Thursday, October 8, 2026
HomeSeni dan BudayaKarya Masterpiece Sapardi, Hujan Bulan Juni, Difilmkan

Karya Masterpiece Sapardi, Hujan Bulan Juni, Difilmkan

Published on

- Advertisement -spot_img

HUJAN-BULAN-JUNI-01

 

Soloevent.id – “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang membuatnya lapuk.”

 

Itulah salah satu penggalan puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang dibacakan oleh salah satu penggemarnya. Pada Rabu (27/9/2017), lantai 1 Gramedia Slamet Riyadi dipenuhi penggemar Sapardi yang akan melakukan meet & greet dan booksigning.

 

Pukul 17.00 WIB, penyair “Hujan Bulan Juni” ini hadir. Dirinya menceritakan bagaima proses diangkatnya “Hujan Bulan Juni” ke layar lebar. Sapardi mengatakan film Hujan Bulan Juni disokong penuh oleh pemerintah Manado serta dibintangi Velove Vexia dan Adipati Dolken.

 

“Kalau filmnya bagus ya berarti novelnya bagus. Kalau filmnya jelek ya berarti salah filmnya, bukan novelnya yang jelek,” kelakarnya.

 

HUJAN-BULAN-JUNI-03

 

Sapardi mengaku tidak terlibat dalam pembuatan film tersebut. Mulai dari isi cerita hingga pemilihan pemain, ia bebaskan pada tim produksi film. Walau Sapardi enggan berkomentar soal film Hujan Bulan Juni, ia menjamin secara fotografi dan scene-nya bakalan bagus karena indahnya pemandangan Kota Manado tertangkap dengan apik.

 

Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai penyair hujan karena beberapa puisinya bertemakan hujan. Lelaki kelahiran Solo, 20 Maret 1940 ini mulai menulis sejak kelas 2 SMA. Total sudah 14 bukunya yang terbit, Melipat Jarak dan Manuskrip Sajak adalah bukunya yang terbaru.

 

Khusus untuk Manuskrip Sajak, Sapardi menceritakan saat beres-beres rumah ia menemukan manuskrip puisi yang dibuat tahun 1957, yang masih ditulis tangan. Pikirnya pada saat itu iadalah sayang jika dibuang, tapi belum tahu mau diapakan.

 

HUJAN-BULAN-JUNI-04

 

Lalu dibantu seniman Indah Tjahjawulan karya tersebut dijadikan buku. Di sini pembaca bisa tahu bagaimana proses kreatif Sapardi menulis, mulai dari menulis dengan tangan, mesin ketik, PC, sampai laptop.

 

“Perbedaanya pas tulis tangan bisa saya coret, dan coretannya masih ada bisa terbaca. Ini jejaknya. Kalau mesin ketik kan tidak ada, jadi kalian bisa tahu ternyata Sapardi dulu tuh cengeng to,” katanya.

 

Di akhir acara ia pun menjanjikan memberi Manuskrip Sajak pada penggemar yang membuat catatan tentang buku-bukunya.

 

 

Teks & foto: Yasinta Rahmawati

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Disco Pilates Hadir Pertama Kali di Solo, Musro The Sunan Hotel Solo

Kolaborasi Yogashala dan Music Room The Sunan Hotel Solo SOLO, 3 Oktober 2026 — Ada...

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...

Gerakan Solusi Indonesia Gelar Event GSI Youth di Kota Solo, November mendatang.

Soloevent.id - Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, gagasan, dan kemampuan untuk...

More like this

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...