Friday, August 7, 2026
HomeSeni dan BudayaSloso Legen Milik Soedjatmoko

Sloso Legen Milik Soedjatmoko

Published on

- Advertisement -spot_img

SLOSO-LEGEN-MILIK-SOEDJATMOKO

Sloso Legen atau dapat dikatakan sebagai acara milik Balai Soedjatmoko ini diperingati setiap hari selasa legi atau disebut “Klenengan”. Soedjatmoko sendiri adalah seorang anak dari Saleh Mangundiningrat, yang bersandang sebagai rektor Universitas cokro Aminoto. Soedjatmoko mempunyai seorang kakak perempuan yang dipinang oleh Perdana Menteri Indonesia pertama yaitu Sultan Syahrir. Beliau hidup dirumah milik ayahnya ini, dari tahun 1941 hingga 1950an. Rumah yang sekarang menjadi Balai depan gedung Gramedia ini adalah rumah yang pernah ditempati Soedjatmoko di jalan Slamet Riyadi. Dan beliau wafat pada tahun 1989.

Klenengan diprakarsai oleh seseorang bernama Joko Bibit Santoso. Tujuan utama dari acara klenengan atau sloso legen ini adalah “memberi ruang untuk para kelompok-kelompok karawitan di kampung atau desa, agar mengetahui identitas bangsanya sendiri, musik itu kan kalau sendiri tidak bisa berirama, harus dalam satu kesatuan baru bisa disebut musik” ujar seorang panitia yang ditemui senin 30/06.

Acara klenengan ini pun dibuat agar melestarikan budaya karawitan, tak hanya sekedar melestarikan acara ini juga bertujuan memperkenalkan musik karawitan kepada para pengunjung yang ada malam ini. “namanya sanggar tri darma, dari kelurahan Jajar. Di kelurahan Jajar sendiri ada 2 sanggar, namun malam ini kami yang mengisi disini” kata Ngarso, seorang pemimpin kelompok karawitan.

Dalam acara yang satu ini, kelompok karawitan diundang dalam acara sloso legen untuk memperingati hari lahirnya bapak yang namanya tertera di Balai depan gedung buku ini. selain itu, Balai ini sering sekali memberi ruang untuk kelompok-kelompok seperti karawitan ini. Tak hanya karawitan, jazz, keroncong juga disajikan di Balai Soedjatmoko. Sebenarnya tak benar-benar tampil para kelompok karawitan ini, hanya saja latihan mereka dipindah pada malam sloso legen ini. dengan tampilan panggung sederhana, beberapa alat karawitan sudah di jajal oleh para pemain.

Cara orang berbeda dalam melestarikan budaya, walau tak bisa menjadi pemainnya, jadilah orang yang menyukai budaya dengan cara lain walau hanya sekedar penikmat, atau penonton saja. So, biar identitas budaya kita gak dicolong tetangga sebelah.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Korea Tourism Organization Perkuat Kerja Sama denganIndustri Pariwisata melalui Korea Tourism Seminar Solo 2026

Solo, 6 Agustus 2026 – Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta kembali memperkuat promosi pariwisata...

Resmi Diumumkan! “Gondrong” Gunarto Terpilih Jadi Ambassador SIPA 2026.

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 dengan bangga memperkenalkan "Gondrong" Gunarto sebagai...

Pecah Maksimal! Trio Macan, Denny Caknan hingga NDX AKA Sukses Goyang De Tjolomadoe.

Soloevent.id - Ribuan orang joget bareng di konser FYP (FestivalnYa Pedangdut) di De Tjolomadoe,...

More like this

Resmi Diumumkan! “Gondrong” Gunarto Terpilih Jadi Ambassador SIPA 2026.

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 dengan bangga memperkenalkan "Gondrong" Gunarto sebagai...

Melihat Replika Kapal Jung Jawa di Pameran Museum Keliling Abhinawa Bhumi #2 Ndalem Djojokoesoeman.

Soloevent.id - Pameran Museum Keliling Abhinawa Bhumi #2 digelar di Rumah Kabudayan Ndalem Djojokoesoeman,...

Kolaborasi Lintas Generasi di Satu Panggung Solo Keroncong Festival 2026

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali digelar pada Sabtu (18/7/2026) di Alun-Alun...