Wednesday, July 22, 2026
HomeSeni dan BudayaSaling Curiga dan Benci Gara-Gara Memedi Sawah

Saling Curiga dan Benci Gara-Gara Memedi Sawah

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Bagi Hari Budiono, memedi sawah bukan lagi sekedar replika manusia untuk menakut-takuti burung perusak/pemangsa biji padi petani. Ia kini digambarkan menjadi pemicu bencana sosial. Jutaan memedi sawah menjelma jadi genderuwo yang menakut-takuti dan meneror siapa saja. Keberadaannya menghantui kehidupan sepanjang waktu.

Potret sosial itu direspon Hari Budiono melalui pameran tunggalnya yang berjudul “Memedi Sawah”. Pameran digelar di Bentara Budaya Balai Soejadmoko, 15-23 Februari 2019.

Pameran “Memedi Sawah” dibuka pada Jumat (14/3/2019). Nyanyian “Ibu Pertiwi” yang dilantunkan Fanny Chotimah dan  diiringi Max Bahihaqi dkk. membuka pameran tersebut. Setelah itu ada penampilan tarian Molek Tayub dan irama lesung yang bertalu-talu dari Paguyuban Lesung Bonoroto, Desa Plesungan. Pameran dibuka secara resmi oleh Purwohadi Sanjoto selaku Owner Orion.

Pameran ini menampilkan 125 karya. Terdiri dari 100 memedi sawah yang membawa wajah orang Indonesia sedang tersenyum, 15 memedi sawah yang membawa kanvas berisi syair “Ibu Pertiwi” dan 10 lukisan 2 dimensi yang menggambarkan respon sosial. Lukisan-lukisan tersebut antara lain berjudul “Dasamuka”, “Panggung Sandiwara”, “Warna-Warni Ayam Nagari”, “Menggantung Cemas”, “Jula-Juli Tahu Garit”, “Babi Tanah 2019” dan “Meletus Balon Hijau”. Lewat lukisan, Hari menggambarkan kenyataan sosial yang menurutnya mengancam ketentraman dan harmonisasi kemasyarakatan dan kebangsaan. Proses kreatif dikerjakan Hari selama 1,5 tahun.



Memedi sawah dalam imajinasi Hari Budiono merupakan penganggu lingkungan. “Memedi sawah ini sebagai bentuk perumpamaan penjaga suatu ekosistem dari gangguan, tapi kenyataannya bahwa sang penjaga inilah yang sekarang menjadi penganggu dalam suatu lingkungan. Memedi sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, saling tak menghargai, selalu menang sendiri sehingga kita menjadi manusia intoleran,” jelasnya.

Tak cuma di Solo, pameran “Memedi Sawah” ini juga telah dan akan ditampilkan di Bentara Budaya kota lain, seperti Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Di Balai Soedjatmoko, pameran dibuka pukul 10.00-21.00 WIB. Pameran ini gratis dan terbuka untuk umum.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Kolaborasi Lintas Generasi di Satu Panggung Solo Keroncong Festival 2026

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali digelar pada Sabtu (18/7/2026) di Alun-Alun...

Surga Anggrek Nusantara! Solo Anggrek Festival 2026 Hadir di Loji Gandrung

Soloevent.id - Solo Anggrek Festival kembali digelar untuk kedua kalinya di Kota Solo pada...

Dari Gambyong Hingga Band Local: Pre-Event SIPA 2026 Sukses Hipnotis Anak Muda Solo di Solo Paragon Lifestyle Mall.

Soloevent.id - Bulan September mendatang, Solo International Performing Arts (SIPA) bakalan digelar lagi.  Berbagai...

More like this

Kolaborasi Lintas Generasi di Satu Panggung Solo Keroncong Festival 2026

Soloevent.id - Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali digelar pada Sabtu (18/7/2026) di Alun-Alun...

Dari Gambyong Hingga Band Local: Pre-Event SIPA 2026 Sukses Hipnotis Anak Muda Solo di Solo Paragon Lifestyle Mall.

Soloevent.id - Bulan September mendatang, Solo International Performing Arts (SIPA) bakalan digelar lagi.  Berbagai...

Seniman dari 28 Negara Kumpul di Solo International Art Camp 2026!

Soloevent.id - Yayasan Jagoan Indonesia bersama The Asian Post (member of Infobank Media Group)...