Soloevent.id – Festival Payung Indonesia (FESPIN) kembali digelar pada Jumat-Minggu (4-6/9/2026) di Taman Balekambang Solo. Perhelatan seni budaya ke-13 ini dibuka secara meriah dengan berbagai penampilan kesenian.
Acara dimulai dengan penampilan Tari Gambyong Pareanom dari Langen Mataya Gendhon Humardani. Sebuah tarian untuk menyambut kedatangan tamu. Acara dilanjutkan dengan Parade Sepayung Indonesia yang menampilkan para delegasi kesenian dari berbagai Negara diantaranya Jepang, India, Pakistan, Thailand dan Korea Selatan.
Lalu, penampilan fashion show berbagai Negara oleh 567eight Dance Studio. Kemudian, penampilan teatrikal dari Omah Mili feat Sanggar Manyar, alumni MTN TBJT 2026, LPS Solo, Ibu Rusini, Arutala Natya dengan judul Pari Wengker. Tari ini mengangkat hubungan manusia dengan alam khususnya padi sebagai sumber kehidupan. Manusia sebagai penjaga padi kehidupan.
Festival Payung Indonesia menjadi sebuah acara seni budaya skala internasional yang telah masuk Top 3 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata RI. Penghargaan tersebut diserahkan Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno kepada Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.

Founder Festival Payung Indonesia Heru Mataya mengatakan, “Festival Payung yang ke-13 ini adalah sebuah festival yang membangun semangat kebersamaan, kolaborasi antar bangsa. Tahun ini kami juga mengundang beberapa kurator dari Korea Selatan, India, Thailand, Jepang dan Mongolia. Ini salah satu kolaborasi antar bangsa yang harapan kami Fespin bisa menjadi salah satu alat diplomasi budaya antar bangsa. Tahun 2026, Fespin melibatkan peserta dari 41 kabupaten/kota di Indonesia dan lima negara. Ini adalah upaya kami sebenarnya bagaimana payung tradisi bisa menginspirasi dari para pegiat atau penggerak serta seniman di Indonesia. Tahun ini kita akan membangun aliansi kota festival dimana kami akan membangun hubungan festival-festival Indonesia dalam semangat dengan konsep sepayung Asia. Dalam acara ini tidak hanya pameran tetapi juga bisa melihat proses dibalik para seniman payung,” ujarnya saat membuka acara Festival Payung Indonesia 2026, Jumat Sore (6/9/2026) di Amphiteater Stage Taman Balekambang Solo.
Tahun ini FESPIN mengangkat tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri”. Tema tersebut membawa payung tradisional ke dalam narasi yang lebih luas tentang padi, ketahanan pangan, budaya, dan kehidupan masyarakat. FESPIN 2026 tidak hanya menyuguhkan instalasi seni payung, namun juga melibatkan komunitas seni, ekonomi kreatif, lingkungan, serta masyarakat dalam berbagai aktivitas budaya.
Festival ini menjadikan payung bukan sekadar benda untuk melindungi tubuh dari panas dan hujan, tetapi sebagai medium ekspresi seni sekaligus simbol kekayaan tradisi Nusantara. Beragam karya payung dari berbagai komunitas akan menjadi bagian dari ruang kreatif yang mempertemukan seni, budaya, dan kehidupan masyarakat.




