Tuesday, June 30, 2026
HomeSeni dan BudayaKarya Masterpiece Sapardi, Hujan Bulan Juni, Difilmkan

Karya Masterpiece Sapardi, Hujan Bulan Juni, Difilmkan

Published on

- Advertisement -spot_img

HUJAN-BULAN-JUNI-01

 

Soloevent.id“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang membuatnya lapuk.”

 

Itulah salah satu penggalan puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang dibacakan oleh salah satu penggemarnya. Pada Rabu (27/9/2017), lantai 1 Gramedia Slamet Riyadi dipenuhi penggemar Sapardi yang akan melakukan meet & greet dan booksigning.

 

Pukul 17.00 WIB, penyair “Hujan Bulan Juni” ini hadir. Dirinya menceritakan bagaima proses diangkatnya “Hujan Bulan Juni” ke layar lebar. Sapardi mengatakan film Hujan Bulan Juni disokong penuh oleh pemerintah Manado serta dibintangi Velove Vexia dan Adipati Dolken.

 

“Kalau filmnya bagus ya berarti novelnya bagus. Kalau filmnya jelek ya berarti salah filmnya, bukan novelnya yang jelek,” kelakarnya.

 

HUJAN-BULAN-JUNI-03

 

Sapardi mengaku tidak terlibat dalam pembuatan film tersebut. Mulai dari isi cerita hingga pemilihan pemain, ia bebaskan pada tim produksi film. Walau Sapardi enggan berkomentar soal film Hujan Bulan Juni, ia menjamin secara fotografi dan scene-nya bakalan bagus karena indahnya pemandangan Kota Manado tertangkap dengan apik.

 

Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai penyair hujan karena beberapa puisinya bertemakan hujan. Lelaki kelahiran Solo, 20 Maret 1940 ini mulai menulis sejak kelas 2 SMA. Total sudah 14 bukunya yang terbit, Melipat Jarak dan Manuskrip Sajak adalah bukunya yang terbaru.

 

Khusus untuk Manuskrip Sajak, Sapardi menceritakan saat beres-beres rumah ia menemukan manuskrip puisi yang dibuat tahun 1957, yang masih ditulis tangan. Pikirnya pada saat itu iadalah sayang jika dibuang, tapi belum tahu mau diapakan.

 

HUJAN-BULAN-JUNI-04

 

Lalu dibantu seniman Indah Tjahjawulan karya tersebut dijadikan buku. Di sini pembaca bisa tahu bagaimana proses kreatif Sapardi menulis, mulai dari menulis dengan tangan, mesin ketik, PC, sampai laptop.

 

“Perbedaanya pas tulis tangan bisa saya coret, dan coretannya masih ada bisa terbaca. Ini jejaknya. Kalau mesin ketik kan tidak ada, jadi kalian bisa tahu ternyata Sapardi dulu tuh cengeng to,” katanya.

 

Di akhir acara ia pun menjanjikan memberi Manuskrip Sajak pada penggemar yang membuat catatan tentang buku-bukunya.

 

 

Teks & foto: Yasinta Rahmawati

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Jamming Session Road to Intimate Concert Sandhy Sondoro di Canting Londo Kitchen – Hotel Zigna Kampung Batik

Soloevent.id - Zigna Kampung Batik Laweyan akan menggelar acara musik berkualitas dengan menghadirkan musisi...

Lomba Cerdas Cermat “Jawara Kenduren” Meriahkan Event Adikarya Fest Kenduren UMKM 2026

Soloevent.id - Bank Indonesia Solo kembali menggelar acara Adikarya Fest Semarak Kenduren UMKM 2026...

Atraksi Komunitas Solo Roller Blade, BMX dan Skateboard Meriahkan HUT Solo Car Free Day ke-16

Soloevent.id - Hari Ulang Tahun (HUT) Solo Car Free Day Solo Digelar Secara Meriah...

More like this

Gurihnya Jenang Suro Gratis di Pasar Triwindu, 500 Porsi Ludes!

Soloevent.id - Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu Solo menggelar tradisi unik bulan suro yaitu tradisi...

Solo Heritage Festival 2026 Hadirkan Panggung Awarding di Taman Balekambang Solo

Soloevent.id - Solo Heritage Festival 2026 kembali digelar pada Jumat-Minggu (12-14/6/2026) di Taman Balekambang...

Kirab Bhinneka Gandekan 2026, Tampilkan Berbagai Potensi Budaya Kelurahan Gandekan

Soloevent.id - Kirab Bhinneka Gandekan kembali digelar di Kelurahan Gandekan Solo, Senin (1/6/2026). Event...