JENDELA DUNIA ITU ADA DI TAMAN BUKU DAN MAJALAH ALUN-ALUN UTARA SURAKARTA

Soloevent.id – Sebagai pencinta buku ataupun orang yang hobi membaca, tentu melihat tumpukan buku membikin hati senang, apalagi jika buku tersebut sudah lama dicari dan harganya bisa ditawar. Di mana kamu bisa menemukannya? Cobalah mampir di Taman Buku dan Majalah Alun-Alun Utara Surakarta.

Di sana ada 17-an kios yang menyediakan ragam bacaan mulai dari novel fiksi, sastra, majalah, komik, hingga buku diktat dengan rentang tahun yang bermacam-macam. Jangan sungkan membongkar atau menyusuri tumpukan buku, karena para pemilik kios bakal dengan ramah mempersilakan dan tidak keberatan.

Salah satu pemilik kios buku yang ditemui Soloevent, Sri Wahyuni, menceritakan awal mula ia berjualan buku. Wanita berusia 49 tahun ini mengawali berjualan buku pada tahun 2010, di saat ia memutuskan berhenti menjadi buruh pabrik.

Buku yang ia jual pun tidak terbatas buku bekas. Ada juga buku yang masih bersegel atau versi tiruannya. “Biasanya cari buku di pengepul, ada juga yang diantar ke sini dan dari penerbit-penerbit,” jelasnya.

Berbagi tugas bersama sang suami – Sri menjaga lapak sedangkan suaminya mencari buku – rupanya pendapatan yang mereka peroleh mampu memenuhi kebutuhan keluarga, walaupun setiap bulannya belum menentu.

Selain Sri, ada juga Bambang Tri Harjanto. Uniknya, Bambang lebih mengkhususkan diri menjual buku-buku kuno dan barang antik. Awalnya pria berusia 62 tahun ini adalah pengrajin rebab dan pedagang pakaian. Sebelum puncak krisis moneter, usahanya mulai turun lalu ia banting setir berjualan buku bekas.

“Saya termasuk generasi akhir ya, jualan mulai tahun 1997, awalanya di lapangan sana bergerombol dengan 20-an pedagang. Baru tahun 2002 dapat kios permanen di sini,” ucap Bambang yang sekaligus menjadi Ketua Paguyuban Pedagang Taman Buku dan Majalah Alun-Alun Utara Surakarta.

Buku yang ia jual berkisar pada tahun ’60 hingga ‘70-an, tetapi yang lebih tua dari tahun itu juga banyak. ”Pernah saya dapat yang tahun 1600 tapi tidak lengkap, cuma lembaran,” ujarnya sambil memperlihatkan “Serat Ambiya” yang berisi cerita mengenai sejarah nabi-nabi.

Karena yang dijual barang kuno, pembelinya pun kebanyakan adalah kolektor dari luar kota. Pernah ia menjual sebuah arsip perjanjian Welmina pada seorang kolektor asal Bandung seharga 20 juta Rupiah. Namun, ternyata arsip tersebut bernilai ratusan juta.

Pernah juga ia menjual buku yang terdiri tiga atau empat lembar saja dengan harga puluhan ribu. Bambang tidak punya patokan dalam memberi harga, ia mengacu pada harga saat ia membelinya dan tawaran dari kolektor. “Kolektor itu penentu harga terakhir, kalau sudah suka berapapun pasti mereka kasih,” ungkapnya.

Mumpung sebentar lagi libur Lebaran, boleh lo kamu mampir ke Taman Buku dan Majalah Alun-Alun Utara Surakarta buat beli stok bacaan saat liburan. Karena buku adalah jendela dunia, maka mari membaca!