Tuesday, May 26, 2026
HomeSeni dan BudayaKisah Cepot Di Solo Imlek Festival 2016

Kisah Cepot Di Solo Imlek Festival 2016

Published on

- Advertisement -spot_img

KISAH CEPOT DI SOLO IMLEK FESTIVAL 2016

Setelah dibuka oleh Grebeg Sudiro, gaung perayaan Tahun Baru Imlek 2567 di Kota Solo semakin besar. Senin (1//2/2016) malam, Solo Imlek Festival 2016 resmi dibuka. Salah satu rangkaian acara pembukaannya adalah pentas Wayang Golek dengan lakon “Cepot Ber-Imlek-an di Kota Solo”, yang dibawakan oleh grup Pasundan Asih dengan dalang Adi Konthea Kosasih Sunarya.

Pergelaran Wayang Golek tersebut dikonsep secara kontemporer, baik dari cerita, bentuk wayang, maupun alat musik yang mengiringi. Adi yang punya hubungan darah dengan dua dalang Wayang Golek kawakan, Ade Kosasih Sunarya dan Asep Sunandar Sunarya, menjadikan tokoh Cepot sebagai ikon pertunjukannya.

Celotehan-celotehan Cepot mampu menghangatkan malam yang dingin itu. Saat ia bernyanyi, tak sedikit penonton yang menyunggingkan senyum. Dengan iringan jazz, Cepot menari-nari lucu sambil menyanyikan tembang tradisional “Jaranan”. “Jaranan, jaranan, jarannya jaran teji. Sing numpak rupane abang,mlakune njot-njotan,” begitu liriknya.

Cepot ternyata juga mahir menyanyikan lagu Bahasa Inggris. Saat bertemu dengan tokoh bernama Stefani, ia mengajaknya berdansa dengan lagu “La Bamba”. Cepot pun sempat menggoda Stefani dengan lagu “Tonight, I Celebrate My Love”, yang dinyanyikan dalam aksen Sunda.

Selaku dalang, Adi menyelipkan pesan persatuan dalam keberagaman lewat tokoh Stefani. Diceritakannya, Stefani adalah wanita Belanda yang kepengen merasakan keharmonisan masyarakat saat berlangsungnya Imlek. “Solo adalah kota dengan beragam budaya. Walaupun berbeda, tapi tetap bisa jadi satu,” tuturnya.

Pesan yang disampaikan dalang Adi dalam pentas “Cepot Ber-Imlek-an di Kota Solo”, sejalan dengan tema “Budaya Imlek Memperkokoh NKRI” yang diusung Panitia Bersama Imlek 2567. Penasehat Solo Imlek Festival 2016, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan, saling menghormati tanpa membedakan golongan harus jadi sikap bangsa Indonesia. “Solo adalah kota yang majemuk, maka ke-Bhineka-an harus ditonjolkan,” tuturnya saat memberikan sambutan.

Rudy melanjutkan, ramai dan meriahnya perayaan Imlek di Kota Solo, ditandai dengan banyaknya warga yang berfoto di bawah lampion saat malam hari, menjadi bukti bahwa Solo dalam situasi aman, nyaman, dan kondusif.

Usai pembukaan, Solo Imlek Festival 2016 akan terus digeber hingga Sabtu (6/2/2016). Event yang menampilkan 70 stan dan aneka hiburan ini, dihelat dari jam 17.00 hingga 22.00 WIB.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Bank Indonesia Solo Gelar ADIKARYA FEST 2026: Perkuat Sistem Digitalisasi dan UMKM di Solo Raya

Soloevent.id - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo kembali menggelar acara ADIKARYA FEST 2026 pada...

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

More like this

Edisi Dasawarsa, Festival Literasi Nasional 2026 Gelar Pentas Karya di Pasar Triwindu

Soloevent.id - Festival Literasi Nasional 2026 kembali digelar di Kota Solo, Jumat-Minggu (22-24/5/2026). Ini...

Berjalan Kaki dari Bali ke Borobudur: Cerita 57 Biksu Dunia Singgah di Kota Bengawan

Soloevent.id - Puluhan biksu dari empat negara memulai prosesi Pindapata dan Sanghadana dalam rangka...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...