Monday, July 20, 2026
HomeSeni dan BudayaKota Knalpot Karya Thoekoel

Kota Knalpot Karya Thoekoel

Published on

- Advertisement -spot_img

KOTA-KNALPOT-KETIKA-POLUSI-MENJADI-PENJARA

“Kalau saya suka naskahnya. Saya pikir kontekstual (dengan kondisi sekarang). Selain kontekstual tentang kota knalpot, lalu tentang polusi di mana-mana juga. Naskah ini juga sedikit bercerita tentang sejarah Indonesia, kan. Orba bagaimana, lalu sekarang bagaimana. Saya pikir naskah ini kontekstual sih,” tutur Retno Sayekti Lawu, sutradara Pentas Produksi XV Kelompok Kerja Teater (KKT) Thoekoel Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan judul “Kota Knalpot”, pada 18 Juni 2014 bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo.

Naskah karya Hanindawan berjudul “Kota Knalpot” ini bercerita tentang kehidupan orang-orang kota yang dipenuhi polusi, sehingga memaksa mereka berdesakan dalam keputusasaan. Polusi yang berasal dari cerobong-cerobong asap pabrik ataupun kendaraan bermotor, menjadikan kota sebagai belantara asap. Di balik cerobong-cerobong itu, terdapat orang-orang yang mencari eksistensi diri, mereka bekerja seperti mesin. Merekalah orang-orang yang disebut Karl Marx sebagai orang-orang terasing. Ketika protes adalah jalan tengah untuk mencapai kesetaraan, mereka terhalang oleh tembok tebal bernama peluru dan moncong senapan. Dan ketika berteriak adalah pilihan paling akhir, mau tak mau mereka dipaksa bungkam demi keadaan yang diseragamkan.

Dalam penggarapannya, Lawu masih berada dalam pola khasnya: menjadikan panggung sebagai kanvas dan menggiring imajinasi penonton ke dalam kanvas tersebut, setting yang minimalis, dan olah gerak. Selama kurang lebih 45 menit, penonton dihibur dengan visual panggung yang memanjakan mata.

Ada yang menarik ketika Lawu menampilkan satire di dalam panggung. Yaitu ketika tempo permainan cepat, lalu tiba-tiba dipatahkan dengan munculnya pemain yang berperan sebagai anak-anak. Ia menuntun sebuah mobil-mobilan dari bambu sambil menyanyikan lagu, “Tanah airku tidak kulupakan. ‘kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh. Tidak ‘kan hilang dari kalbu….”

Di akhir pentas, anak kecil yang tadi “waras”, mau tak mau terbawa arus oleh kondisi. Mereka kemudian menari. Mungkin dari sini Lawu ingin menyampaikan pesan: menarilah seperti tidak ada hari esok.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Surakusuma: Memaknai Bulan Sura Melalui Tiga Laku Waktu

Dalam menyambut Bulan Sura, Mangkunegaran menghadirkan Surakusuma, sebuah instalasi yang mengajak masyarakat memaknai pergantian...

Keroncong Majestic! Solo Keroncong Festival 2026 Siap Digelar di Alun-Alun Utara

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 sebagai event budaya tahunan yang mengukuhkan Kota...

Pitoelas : Pitulungan lan Welas! Kemegahan Solo Batik Carnival ke-17 Mengguncang Solo

Soloevent.id - Kota Solo kembali menggelar acara Solo Batik Carnival (SBC) pada Sabtu (11/7/2026)....

More like this

Surakusuma: Memaknai Bulan Sura Melalui Tiga Laku Waktu

Dalam menyambut Bulan Sura, Mangkunegaran menghadirkan Surakusuma, sebuah instalasi yang mengajak masyarakat memaknai pergantian...

Keroncong Majestic! Solo Keroncong Festival 2026 Siap Digelar di Alun-Alun Utara

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 sebagai event budaya tahunan yang mengukuhkan Kota...

Pitoelas : Pitulungan lan Welas! Kemegahan Solo Batik Carnival ke-17 Mengguncang Solo

Soloevent.id - Kota Solo kembali menggelar acara Solo Batik Carnival (SBC) pada Sabtu (11/7/2026)....