Tuesday, September 15, 2026
HomePameranMenyelami Prinsip Hidup Suku Bugis Lewat Karya Muhlis Lugis

Menyelami Prinsip Hidup Suku Bugis Lewat Karya Muhlis Lugis

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Kaya akan detail, kelam, dan dramatis. Itulah kesan yang didapat dalam karya grafis dari Muhlis Lugis (29), Juara III Kompetisi Internasional Trienal Seni Grafis Indonesia V 2015 yang digelar oleh Bentara Budaya.

Lewat 30 karya bertema “Ke Mana Harga Diri” yang dipamerkan di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo pada 13-20 April 2018, Muhlis menuangkan kritik sosial mengenai hiruk pikuk manusia di era global dari sudut pandang budaya daerahnya.

Muhlis yang berlatar suku Bugis, mengangkat salah satu falsafah hidup suku Bugis yang disebut dengan siri, yaitu rasa malu atau harga diri.

Siri merupakan pembeda seorang manusia dengan binatang yang selalu melakukan sesuatu demi kepentingannya, tanpa berpikir bahwa apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan aturan sosial bahkan merugikan orang lain.

Kesempurnaan manusia dalam pandangan hidup suku Bugis adalah apabila mereka memiliki siri. Karena jika tidak ada rasa malu, maka akan menghasilkan korupsi, pencurian, dan perilaku destruktif lainnya.

Seseorang yang tidak memiliki siri berarti dia termasuk tidak sempurna atau hanya disebut sebagai tau-tau (sosok yang meyerupai manusia).

Budaya siri tersebut kemudian ia wujudkan dalam karya seri manusia berkepala tangan. Penikmat karyanya diajak untuk mengarungi alam fantasi Muhlis Lugis yang absurd dan penuh metafora.

“Manusia bergerak utamanya karena ada rasa ingin atau hasrat. Seperti koruptor, tangannya bergerak karena ada hasrat, begitulah jadinya jika tidak punya rasa malu. Ini daya tarik yang luar biasa, tanpa kepala ini mewakili metafor budaya tanpa malu,” ujar Dosen Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta Dr. Edi Sunaryo, saat membuka pameran ini, Jumat (13/4/2018).



Dalam karyanya yang dominan berwarna hitam putih, Muhlis Lugis menerapkan teknik woodcut atau cukil kayu. Teknik yang saat ini jarang dilakukan oleh perupa muda Indonesia.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

SIPA 2026 Tegaskan Posisi sebagai Festival Seni Internasional melalui Semangat “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”

SURAKARTA – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menggelar jumpa pers di...

More like this

Satu Dekade Dayskomvis! Intip Pameran Desain ‘Interplay Visual Noise’ di Gedung Djoeang 45

Soloevent.id - Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual (DKV) telah sukses menggelar acara Dayskomvis...

Melihat Replika Kapal Jung Jawa di Pameran Museum Keliling Abhinawa Bhumi #2 Ndalem Djojokoesoeman.

Soloevent.id - Pameran Museum Keliling Abhinawa Bhumi #2 digelar di Rumah Kabudayan Ndalem Djojokoesoeman,...

Surga Anggrek Nusantara! Solo Anggrek Festival 2026 Hadir di Loji Gandrung

Soloevent.id - Solo Anggrek Festival kembali digelar untuk kedua kalinya di Kota Solo pada...