Monday, October 19, 2026
HomeSeni dan BudayaKisah Cepot Di Solo Imlek Festival 2016

Kisah Cepot Di Solo Imlek Festival 2016

Published on

- Advertisement -spot_img

KISAH CEPOT DI SOLO IMLEK FESTIVAL 2016

Setelah dibuka oleh Grebeg Sudiro, gaung perayaan Tahun Baru Imlek 2567 di Kota Solo semakin besar. Senin (1//2/2016) malam, Solo Imlek Festival 2016 resmi dibuka. Salah satu rangkaian acara pembukaannya adalah pentas Wayang Golek dengan lakon “Cepot Ber-Imlek-an di Kota Solo”, yang dibawakan oleh grup Pasundan Asih dengan dalang Adi Konthea Kosasih Sunarya.

Pergelaran Wayang Golek tersebut dikonsep secara kontemporer, baik dari cerita, bentuk wayang, maupun alat musik yang mengiringi. Adi yang punya hubungan darah dengan dua dalang Wayang Golek kawakan, Ade Kosasih Sunarya dan Asep Sunandar Sunarya, menjadikan tokoh Cepot sebagai ikon pertunjukannya.

Celotehan-celotehan Cepot mampu menghangatkan malam yang dingin itu. Saat ia bernyanyi, tak sedikit penonton yang menyunggingkan senyum. Dengan iringan jazz, Cepot menari-nari lucu sambil menyanyikan tembang tradisional “Jaranan”. “Jaranan, jaranan, jarannya jaran teji. Sing numpak rupane abang,mlakune njot-njotan,” begitu liriknya.

Cepot ternyata juga mahir menyanyikan lagu Bahasa Inggris. Saat bertemu dengan tokoh bernama Stefani, ia mengajaknya berdansa dengan lagu “La Bamba”. Cepot pun sempat menggoda Stefani dengan lagu “Tonight, I Celebrate My Love”, yang dinyanyikan dalam aksen Sunda.

Selaku dalang, Adi menyelipkan pesan persatuan dalam keberagaman lewat tokoh Stefani. Diceritakannya, Stefani adalah wanita Belanda yang kepengen merasakan keharmonisan masyarakat saat berlangsungnya Imlek. “Solo adalah kota dengan beragam budaya. Walaupun berbeda, tapi tetap bisa jadi satu,” tuturnya.

Pesan yang disampaikan dalang Adi dalam pentas “Cepot Ber-Imlek-an di Kota Solo”, sejalan dengan tema “Budaya Imlek Memperkokoh NKRI” yang diusung Panitia Bersama Imlek 2567. Penasehat Solo Imlek Festival 2016, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan, saling menghormati tanpa membedakan golongan harus jadi sikap bangsa Indonesia. “Solo adalah kota yang majemuk, maka ke-Bhineka-an harus ditonjolkan,” tuturnya saat memberikan sambutan.

Rudy melanjutkan, ramai dan meriahnya perayaan Imlek di Kota Solo, ditandai dengan banyaknya warga yang berfoto di bawah lampion saat malam hari, menjadi bukti bahwa Solo dalam situasi aman, nyaman, dan kondusif.

Usai pembukaan, Solo Imlek Festival 2016 akan terus digeber hingga Sabtu (6/2/2016). Event yang menampilkan 70 stan dan aneka hiburan ini, dihelat dari jam 17.00 hingga 22.00 WIB.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Misteri Rumah Tua & Ritual Sesat: Siap-Siap Nonton Film Rambut Sewu 5 November!

Soloevent.id - Genre film horor masih menjadi genre yang banyak diminati oleh penonton. Dengan...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

More like this

Potensi 11 Kelurahan Bersatu di Srawung Budaya Jebres 2026

Soloevent.id - Budaya seringkali dipandang sebagai hambatan dalam pembangunan. Padahal budaya sebenarnya dapat menjadi...

Merawat Tradisi, Merawat Bumi: Parade Kreativitas 15 RW di Kirab Hajatan Ageng Jagalan

Soloevent.id - Kirab Budaya Hajatan Ageng Jagalan (HAJ) Kelurahan Jagalan kembali digelar di Kelurahan...

Panggung Budaya Mahasiswa Internasional UNS di UNS Cultural Night 2026

Soloevent.id - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar UNS Cultural Night (UCN) 2026 dengan...