Monday, May 25, 2026
HomeSeni dan BudayaMelihat Karya-karya Penuh Makna di Tumurun Private Museum

Melihat Karya-karya Penuh Makna di Tumurun Private Museum

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Tumurun Private Museum, museum seni rupa milik keluarga pendiri PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), baru saja melakukan soft opening untuk publik pada Sabtu (14/4/2018). Hanya dibuka sehari, 300 pengunjung beruntung bisa melihat dari dekat karya-karya yang disimpan di museum tersebut.

Tidak hanya menampilkan karya yang memanjakan mata, koleksi-koleksi seni di Tumurun Private Museum juga sarat makna.

Memasuki area galeri, pandangan  langsung terfokus pada dua instalasi raksasa berwujud monster berkaki dengan banyak mata. Karya itu mengingatkan tentang minimnya privasi di media sosial. Media sosial diibaratkan mempunyai mata dan kaki yang bisa mengikuti, mendeteksi, dan mengawasi orang ke mana pun.

Karya berjudul “Changing Perspective” dari Wedhar Riyadi ini bisa dibilang paling mencolok di antara karya lainnya. Menurut pemilik Tumurun Private Museum, Iwan Kurniawan Lukminto, karya tersebut pernah ditampilkan di Artjog 10.

Beranjak ke salah satu dinding, ada karya milik Ivan Sagita yang sempat dipamerkan di National Gallery Singapura. Lukisan kontemporer beraliran surealis ini menangkap fenomena klasik manusia. Sesuai judulnya, “Manusia yang Topeng” menggambarkan manusia dikendalikan oleh orang lain atau memiliki dua muka.

Beralih ke karya lukis kontemporer, karya berjudul “The Abstract Between (255,6,6) and (14,1,1)” dari Aditya Novali cukup menarik perhatian. Seniman muda dari Solo ini menumpahkan kreativitasnya  lewat lukisan abstrak di atas media plexiglass. Terkesan minimalis dengan garis-garis yang dibuat sangat presisi, tetapi belakangnya terlihat ada emosi mendalam dari goresan tinta merah.

Satu yang spesial adalah karya milik Eddy Susanto yang berjudul “Melencolia I”. Wawan – sapaan Iwan Kurniawan Lukminto – mengaku butuh waktu lama hingga ia bisa mendapatkan karya tersebut.

“Saya sampai merayu galeri yang dulu menyimpannya cukup lama. Galerinya menilai ini karya penting dan sebenarnya tidak mau dijual. Tapi setelah tahu akan dikoleksi oleh museum, akhirnya beliau mau,” ceritanya dalam jumpa pers.

“Melencolia I” menceritakan polarisasi kekuasaan Eropa yang memiliki kesamaan situasi dengan sejarah Babad Tanah Jawi di abad 16. Yang unik, jika dilihat dari dekat, lukisan ini memiliki pola yang dibentuk oleh aksara Jawa.

Sekitar 100 koleksi lukisan Tumurun Private Museum dibagi menjadi dua divisi, yakni modern art dan kontemporer. Lukisan-lukisan tersebut berasal dari pelukis senior dan muda Indonesia, seperti Affandi, Sudjojono, Ahmad Sadali, Aditya Novali, Eddy Susanto, Eko Nugoho, dan lainnya. Ada juga karya dari pelukis Eropa yang pernah ke Indonesia di rentang tahun 1923 hingga 1980.



- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

Meski Balon Udara Gagal Terbang, Warga Tetap Padati Alun-Alun Utara Solo

Soloevent.id - Belasan balon udara yang disiapkan manajemen Bank Jateng Syariah Cabang Solo dalam...

Dari Kuliner Viral sampai Guyon Waton, Ini Keseruan Uleg Bazar Kuliner 2026 di Mangkunegaran

Soloevent.id - Uleg Bazar Kuliner (UBK) 2026 digelar pada 14 hingga 17 Mei 2026...

More like this

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

Semarak Budaya Indonesia 2026 Kembali Hadir di Solo Bawa Semangat “Swarna Bumi Bahari”

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 sebagai agenda tahunan Kota Surakarta kembali digelar...