TEDxUNS (Technology, Entertainment, Design x Universitas Sebelas Maret) 5.0 sukses diselenggarakan pada Sabtu, 13 Juni 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) dengan total 100 peserta yang datang dari kalangan SMA, mahasiswa, dan warga-warga kota Surakarta. Acara ini telah berhasil mengundang beberapa narasumber yang diantara adalah RAy. Febri Hapsari Dipokusumo (Director of Hapsari PRCC & FHD Motivation), William Reynold (Founder Urun Daya Kota), Andrea Novita (Science Communicator), dan Kanira Jahrani Ranggadewani (Student Speaker) untuk berbicara tentang tumbuh dalam diam dan memberikan makna berkelanjutan bagi sekitar.
Acara ini dibuka dengan sebuah penampilan dari Teater Delik dan dilanjutkan dengan sambutan dari Catur Sugiarto, S.E., M.SM., M.Rech., Ph.D., CDMP. selaku Supervisor TEDxUNS 5.0 & Abror Kafi Ananta serta Nisrina Fayyaza Damanik selaku CEO dan Co-CEO TEDxUNS 5.0. Setelahnya, sesi TED Talks dimulai dengan para narasumber menyampaikan ide-ide mereka selama 18 menit.

Sebagai acara yang kelima kali diselenggarakan, TEDxUNS berangkat dari pertanyaan tentang kehadiran forum-forum penyampaian ide di kota Surakarta. Dengan misi utamanya berupa #IdeasChangeEverything, TEDxUNS hadir untuk dapat menjadi tempat bertemunya ide-ide dari berbagai disiplin bidang.
Dan di tahun ini, TEDxUNS sukses membawakan bidang Psikologi, Ekonomi, dan Teknologi yang dikemas dalam satu tema besar, yaitu “The Subtle Bloom.” Tema tersebut memberi gambaran bahwa pertumbuhan yang sesungguhnya adalah tumbuh dalam diam dan tidak selalu terlihat oleh banyak orang. Ketika pertumbuhan tersebut dilakukan dengan sepenuh hati, maka maknanya akan jauh lebih terasa bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar.

“Kota terdiri dari ruang, manusia, dan makna. Dan makna bukan dari sekedar teori, tapi dari interaksi, percakapan, dan pertemuan,” kata William dalam idenya yang berjudul “Menyadari Daya, Membentuk Makna.”
Sedangkan Kanira, pemenang Student Speaker Competition TEDxUNS 5.0, mengatakan bahwa pentingnya berproses perlahan dalam dunia yang bergerak semakin cepat. Bahkan ia menjelaskan bahwa jeda hanyalah sebuah istirahat, bukan berarti berhenti sepenuhnya. “Jika bukan aku pemenangnya, lalu apa artinya?” Tanyanya kepada audiens.

Di samping itu, RAy. Febri Hapsari Dipokusumo juga turut menyampaikan idenya akan teknologi dan refleksi diri selayaknya Mulat Sarira. “Teknologi boleh canggih dan berubah, tapi kita harus jadi diri sendiri dengan budaya sebagai akar kita,” ujar beliau.
Lebih dari itu, seorang Science Communicator, Andrea Novita, memberikan catatan kecil kepada audiens untuk tidak pernah lelah belajar, selalu percaya pada setiap langkah, dan tetap menjadi pribadi yang selalu ingin tahu akan banyak hal.

TEDxUNS bukan hanya sekedar talk show. Lebih dari itu, TEDxUNS adalah tempat dimana ide-ide hadir untuk merefleksikan diri, menguatkan nilai-nilai, dan memberi dampak pada sekitar. “Semoga TEDxUNS 6.0 dapat terselenggara lebih baik dan melampaui pencapaian yang telah diraih di tahun ini. Semoga tim selanjutnya juga dapat mempertahankan hal-hal baik yang telah dibangun sekaligus memperbaiki apa yang dapat diperbaiki. Always remember, kalau ada inovasi dan gebrakan, just do it! Don’t be afraid!” Harap Ananta, CEO TEDxUNS 5.0.
Penulis: Diazrayya Panji Surya Krisnandharu









