Tuesday, June 9, 2026
HomeSeni dan BudayaMengekang Hawa Nafsu Lewat Tapa Bisu

Mengekang Hawa Nafsu Lewat Tapa Bisu

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Menyambut 1 Sura atau 1 Muharam, Puro Mangkunegaran menggelar Kirab Pusaka Dalem. Kirab diikuti keluarga Mangkunegaran, kerabat, abdi dalem, dan beberapa tamu penting. Tahun ini, kirab diadakan pada Sabtu (31/8/2019).

Ada empat pusaka berupa tombak dan sebuah joli yang dikirab. Kirab dimulai dari dalam Puro Mangkunegaran kemudian melewati Ronggowarsito-Jl. Kartini-Jl. RM Said-Jl. Teuku Umar dan kembali ke Puro Mangkunegaran. Selama acara itu berlangsung, semua peserta kirab berjalan tanpa menggunakan alas kaki dan tanpa berbicara atau tapa bisu.

Sebelum kirab dimulai, semua peserta kirab berkumpul di Pendapa Puro Mangkunegaran. Setelah mendapatkan izin dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro IX, kirab pun dilakukan.

Saat kirab berlangsung, yang bertugas sebagai cucuk lampah adalah putra KGPAA Mangkunegara IX, GPH Bhre Cakrahutama Wira Sudjiwo. Lalu, diikuti tamu penting, keluarga, dan para abdi dalem Mangkunegaran.

Semua peserta mengenakan setelan beskap dan kain jarit (laki-laki) serta kebaya hitam dan kain jarit (perempuan), tak lupa pula mengenakan samir warna kuning-hijau. Di antara rombongan kirab tampak tokoh-tokoh nasional, seperti Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar (Cak Imin), mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan anggota DPR RI Aria Bima.

Menurut Sekretaris II Kirab Pusaka Dalem sekaligus Humas Puro Mangkunegaran Joko Pramudya, tradisi kirab pusaka dan tapa bisu merupakan wujud perenungan sekaligus simbol keprihatinan dan refleksi diri terhadap segala perilaku atau perbuatan selama setahun terakhir.



“Kirab dibudayakan untuk prihatin, berdoa, tapa bisu, Itu cerminan mengekang hawa nafus juga sebagai sarana instropeksi masa lampau. Di tahun baru ini, semoga ke depannya bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Selain kirab, di Masjid Al Wustho Mangkunegaran juga dilakukan tadarus Al Quran sebagai tanda bahwa adat istiadat dan agama dapat berjalan seiring sejalan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Targetkan 7.000 Pelari: Solo Run Fest 2026 Padukan Olahraga, Budaya & Tren Kalcer!

Soloevent.id - Solo Run Fest 2026 kembali digelar, memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ajang lari...

Praktik Langsung, Siswa Broadcasting dan Film SMKN 7 Surakarta Gelar Karya Film Pendek dan Video Musik

Soloevent.id - Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Surakarta menggelar kegiatan gelar karya di...

Madreya EO Sukses Gelar “Nge-Lawak Berbudaya” Di Koat Coffee Kartasura

Kartasura, 17 Mei 2026 - Madreya EO, kelompok event organizer yang beranggotakan mahasiswa semester...

More like this

Kirab Bhinneka Gandekan 2026, Tampilkan Berbagai Potensi Budaya Kelurahan Gandekan

Soloevent.id - Kirab Bhinneka Gandekan kembali digelar di Kelurahan Gandekan Solo, Senin (1/6/2026). Event...

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...