Tuesday, September 22, 2026
HomeSeni dan BudayaKirab Jenazah Paku Buwono XIII Melewati Gapuro Plengkung Gading, Gerbang yang Pantang...

Kirab Jenazah Paku Buwono XIII Melewati Gapuro Plengkung Gading, Gerbang yang Pantang Dilewati Raja Semasa Hidup

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Susuhunan Paku Buwono XIII (PB XIII) telah berpulang pada Minggu (2/11/2025). Beliau berpulang pada usia 77 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat komplikasi penyakit. Jenazah Paku Buwono XIII dimakamkan di Imogiri Bantul Yogyakarta pada Rabu (5/11/2025).

Sebelum pemakaman, ada serangkaian prosesi upacara adat pelepasan. Acara dimulai dengan mengangkat peti jenazah dari Sasana Parasdya dipindahkan menuju pelatatan Bangsal Maligi. Kemudian putra-putri dan cucu Sinuhun melakukan prosesi adat brobosan dengan beberapa kali putaran. Brobosan merupakan ritual dengan berjalan melalui bawah peti jenazah.

Setelah itu, peti jenazah diangkat menuju Magangan untuk dipindahkan ke dalam kereta kencana kerajaan Rata Pralaya yang dihias bunga serba putih. Kereta jenazah itu ditarik dengan delapan ekor kuda.

Iring-iringan jenazah paling depan oleh prajurit bregada jayamisesa dan bregada jaya lalu diikuti oleh Putra Mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya yang menaiki kuda lalu rombongan keluarga dengan menaiki dua kereta lalu jenazah Paku Buwono XIII yang terakhir para abdi dalem.

Untuk rute iring-iringan jenazah dimulai dari Bangsal Magangan berjalan ke ke Alun-Alun Selatan melewati Gapura Plengkung Gading, melewati Jalan Veteran lalu Jalan Yos Sudarso lalu ke Jalan Slamet Riyadi dan berakhir di Rumah Dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung.

Dari Loji Gandrung, jenazah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII dipindahkan dari kereta kencana kerajaan Rata Pralaya ke ambulans untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju ke Makam Raja-Raja Imogiri di Bantul, Yogyakarta.

Dalam rute kirab jenazah Paku Buwono XIII melewati Kori Kamandungan Kidul dan Gapura Plengkung Gading. Menurut tradisi turun-temurun, selama masih berkuasa, seorang Sinuhun tidak diperkenankan melangkah melewati Kori Kamandungan Kidul dan Gapura Plengkung Gading.

Dalam filosofi Jawa, gerbang ini melambangkan kembalinya manusia kepada asal muasalnya, yakni Tuhan Sang Pencipta. Ini merupakan tradisi dan makna sakral yang menjadikan gerbang selatan keraton sebagai bagian penting dalam prosesi pemakaman raja. Seorang Susuhunan atau Raja Keraton hanya akan melewati pintu itu setelah berpulang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Gerakan Solusi Indonesia Gelar Event GSI Youth di Kota Solo, November mendatang.

Soloevent.id - Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, gagasan, dan kemampuan untuk...

Gowes 30K Jelajah Sejarah! Intip Kemeriahan Solo Diversity Bike 2026

Soloevent.id - PT Viva Vastenburg Fortress bersama Pemerintah Kota Surakarta menggelar acara Solo Diversity...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

More like this

Gowes 30K Jelajah Sejarah! Intip Kemeriahan Solo Diversity Bike 2026

Soloevent.id - PT Viva Vastenburg Fortress bersama Pemerintah Kota Surakarta menggelar acara Solo Diversity...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...