Tuesday, September 22, 2026
HomeSeni dan BudayaPenuh Warna, Intip Yuk Festival Payung Indonesia dari Tahun ke Tahun

Penuh Warna, Intip Yuk Festival Payung Indonesia dari Tahun ke Tahun

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Siapa yang kangen sama Festival Payung Indonesia? Tahun ini, Festival Payung Indonesia (FPI) bakal digelar pada 6-8 September 2019. Kalau mau foto-foto berlatar payung, kamu harus berkendara dulu ke Candi Prambanan. Ya, sudah dua tahun ini FPI digelar di luar kota, yakni Candi Borobudur (2018) dan Candi Prambanan (2019).

Festival Payung Indonesia diselenggarakan pertama kali di Kota Solo, 2014 silam. Buat kamu yang mungkin baru pertama kali mendatangi event tersebut, berikut Soloevent akan membahas penyelenggaraannya dari tahun ke tahun.

FPI merupakan inisiatif dari Kementerian Pariwisata melalui Direktorat Jendral Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya. Pada 28-30 November 2014, diadakanlah event perdana bertema “Closer to Umbrella” di Taman Balekambang Surakarta. Acara ini bertujuan menambah ruang kreatif baru, serta membangkitkan kembali dan melestarikan kerajinan payung Indonesia yang terancam punah.

Meski baru pertama kali digelar, tapi sambutan masyarakat begitu luar biasa. Mereka sangat tertarik dengan instalasi-instalasi payung yang dipasang di sekitar lokasi. Acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni.

Setahun setelahnya, FPI kembali digelar pada 11-13 September 2015 di tempat yang sama dengan mengusung tema “Umbrella Reborn”. Edisi kedua ini diikuti 13 daerah pengrajin payung di Indonesia. Mereka berasal dari Baubau, Palu, Kuantan Singingi, Padangpanjang, Bengkulu, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan Klaten.

Selain dari dalam negeri, festival ini juga diikuti oleh delegasi negara-negara sahabat, di antaranya Thailand, Cina, dan Jepang.

Pada tanggal 23-25 September 2016, Festival Payung kembali digelar untuk ketiga kalinya dengan mengambil tema “Sky Umbrella, Exploring Indonesia”. Acara ini masih bertempat di Taman Balekambang.

Di tahun tersebut, pasar payung jadi agenda utamanya, Pasar payung mempertemukan para pengrajin payung dengan konsumen-konsumen. Tak hanya itu, banyak rangkaian kegiatan lainnya, seperti karnaval payung, pentas tari payung, fashion show payung, workshop dan melukis payung, lomba foto, sarasehan dan refleksi, serta seminar. Delegasi mancanegara, di antaranya Jepang, Thailand, Kamboja, Cina, ikut memeriahkan acara ini lagi.

Edisi keempat, atau tahun 2017, Festival Payung Indonesia berganti venue, tepatnya di Puro Mangkunegaran. Dihiasi dengan instalasi-instalasi menarik, festival kala itu mengusung tema “Sepayung Indonesia” yang punya filosofi merajut bersama rasa persatuan dan kesatuan bangsa, menghargai perbedaan dalam keberagaman, berteduh bersama di bawah payung Indonesia.

Yang cukup mencuri perhatian adalah penampilan para maestro tari dari berbagai kota. Mereka adalah Ayu Bulan Trisna Djelantik, Dariah, Didi Nini Thowok, Munasiah Daeh Djinne, Retno Maruti, dan Rusini.

Setelah empat perhelatan diadakan di Kota Solo, Festival Payung Indonesia tahun kelima berpindah ke luar kota, yaitu Candi Borobudur. Tema yang diangkat adalah “Lalitavistara”. Lalitavistara merupakan kisah yang terpapar pada relief Candi Borobudur. Maknanya adalah payung selalu hadir dalam siklus-siklus penting kehidupan, sekaligus menjadi simbol mempererat keberagaman di Indonesia.

Direktur Festival Payung Indonesia Heru Prasetya mengatakan dipiilihnya Candi Borobudur sebagai venue seakan mengembalikan festival ini ke tempat asalnya, di mana Candi Borobudur disebut sebagai ibu segala payung.



Acara ini diramaikan dengan 80-an kegiatan, antara lain fashion show, workshop, seni musik, pertunjukan tari tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dan negara pendukung, serta festival kuliner tradisional.

Tahun 2019 ini, Festival Payung Indonesia turut masuk dalam daftar sepuluh top event di Jawa Tengah yang dibikin oleh Kementerian Pariwisata. Saat ditemui Soloevent beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Pendidikan Olahraga Pemuda dan Pariwisata Jawa Tengah Sinoeng Rachmadi mengatakan event-event yang masuk dalam daftar itu dinilai berdasarkan nilai edukasi tentang kultur, keberadaan unsur kreatif atau inovasi, dan komunikasi.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Gerakan Solusi Indonesia Gelar Event GSI Youth di Kota Solo, November mendatang.

Soloevent.id - Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, gagasan, dan kemampuan untuk...

Gowes 30K Jelajah Sejarah! Intip Kemeriahan Solo Diversity Bike 2026

Soloevent.id - PT Viva Vastenburg Fortress bersama Pemerintah Kota Surakarta menggelar acara Solo Diversity...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

More like this

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...