Monday, May 25, 2026
HomeSeni dan BudayaDi Bo Sang Umbrella Festival, Bambang Besur Tampilkan “Mantra Payung”

Di Bo Sang Umbrella Festival, Bambang Besur Tampilkan “Mantra Payung”

Published on

- Advertisement -spot_img

DI BO SANG UMBRELLA FESTIVAL, BAMBANG BESUR TAMPILKAN “MANTRA PAYUNG”

Delegasi Festival Payung Indonesia akan turut berpartisipasi di ajang festival payung kelas internasional, Bo Sang Umbrella Festival, yang diadakan 15-17 januari 2016 di Desa Bo Sang, Provinsi Chiang Mai, Thailand. Delegasi Festival Payung Indonesia membawa misi untuk menjadikan Festival Payung Indonesia dan Bo Sang Umbrella Festival sebagai sister festival.

Gagasan itu tercetus karena adanya kemiripan antara kesenian dan kebudayaan di antara dua negara, pun antara Indonesia dan Thailand masih satu rumpun. “Kerjasama ini diharapkan dapat berdampak positif terhadap keberadaan perajin payung tradisional dan tingkat  kunjungan wisatawan Thailand ke Kota Solo,” tutur Direktur Program Festival Payung Indonesia, Heru Prasetya.

Di Bo Sang Umbrella Festival, Festival Payung Indonesia bakal menampilkan pameran payung tradisional, demo melukis payung motif Candi Sukuh oleh Dani Iswardana Wibowo, lukis payung motif aksara Jawa oleh Kris Wahyudi, dan pertunjukan tari payung oleh Bambang Besur.

Bambang Besur akan menarikan tarian yang ia namai “Mantra Payung”. “Mantra Payung” merupakan tarian yang diambil dari Tari Bedhaya Tejonoto. Tarian ini menonjolkan gerakan tubuh yang lembut dan halus, dan mengalir.

Bambang mengatakan, tari ini cocok ditampilkan di Thailand karena ada kesamaan konsep dengan Buddhism. “Makin pelan, ornamen geraknya makin tidak ada. Kekuatannya di situ. Makanya saya tidak terlalu menonjolkan ornament gerak,” jelasnya saat ditemui awak media di Omah Sinten, Kamis (8/1/2016).

Seperti namanya, tarian ini menggunakan aksesoris payung dan topeng. Bagi Bambang Besur, payung bukanlah pemanis gerakan, melainkan telah menjadi kesatuan dari konsep tari yang diusungnya. “Payung tidak terlepas dari segmen tubuh kita. Dia bagian dari tubuh kita. Jadi, tidak terpisah,” urainya.

Gerakan-gerakan yang ditampilkan Bambang Besur dari “Mantra Payung” merupakan cerminan vibrasi alam semesta. “Tari ini tercipta dari proses panjang. Setiap saya menari adalah mantra. Untuk mencapai gerak tubuh sebagai mantra, yang diperlukan adalah pernafasan. Jadi sebenarnya, orang menari adalah mantra,” kata seniman kelahiran 26 Oktober 1960 itu.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

Meski Balon Udara Gagal Terbang, Warga Tetap Padati Alun-Alun Utara Solo

Soloevent.id - Belasan balon udara yang disiapkan manajemen Bank Jateng Syariah Cabang Solo dalam...

Dari Kuliner Viral sampai Guyon Waton, Ini Keseruan Uleg Bazar Kuliner 2026 di Mangkunegaran

Soloevent.id - Uleg Bazar Kuliner (UBK) 2026 digelar pada 14 hingga 17 Mei 2026...

More like this

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

Semarak Budaya Indonesia 2026 Kembali Hadir di Solo Bawa Semangat “Swarna Bumi Bahari”

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 sebagai agenda tahunan Kota Surakarta kembali digelar...