Tuesday, December 30, 2025
spot_img
HomeSeni dan BudayaDua Hajatan Besar Sambut Hari Tari Dunia di Kota Solo

Dua Hajatan Besar Sambut Hari Tari Dunia di Kota Solo

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Pemerintah Kota Solo bakal turut memeriahkan gelaran Hari Tari Dunia yang berlangsung pada Minggu (29/4/2018). 5.000 penari yang merupakan siswi SMP, SMA, dan sanggar tari di Solo akan menampilkan Tari Gambyong secara massal.

Dikemas dalam Solo Menari 2018, para peserta bakal berjajar sepanjang Jl. Slamet Riyadi (Gladak-Ngapeman) sejauh lebih kurang 1,4 kilometer. Acara ini akan dimulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Ada dua jenis Tari Gambyong yang bakalan dibawakan, yakni Gambyong Pareanom karya Ngaliman dan Gambyong Tri WMP ciptaan Nunuk Rahayu.

Kenapa memilih Gambyong? Menurut Maretha Dinar selaku Kabid Kesenian, Sejarah, dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Solo, Gambyong merupakan tarian asli Solo. Biasanya tarian ini digunakan untuk menyambut tamu. Dipentaskannya Tari Gambyong diharapkan bisa mengenalkan generasi muda kepada budayanya, sehingga mereka mau melestarikannya.

Rencananya, pementasan tari kolosal ini bakal akan dicatat dalam buku rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia).

Selain Solo Menari 2018, perayaan Hari Tari Dunia di Kota Solo juga berlangsung di area kampus 1 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Acara tersebut bernama Solo 24 Jam Menari 2018.

Ada 157 kelompok dari berbagai daerah di Indonesia yang akan unjuk gigi pada 29-30 April 2018. Jika ditotal, ada lebih dari 3.000 penari yang berpartisipasi di ajang tahunan ini. Event ini ditabuh pukul 06.00 dan ditutup keesokan harinya pada jam yang sama.



Tiga di antaranya adalah Wirastuti “Tutut” Susilaningtyas, Agatha Irena Praditya, dan Sri Anjani Safitri. Mereka adalah tiga seniman yang bakalan menari selama satu hari penuh tanpa henti. Setiap tahunnya, acara ini selalu dimeriahkan dengan aksi penari 24 jam.

Selain pertunjukan tari, juga akan dihelat  seminari, pameran, bazar, dan orasi budaya. Tahun ini yang akan mengisi orasi budaya adalah sutradara film sekaligus budayawan, Garin Nugroho. Orasi ini sekaligus menandai berakhirnya Solo 24 Jam Menari 2018.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

CEO yang Pernah Ditipu Habis-habisan Berbagi kisah di Solo, Bawa Misi “Re-Connect” yang Bikin 500 Orang Mewek!

Soloevent.id - Roadshow Event "Re-Connect" The Journey of Love mampir ke Kota Solo. Event...

Solo Baru Punya Lapangan Bola di Rooftop Pertama di Jateng. Harganya Cuma Segini?

Soloevent.id - Hartono Trade Center Sky Soccer Hadir pertama kalinya di Jawa Tengah. Sebuah...

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

More like this

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...

Konser “Gamelan Adi Kaloka: Merayakan Keragaman Nusantara”, sebuah konser kolaboratif seniman gamelan.

Soloevent.id - Tak kurang dari 175 talenta seni terlibat dalam sebuah pergelaran seni karawitan...