Wednesday, February 11, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaSaling Curiga dan Benci Gara-Gara Memedi Sawah

Saling Curiga dan Benci Gara-Gara Memedi Sawah

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Bagi Hari Budiono, memedi sawah bukan lagi sekedar replika manusia untuk menakut-takuti burung perusak/pemangsa biji padi petani. Ia kini digambarkan menjadi pemicu bencana sosial. Jutaan memedi sawah menjelma jadi genderuwo yang menakut-takuti dan meneror siapa saja. Keberadaannya menghantui kehidupan sepanjang waktu.

Potret sosial itu direspon Hari Budiono melalui pameran tunggalnya yang berjudul “Memedi Sawah”. Pameran digelar di Bentara Budaya Balai Soejadmoko, 15-23 Februari 2019.

Pameran “Memedi Sawah” dibuka pada Jumat (14/3/2019). Nyanyian “Ibu Pertiwi” yang dilantunkan Fanny Chotimah dan  diiringi Max Bahihaqi dkk. membuka pameran tersebut. Setelah itu ada penampilan tarian Molek Tayub dan irama lesung yang bertalu-talu dari Paguyuban Lesung Bonoroto, Desa Plesungan. Pameran dibuka secara resmi oleh Purwohadi Sanjoto selaku Owner Orion.

Pameran ini menampilkan 125 karya. Terdiri dari 100 memedi sawah yang membawa wajah orang Indonesia sedang tersenyum, 15 memedi sawah yang membawa kanvas berisi syair “Ibu Pertiwi” dan 10 lukisan 2 dimensi yang menggambarkan respon sosial. Lukisan-lukisan tersebut antara lain berjudul “Dasamuka”, “Panggung Sandiwara”, “Warna-Warni Ayam Nagari”, “Menggantung Cemas”, “Jula-Juli Tahu Garit”, “Babi Tanah 2019” dan “Meletus Balon Hijau”. Lewat lukisan, Hari menggambarkan kenyataan sosial yang menurutnya mengancam ketentraman dan harmonisasi kemasyarakatan dan kebangsaan. Proses kreatif dikerjakan Hari selama 1,5 tahun.



Memedi sawah dalam imajinasi Hari Budiono merupakan penganggu lingkungan. “Memedi sawah ini sebagai bentuk perumpamaan penjaga suatu ekosistem dari gangguan, tapi kenyataannya bahwa sang penjaga inilah yang sekarang menjadi penganggu dalam suatu lingkungan. Memedi sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, saling tak menghargai, selalu menang sendiri sehingga kita menjadi manusia intoleran,” jelasnya.

Tak cuma di Solo, pameran “Memedi Sawah” ini juga telah dan akan ditampilkan di Bentara Budaya kota lain, seperti Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Di Balai Soedjatmoko, pameran dibuka pukul 10.00-21.00 WIB. Pameran ini gratis dan terbuka untuk umum.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Mangkunegaran Meresmikan Layanan Ambulans Jenazah dan Pembukaan Kembali Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran

Surakarta, 5 Februari 2026. Mangkunegaran meresmikan layanan ambulans jenazah dan membuka kembali Perpustakaan Reksa Pustaka...

Maraton 48 Jam: Intip Keseruan Global Game Jam Solo 2026 di Solo Technopark!

Soloevent.id - Global Game Jam Solo 2026 kembali digelar pada 30 Januari hingga 1...

Chef Jane Spill Rahasia “Dubai Chewy Cookies” di Atrium Neo Solo Grand Mall.

Soloevent.id - Neo Solo Grand Mall kembali menggelar acara festival kuliner pada 23 Januari...

More like this

Mengenal Boga Sambrama: Tradisi Berbagi Jajanan Khas Mangkunegaran Setiap 35 Hari

Soloevent.id - Pura Mangkunegaran menggelar acara Boga Sambrama di Pamedan Pura Mangkunegaran Sabtu (31/1/2026)....

Wayang Kok Bahas Bullying? Begini Cara Karang Taruna Baluwarti “Menyentil” Anak Muda Zaman Now!

Soloevent.id - Festival Pucakawarti Vol.3 Baluwarti digelar di depan Kantor Kelurahan Baluwarti, Jumat-Sabtu (19-20/12/2025)....

Ternyata Ini Alasan Ribuan Mata Terpaku pada Panggung Disabilitas di Solo.

Soloevent.id - Kesenian tidak memandang batas yang berarti seni dapat diterima dan dilakukan oleh...