Soloevent.id – Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu Solo menggelar tradisi unik bulan suro yaitu tradisi membuat dan membagikan jenang suro, Selasa (16/6/2026) di Pasar Triwindu Solo. Acara ini digelar tepat pada 1 Suro dalam penanggalan Jawa atau 1 Muharam Tahun Baru Islam.
Jenang Suro yang dibagikan kepada masyarakat yang datang yaitu jenang gurih atau bubur lemu sambel goreng tholo lengkap dengan lauk seperti perkedel dan telur. Selain itu, panitia juga menyediakan berbagai jajanan pasar tradisional sebagai upaya mengenalkan kuliner warisan budaya kepada masyarakat.
Ketua Paguyuban Pasar Triwindu Nur Bramantyo mengatakan, “Ini merupakan warisan budaya yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh para pedagang di Pasar Triwindu. Setiap tahun pada bulan suro memang tradisinya membuat jenang suro ini lalu kami makan bersama-sama disini. Tahun ini sedikit berbeda, kami.membuat jenang suro untuk dibagikan kepada masyarakat sekaligus berbagai berkah bulan suro juga. Kami menyediakan 500 porsi jenang suro gratis dan jajanan pasar. Harapannya ya ingin mengenalkan juga Pasar Triwindu kepada masyarakat luar dan menggerakkan perekonomian pedagang disini,” ujarnya kepada soloevent disela acara.

Antusiasme masyarakat yang sekedar datang atau ingin mencicipi jenang suro cukup tinggi. Ini terlihat 500 porsi jenang suro yang disiapkan panitia langsung ludes habis diserbu masyarakat. Salah satunya Ima asal Solo yang datang bersama temannya mengatakan, “Ini pertama kalinya makan jenang suro. Kayak penasaran saja apa sih jenang suro itu trus tadi ikut antri sama dapat jajanan pasar juga,” ujarnya sambil makan jenang suro.
Acara pembagian jenang suro juga menjadi daya tarik wisata tersendiri sekaligus menjadi cara memperkenalkan tradisi budaya yang ada di kota Solo, khususnya Pasar Triwindu. Pasar Triwindu menjadi salah satu ikon kota Solo yang dikenal sebagai pusat penjualan barang-barang antik dan kuno. Dulunya Pasar Triwindu merupakan kandang kuda (gedogan) milik Pura Mangkunegaran.
Lalu, Tempat ini dijadikan pasar barang antik dan kuno hingga sekarang. Pasar Triwindu juga sempat berganti nama menjadi Pasar Windu Jenar, hingga pada 17 Juni 2011 diputuskan nama pasar ini kembali menjadi Pasar Triwindu.




