Soloevent.id – Taman Balekambang menjadi ruang pertemuan pekan Se.Daya.Di.Surakarta pada tanggal 1-7 November 2026. Selama tujuh hari, kegiatan ini mempertemukan pelaku seni dan budaya dengan pelaku ekonomi kreatif melalui berbagai program yang membuka ruang interaksi, pertukaran, pengetahuan dan pengalaman bersama masyarakat.
Se.Daya.Di.Surakarta merupakan platform aktivasi berbasis seni, budaya dan tradisi yang berkolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif di Surakarta. Berangkat dari nilai keselarasan, keseimbangan dan harmoni yang dimaknai melalui Loro Blonyo, Se.Daya.Di.Surakarta membuka ruang bagi tradisi dan ekspresi kontemporer untuk berjumpa dan berkembang bersama. Pekan Se.Daya.Di.Surakarta menghadirkan tujuh program utama yaitu Se.Daya.Di.Wellness, Se.Daya.Di.Pasar, Se.Daya.Di.Pagelaran, Se.Daya.Di.Lokakarya, Se.Daya.Di.Pameran, Se.Daya.Di.Boga dan Se.Daya.Di.Forum.
Tujuh program tersebut seperti Se.Daya.Di.Wellness, publik diajak merawat keseimbangan diri melalui praktik tubuh, refleksi dan pengalaman kolektif. Disini menghadirkan praktik Jawawellness dari rumah Atsiri Jawa yang memperkenalkan keselarasan wiraga, wirama dan wirasa. Lalu, Se.Daya.Di.Pasar menghadirkan pasar-pasaran dengan lebih dari 50 tenant yang terdiri atas pelaku kuliner, UMKM, artisan creative makers dan brand lokal. Se.Daya.Di.Pagelaran mempertemukan 16 penampil dari ranah musik, tari teater, wayang dan seni pertunjukan. Sementara itu, Se.Daya.Di.Lokakarya menghadirkan 15 sesi yang membuka kesempatan bagi publik untuk mengeksplorasi praktik, mencoba hal baru dan bertukar pengetahuan.
Pada Se.Daya.Di.Pameran menghadirkan 17 seniman dan karya seni, tradisi, teknologi serta pengetahuan lokal. Dua program lainnya yaitu Se.Daya.Di.Boga dan Se.Daya.Di.Forum membuka ruang untuk mengenal praktik pangan serta membahas beragam gagasan dan isu yang berkaitan dengan kehidupan seni dan budaya.

Sebelum acara Se.Daya.Di.Surakarta telah digelar pers conference untuk memperkenalkan program dan kegiatan tentang Se.Daya.Di.Surakarta kepada media dan masyarakat. Di acara perscon ini menghadirkan Walikota Solo, Respati Ardi; Direktur Program Se.Daya.Di.Surakarta, Nanang Musha; Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Solo, Anita Septi Purwarini; Direktur Festival Se.Daya.Di.Surakarta, Tatuk Marbudi dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono.
Direktur Program Se.Daya.Di.Surakarta, Nanang Musha menjelaskan, “Di acara ini seni, budaya dan tradisi tidak hanya dihadirkan dalam karya atau pertunjukan, tetapi juga dalam praktek keseharian dan cara masyarakat berinteraksi. Pandangan ini kemudian kami transformasikan kedalam tujuh program yang menawarkan beragam pengalaman mulai dari wellness dan pasar kreatif hingga pertunjukan lokakarya, pameran, kuliner dan forum diskusi”, jelasnya.
Pekan Se.Daya.Di.Surakarta 2026 melibatkan lebih dari 100 kolaborator dari berbagai bidang dan menargetkan 20.000 kunjungan audiens selama tujuh hari. Tatuk Marbudi selaku Direktur Festival Se.Daya.Di.Surakarta juga mengatakan, “Melalui semangat collect, connect, collab, pekan Se.Daya.Di.Surakarta menjadi ruang bagi pelaku seni dan budaya, komunitas, kreator, pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat untuk saling menemukan serta membangun kolaborasi. Kami ingin membuka kesempatan bagi berbagai pihak untuk terlibat dan melahirkan karya-karya baru yang relevan untuk kini dan kedepan,” ujarnya.
Sementara dari Pemerintah Kota Solo, Walikota Solo Respati Ardi mengatakan, “Hadirnya Pekan Se.daya.di.surakarta merupakan wujud komitmen nyata Pemkot untuk mendukung ketercapaian visi Kota Solo pada tahun 2030 sebagai salah satu kota yang menghadirkan kegiatan yang menggabungkan seni, budaya dan ekonomi kreatif. Kita juga patut berbangga karena pada hari ini semakin meningkat pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Solo sehingga mulai banyak juga pelaku ekonomi kreatif baru dengan target market yang baru pula. Sebagai kota yang terkenal dengan branding ekonomi kreatif, seni dan budayanya, kita juga siap beradaptasi dengan tantangan potensi wisata yang ada. Namun kalau tidak bisa merevolusi, maka wisata akan terus menurun. Kita harus mau berubah, event-event yang lama harus mampu beradaptasi dan yang terpenting masyarakat mampu melakukan bisnis modern, karena suatu event yang bisa berulang tidak bergantung hanya dari intervensi sponsorship,” ujarnya saat perscon di Museum Radya Pustaka, Minggu (25/10/2026).




