Thursday, February 26, 2026
spot_img
HomeSeni dan BudayaSaling Curiga dan Benci Gara-Gara Memedi Sawah

Saling Curiga dan Benci Gara-Gara Memedi Sawah

Published on

- Advertisement -spot_img

Soloevent.id – Bagi Hari Budiono, memedi sawah bukan lagi sekedar replika manusia untuk menakut-takuti burung perusak/pemangsa biji padi petani. Ia kini digambarkan menjadi pemicu bencana sosial. Jutaan memedi sawah menjelma jadi genderuwo yang menakut-takuti dan meneror siapa saja. Keberadaannya menghantui kehidupan sepanjang waktu.

Potret sosial itu direspon Hari Budiono melalui pameran tunggalnya yang berjudul “Memedi Sawah”. Pameran digelar di Bentara Budaya Balai Soejadmoko, 15-23 Februari 2019.

Pameran “Memedi Sawah” dibuka pada Jumat (14/3/2019). Nyanyian “Ibu Pertiwi” yang dilantunkan Fanny Chotimah dan  diiringi Max Bahihaqi dkk. membuka pameran tersebut. Setelah itu ada penampilan tarian Molek Tayub dan irama lesung yang bertalu-talu dari Paguyuban Lesung Bonoroto, Desa Plesungan. Pameran dibuka secara resmi oleh Purwohadi Sanjoto selaku Owner Orion.

Pameran ini menampilkan 125 karya. Terdiri dari 100 memedi sawah yang membawa wajah orang Indonesia sedang tersenyum, 15 memedi sawah yang membawa kanvas berisi syair “Ibu Pertiwi” dan 10 lukisan 2 dimensi yang menggambarkan respon sosial. Lukisan-lukisan tersebut antara lain berjudul “Dasamuka”, “Panggung Sandiwara”, “Warna-Warni Ayam Nagari”, “Menggantung Cemas”, “Jula-Juli Tahu Garit”, “Babi Tanah 2019” dan “Meletus Balon Hijau”. Lewat lukisan, Hari menggambarkan kenyataan sosial yang menurutnya mengancam ketentraman dan harmonisasi kemasyarakatan dan kebangsaan. Proses kreatif dikerjakan Hari selama 1,5 tahun.



Memedi sawah dalam imajinasi Hari Budiono merupakan penganggu lingkungan. “Memedi sawah ini sebagai bentuk perumpamaan penjaga suatu ekosistem dari gangguan, tapi kenyataannya bahwa sang penjaga inilah yang sekarang menjadi penganggu dalam suatu lingkungan. Memedi sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, saling tak menghargai, selalu menang sendiri sehingga kita menjadi manusia intoleran,” jelasnya.

Tak cuma di Solo, pameran “Memedi Sawah” ini juga telah dan akan ditampilkan di Bentara Budaya kota lain, seperti Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Di Balai Soedjatmoko, pameran dibuka pukul 10.00-21.00 WIB. Pameran ini gratis dan terbuka untuk umum.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Aston Solo Hotel Hadirkan Pengalaman Iftar Dunia dengan Sentuhan ASEAN

Soloevent.id - Dalam menyambut bulan suci ramadhan, Aston Solo Hotel resmi memperkenalkan rangkaian program...

Rayakan Hari Pers Nasional, Monumen Pers Solo Pamerkan 101 Koleksi Iklan Ikonik.

Soloevent.id - Monumen Pers Nasional Solo menggelar pameran bertajuk Warta Pariwara yang menampilkan koleksi...

The Sunan Hotel Solo Hadirkan Ratusan Menu Nusantara di Iftar All You Can Eat Buffet

Soloevent.id - Menyambut bulan suci Ramadhan, The Sunan Hotel Solo kembali menghadirkan pengalaman berbuka...

More like this

Upacara Peringatan HUT ke-281 Kota Solo, Masyarakat Umum Ikut Kenakan Busana Adat Jawa

Soloevent.id - Ribuan peserta memadati Stadion Sriwedari untuk mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun...

Rayakan Hari Jadi ke-281 Kota Solo, Ribuan Warga Serbu Koridor Ngarsopuro demi Jenang

Soloevent.id - Festival Jenang Solo kembali digelar pada Selasa (17/2/2026) di Koridor Ngarsopuro. Acara ...

Heritage in Harmony: Saat Akulturasi Budaya Jawa-Tionghoa Bersatu di Panggung Imlek Solo

Soloevent.id - Puncak perayaan imlek di Kota Solo digelar dengan panggung hiburan semarak heritage...