Friday, January 23, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaYuk, Kenal Lebih Dekat Dengan Karya-Karya Di Bamboo Biennale 2016 (Bagian 2)

Yuk, Kenal Lebih Dekat Dengan Karya-Karya Di Bamboo Biennale 2016 (Bagian 2)

Published on

- Advertisement -spot_img

edit-770-513

Anemuka: Six Faces of Bamboo

Anemuka digagas oleh tiga mahasiswa Arsitektur Universitas Sebelas Maret Surakarta yakni Rifky Candra Ardhani, Marselinus David Raynaldo, dan Fitri Imanda. Karya ini berbentuk kubus yang dibangun miring. Tiap sisinya mempunyai “wajah” berbeda.

Lewat Anemuka, mereka ingin memopulerkan penggunaan bambu sebagai material yang potensial sebagai elemen kriya dan arsitektur.

Bamboo Bawana

Terletak di sebelah barat venue, Bamboo Bawana merupakan ide dari Jajang Agus Sonjaya dan Rony Arsyad yang bergabung dalam nama Bambubos. Bamboo Bawana berbentuk seperti bumi. Ya, bumi merupakan inspirasi dalam menuangkan karya ini.

Mereka menjelaskan konsep instalasi tersebut ialah semangat mengglobalkan bambu. Agus dan Rony berharap agar bambu bisa bersaing di era kekinian baik dalam seni, kriya, konstruksi, dan perkebunan.

Meditation Space

Jika kamu berkunjung ke Bamboo Biennale 2016 dan melihat ada karya berbentuk sangkar burung, maka itulah Meditation Space. Karya ini adalah kritikan terhadap perilaku masyarakat modern yang tak bisa lepas dari gadget.

Lalu apa hubungannya dengan sangkar burung? Bagi masyarakat Jawa, bentuk sangkar maupun jenis burung merupakan perlambang status sosial. Terlepas dari itu, suara burung dapat memberikan rasa ketentraman bagi si pemilik, sehingga segala pikiran-pikiran negatif bisa sirna berkat suara burung.

Namun, karena perubahan zaman, hobi tersebut mulai ditinggalkan. Masyarakat modern kini lebih terpaku kepada gadget-nya. Melalui karya ini; Budi Pradono, Sigit Ashar, dan Nabila Hudzaifah mengajak pengunjung Bamboo Biennale 2016 untuk sejenak menentramkan diri dan lepas dari pengaruh gadget.

Bagaimana cara menikmati karya ini? “Diharapkan pengunjung dapat memasukkan handphone ke dalam sangkar burung, sehingga orang yang di dalam Meditation Space ini akan mendapat suasana keheningan. Di dekat karya ini terdapat sumur yang akan memperdengarkan suara burung perkutut secara sayup-sayup. Keheningan inilah yang kami rasa dibutuhkan masyarakat saat ini,” tulis mereka dalam liner notes.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mix or Match: Cara Agra Rooftop Alila Solo Temukan Identitas Rasa Kamu Lewat Koktail

Agra Rooftop, bar rooftop tertinggi di kota Surakarta yang berlokasi di lantai 29 hotel...

Vibe Pasar Gede Beda Banget! Solo Di waktu Malam : Spot Nongkrong Klasik yang Lagi Hits

Soloevent.id - Kota Solo emang ada aja gebrakannya yang baru, selain menghadirkan berbagai acara...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Red Lantern Buffet

The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman kuliner tematik melalui Red Lantern Buffet, sebuah...

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...