Thursday, October 15, 2026
HomeBisnisKisah Sukses Seller Bukalapak Solo

Kisah Sukses Seller Bukalapak Solo

Published on

- Advertisement -spot_img

KISAH SUKSES SELLER BUKALAPAK SOLO

Jual barang gak harus baru. Barang lama pun bisa jadi duit.

Itulah salah satu prinsip Rully, sang best seller dari Bukalapak wilayah Solo. Alumni Fisip UNS Jurusan Komunikasi Massa ini memiliki dua kios di Bukalapak yang ia namai KMR (Kios Mas Rully) dan Solo Butik (Bunda Atik).

Ia beralasan pemilihan nama KMR dan Solo Butik karena mudah saat pengunjung searching di Bukalapak. Rully menyampaikan nasihat pertamanya, “Temen-temen kalau mau mbikin nama yang baik sekalian. Nanti kalo sudah besar (namanya), kita juga yang seneng,” kata dia saat mengisi Talkshow Bukalapak di Aula Fisip UNS, Jumat (1/4/2016)

Awal kariernya, Rully adalah seorang karyawan di salah satu pabrik tekstil di Palur. Bakat design yang ia dapat selama kuliah, digunakan saat mencoba usaha dagang. Dalam talkshow nya, ia menceritakan kisah masa kecilnya saat diajarkan secara tak langsung oleh ayahnya untuk berdagang.

“Dulu ketika umur 3-4 tahun, saya ingin mainan layangan seperti teman-teman saya di lapangan. Ayah memberi saya 12 layangan secara langsung dengan syarat layangannya tidak boleh berkurang kalo bisa nambah. Ya sudah saya jual saja ke teman-teman saya. Jadi saya bisa terus mainan dan layangan saya malah nambah,” bebernya kepada 422 peserta talk show Bukalapak.

Pemilihan bisnis lewat online dinilai Rully sangat cerdas. Menurutnya, seller hanya butuh smartphone dan niat untuk memulai bisnis online. “Kalo offline, kadang lapangan tidak mendukung. Di Bukalapak sehari bisa lebih dari dua juta pengunjung. Dari situ kita bisa melihat selera pasar,”ungkap lelaki yang memiliki omset Rp400 juta – Rp500 juta perbulan ini.

Di KMR, Rully menjual barang bekas seperti fish eye, lensa dan semua kebutuhan fotografi. Sedangkan di Solo Butik, ia menjual aksesoris, mainan, mobil diescast, baju, gelang yang berharga tidak lebih dari Rp150.000.

“Saya jual barang bekas saja laku. Apalagi barang baru. Ini artinya semua barang punya segmentasi sendiri. Yang paling penting adalah kita harus memulai bisnis dengan hobi kita sendiri,” ulasnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Disco Pilates Hadir Pertama Kali di Solo, Musro The Sunan Hotel Solo

Kolaborasi Yogashala dan Music Room The Sunan Hotel Solo SOLO, 3 Oktober 2026 — Ada...

More like this

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Disco Pilates Hadir Pertama Kali di Solo, Musro The Sunan Hotel Solo

Kolaborasi Yogashala dan Music Room The Sunan Hotel Solo SOLO, 3 Oktober 2026 — Ada...

Gerakan Solusi Indonesia Gelar Event GSI Youth di Kota Solo, November mendatang.

Soloevent.id - Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, gagasan, dan kemampuan untuk...