penonton ke dalam kanvas tersebut, setting yang minimalis, dan olah gerak. Selama kurang lebih 45 menit, penonton dihibur dengan visual panggung yang memanjakan mata.

Ada yang menarik ketika Lawu menampilkan satire di dalam panggung. Yaitu ketika tempo permainan cepat, lalu tiba-tiba dipatahkan dengan munculnya pemain yang berperan sebagai anak-anak. Ia menuntun sebuah mobil-mobilan dari bambu sambil menyanyikan lagu, “Tanah airku tidak kulupakan. ‘kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh. Tidak ‘kan hilang dari kalbu….”

Di akhir pentas, anak kecil yang tadi “waras”, mau tak mau terbawa arus oleh kondisi. Mereka kemudian menari. Mungkin dari sini Lawu ingin menyampaikan pesan: menarilah seperti tidak ada hari esok.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Kemeriahan Konser Harmony Manikam Nusantara di Ndalem Ndjojokoesoeman

Soloevent.id - Konser orkestra "Harmony Manikam Nusantara" bersama Svara Dhananjaya Music Orchestra sukses digelar...

Satu Dekade Dayskomvis! Intip Pameran Desain ‘Interplay Visual Noise’ di Gedung Djoeang 45

Soloevent.id - Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual (DKV) telah sukses menggelar acara Dayskomvis...

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

More like this

Tradisi Puncak Sekaten! Intip Semarak Grebeg Mulud 2026 Keraton Surakarta

Soloevent.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Grebeg Mulud 2026 di halaman Masjid Agung...

Eksplorasi Peran Perempuan Keraton: Retno Sulistyorini Pentaskan KEPUTREN di TBJT

Soloevent.id - Retno Sulistyorini sukses menampilkan karya terbarunya yang berjudul KEPUTREN di Teater Arena...

Ketika Seni Turun ke Jalan : Pre-Event 2 SIPA 2026 Guncang Koridor Gatsu

Surakarta, 22 Agustus 2026 — Menjelang gelaran utama Solo International Performing Arts (SIPA) 2026,...