Wednesday, June 17, 2026
HomeLainnyaFilosofi Jenang Procot

Filosofi Jenang Procot

Published on

- Advertisement -spot_img

jenang

Soloevent.id – Pernah mendengar atau mencicipi Jenang Procot atau Jenang Grawul? Keduanya adalah jenang tradisional khas Solo. Mungkin bagi generasi muda di era milenial ini, nama-nama tersebut terdengar asing.

Untuk mengenalkan lagi ke masyarakat – khusunya anak muda, jenang-jenang itu disajikan dalam Festival Jenang Solo 2017 yang diadakan di koridor Ngarsopuro, Jumat (17/2/2017). Ada 17 jenang tradisional khas Solo yang disuguhkan dalam event ini.

Soloevent sempat mencoba beberapa jenang yang dimasak oleh ibu-ibu PKK. Salah satunya yakni jenang bikinan ibu-ibu PKK RW 2 Kelurahan Pucangsawit, yang menyediakan Jenang Procot dan Jenang Grawul. Soloevent disambut oleh Ketua PKK RW 2 Kelurahan Pucangsawit, Retno Untari.

Retno menjelaskan, Jenang Procot dimasak dari tepung beras. Sedangkan untuk juruh atau kuahnya menggunakan santan yang dicampur gula jawa cair. Cara penyajiannya, jenang dituangkan dalam takir kemudiah diguyuri juruh. Di tahap akhir, jenang diberi potongan pisang raja.

Bagian akhir inilah yang unik karena pisang tidak ditaruh begitu saja di atas jenang, melainkan diperosotkan dari daun pisang yang dibentuk menyerupai tabung. “Bentuk ini menyimbolkan jarik yang dipakai kaum wanita saat akan melahirkan anak. Kalau pisang raja menandakan kelahiran bayi,” terang Retno.

Menurut Retno, Jenang Procot dibuat supaya memudahkan proses persalinan. Penganan ini biasanya dihidangkan saat usia kehamilan mencapai 9 bulan 10 hari. “Diharapkan sesudah mengonsumsi Jenang Procot, bayi lahir selamat dengan proses dan dalam kondisi normal,” terangnya.

PKK RW 2 Kelurahan Pucangsawit juga memasak Jenang Grawul. Berbeda dengan Jenang Procot yang lembut, tekstur Jenang Grawul agak kasar. “Ya memang [teksturnya] dibikin kasar karena itu menyimbolkan gigi bayi. Jenang ini dibuat supaya bayi cepat tumbuh gigi,” ujar Retno.

Ketua Dewan Pengawas Yayasan Jenang Indonesia, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipokusumo, menguraikan,dalam budaya Jawa, jenang selalu melekat dalam kehidupan, terutama saat momen-momen penting.

“Di beberapa prosesi, jenang selalu hadir. Ini menandakan bahwa melalui jenang, nenek moyang kita mengajarkan tentang pemahaman hidup dalam suasana penuh keyakinan kepada Sang Maha Pencipta. Lewat jenang pula kita diajari untuk berhubungan baik dengan masyarakat dan alam” katanya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Solo Heritage Festival 2026 Hadirkan Panggung Awarding di Taman Balekambang Solo

Soloevent.id - Solo Heritage Festival 2026 kembali digelar pada Jumat-Minggu (12-14/6/2026) di Taman Balekambang...

Event TED×UNS 5.0 di Taman Budaya Jawa Tengah, Hadirkan Talkshow Bersama Narasumber Inspiratif

Soloevent.id - TEDxUNS 5.0 menggelar acara utamanya yang bertajuk "Petals in Motion" dengan tema...

Targetkan 7.000 Pelari: Solo Run Fest 2026 Padukan Olahraga, Budaya & Tren Kalcer!

Soloevent.id - Solo Run Fest 2026 kembali digelar, memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ajang lari...

More like this

Targetkan 7.000 Pelari: Solo Run Fest 2026 Padukan Olahraga, Budaya & Tren Kalcer!

Soloevent.id - Solo Run Fest 2026 kembali digelar, memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ajang lari...

Praktik Langsung, Siswa Broadcasting dan Film SMKN 7 Surakarta Gelar Karya Film Pendek dan Video Musik

Soloevent.id - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Surakarta menggelar kegiatan gelar karya di...

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Gelar Event Kaum Ngalcerun di Kampung Wisata Batik Kauman

Soloevent.id - Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta menggelar kegiatan Kaum Ngalcerun di...