Monday, September 14, 2026
HomeSeni dan BudayaEndang Caturwati: Spirit World Dance Day Jadi Media Ekspresi Masyarakat

Endang Caturwati: Spirit World Dance Day Jadi Media Ekspresi Masyarakat

Published on

- Advertisement -spot_img

PENUTUPAN SOLO 24 JAM MENARI_

 

Keempat penari yang menari 24 jam nonstop dalam Solo 24 Jam Menari (Anggono Kusumo [Solo], Stefanus Adi Prastiwa [Lubuk Linggau], Alfianto [Bandung], dan Abdurachem Jati [DKI Jakarta]) , akhirnya mengakhiri penampilannya tepat pada pukul 06.00 WIB di hari Kamis (29/4/2015). Di detik-detik akhir penutupan event yang di tahun ini menginjak edisi kesembilan tersebut, keempatnya menari beriringan dalam satu panggung.

Dalam closing ceremony itu, disampaikan pula orasi budaya yang dibacakan oleh Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Endang Caturwati.

Tari, menurut Endang, merupakan nafas yang bisa menggerakkan bangsa dan budaya. “Sajian ini menampilkan kelokalan yang dapat menumbuhkan karakter bangsa dan dapat mengangkat martabat manusia,” ucapnya di Teater Kapal Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Dalam orasinya itu, Endang memandang tari adalah salah satu media ekspresi masyarakat, dari segala elemen. Spirit yang dimunculkan di World Dance Day, diharapkan dapat menyebar ke seluruh kota besar dan desa-desa.

Tak lupa, Endang juga menyinggung peran tari dari sudut pandang kebutuhan hidup. Menurutnya, tari merupakan sarana potensial bagi seniman untuk berkarya sekaligus menyambung hidup. “Dari spirit World Dance Day pula, seniman dapat menghidupi seni itu sendiri. Sehingga bagi seniman tari ke depannya, dapat menjadi peluang bagi mereka untuk hidup dari seni tari,” jelasnya.

Salah satu penari 24 jam asal Bandung, Alfianto, mengusulkan di tahun depan agar ada pendanaan pemerintah kepada penyaji yang tampil di Solo 24 Jam Menari. “Mungkin bisa diusulkan kepada pemerintah terkait masalah pendanaan penyaji. Di event ini saya membawakan tiga buah karya tari tanpa dana produksi dari panitia. Padahal saya turut membawa pula kru dan delapan penari,” ungkapnya saat ditemui awak media.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

SIPA 2026 Tegaskan Posisi sebagai Festival Seni Internasional melalui Semangat “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”

SURAKARTA – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menggelar jumpa pers di...

More like this

SIPA 2026, Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan  seni pertunjukan  bertaraf  internasional di...

SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan di Hari Kedua

Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali melanjutkan rangkaian pertunjukannya di Pamedan Pura Mangkunegaran,...

SIPA 2026 Tegaskan Posisi sebagai Festival Seni Internasional melalui Semangat “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”

SURAKARTA – Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menggelar jumpa pers di...