Tuesday, October 20, 2026
HomeSeni dan BudayaTetesan: Upacara Buang Sial Khas Jawa

Tetesan: Upacara Buang Sial Khas Jawa

Published on

- Advertisement -spot_img

tetesan

Soloevent.id – Pernah mendengar upacara tetesan? Atau jangan-jangan ini baru pertama kali mendengarnya? Tetesan adalah salah satu prosesi dalam kebudayaan Jawa. Upacara ini merupakan acara selamatan bagi anak perempuan yang berusia delapan tahun.

Di era modern ini tetesan mungkin sudah jarang dilakukan. Untuk mengenalkan lagi ke masyarakat dan sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa, Istana Mangkunegaran menampilkan simulasi tetesan dalam Mangkunegaran Performing Art 2017 yang digelar di Pendhapa Pura Mangkunegaran, Sabtu (18/3/2017).

Tetesan dilaksanakan sebagai penanda proses tumbuh dan kembangnya seorang anak perempuan menjadi dewasa. Menurut kepercayaan, jika prosesi ini tidak dilakukan bakal mengakibatkan anak menjadi klunthing (tidak bisa tumbuh dan berkembang secara wajar). Tetesan sebaiknya digelar bertepatan dengan ulangtahun kedelapan si anak.

Tetesan biasanya dilangsungkan pada pukul delapan pagi di sebuah ruang tertutup. Sebelum tetesan dimulai, berbagai ubo rampe (perlengkapan) harus disiapkan, antara lain jenang (abrit, pethak, baro-baro), tumpeng (robyong dan gundul), setangkup gula jawa, satu buah kelapa, beras, sirih, kemiri, dan lainnya.

Alas untuk upacara tetesan juga harus diperhatikan. Untuk alas bagian atas disusun dari tujuh lapis kain yakni letrek, sindu, panguntulak, mayang sekar, liwatan, yuyu sekandang, dan lurik sinjang. Sedangkan alas bagian bawah menggunakan bermacam daun, seperti keluak, opo-opo, dadap srep, dan alang-alang.

Prosesi ini diawali dengan Bong Wadon (juru sunat wanita) mengusapkan kapas basah yang telah diolesi kunyit ke organ intim si anak. Selama tahap ini mata si anak ditutup oleh ibunya menggunakan tangan. Kemudian si anak diberi dua macam minuman tradisional.

Tahap selanjutnya adalah prosesi siraman. Si anak dimandikan menggunakan air kembang oleh nenek, ibu, ayah, dan tujuh kerabat perempuan. Setelah itu si anak dibawa ke kamar rias. Pada saat putrinya didandani, ibu menyiapkan nasi tumpeng yang akan dibagikan dalam perjamuan tetesan (biasa disebut dengan jagongan wadon).

Peraga Bong Wadon, Raden Ayu Tumenggung Anna Hudoko Artista, menjelaskan, tetesan dimaksudkan untuk membuang sial. “Harapan setelah prosesi ini agar anak dapat berkembang dan tumbuh menjadi dewasa dan terbebas dari segala gangguan, serta bisa berguna bagi orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.

 

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

More like this

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...