Friday, October 16, 2026
HomeSeni dan BudayaSolo: Dulu Rawa Kini Jadi Kota Paling Nyaman Ditinggali

Solo: Dulu Rawa Kini Jadi Kota Paling Nyaman Ditinggali

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Kota Solo baru saja memperingati hari jadinya yang ke-273 pada 17 Februari 2018 lalu. Menengok jauh ke belakang, sejarah berdirinya Kota Solo tidak lepas dari pindahnya Keraton Kartasura ke Surakarta.

Dihimpun Soloevent dari berbagai sumber, pada tahun 1742 terjadi tragedi Geger Pecinan yang meruntuhkan Kesultanan Mataram yang berpusat di Kartasura. Peristiwa tersebut mengakibatkan keraton rusak parah, sehingga membuat Raja Kesultanan Mataram saat itu, Sunan Paku Buwono (PB) II, mempertimbangkan untuk memindahkan keraton.

Setelah mengutus bawahannya dan melewati proses yang panjang, akhirnya dipilihlah Desa Sala yang berjarak 20 km ke arah tenggara dari Kartasura. Sebuah desa di dekat sungai besar yang kini disebut Sungai Bengawan Solo.

Untuk pembangunan keraton ini, PB II membeli tanah seharga selaksa keping emas/10.000 Gulden Belanda yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala.

 

Proses pembangunan keraton di Desa Sala berlangsung pada tahun 1743 hingga 1745. Setelah segala persiapan dianggap selesai, pada hari Rabu Pahing ,17 Februari 1745 , Sunan PB II mengadakan kirab besar-besaran saat pindah ke istana baru dan menamai istananya sebagai Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rekonstruksi sejarah berdirinya Kota Solo ini ditampilkan dalam Tari Kolosal “Adeging Kuta Sala” pada Minggu (18/2/2018) pagi di Jalan Jendral Sudirman oleh lebih dari 200 seniman dan musisi. “Adeging Kuta Sala” menggambarkan secara runtut mulai dari pertempuran antara tentara istana dengan pemberontak dan diakhiri oleh Raja PB II yang melakukan kirab perpindahan keraton.

“Dulu Solo adalah daerah rawa yang sepi, sekarang Solo masuk daftar kota paling nyaman untuk ditinggali,” ujar Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, saat diminta bergabung dengan penari di tengah acara.

Lewat tari kolosal yang berlangsung hampir dua jam ini, Wali Kota Solo berharap generasi muda dapat terus mengingat sejarah kotanya. Rencananya tari kolosal ini akan digelar setiap tahun.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Disco Pilates Hadir Pertama Kali di Solo, Musro The Sunan Hotel Solo

Kolaborasi Yogashala dan Music Room The Sunan Hotel Solo SOLO, 3 Oktober 2026 — Ada...

More like this

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...

Solo International Performing Arts Hari Kedua Tampilkan  5 Delegasi Seni Yang Memukau

Soloevent.id - Solo International Performing Arts (SIPA) 2026  Hari kedua menampilkan beragam karya seni...