Wednesday, May 20, 2026
HomeSeni dan BudayaHarmonisasi Energi Dalam Karya Galih Naga Seno

Harmonisasi Energi Dalam Karya Galih Naga Seno

Published on

- Advertisement -spot_img

HARMONISASI ENERGI DALAM KARYA GALIH NAGA SENO__

“…Yamaraja jaramaya. Yamarani niramaya. Yasilapa palasiya. Yamirada darimaya. Yamidosa sadomiya…”

Aroma dupa menyeruak di Pendhapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT). Bau tersebut mengiringi lampu panggung yang perlahan menyala. Tampak seorang laki-laki duduk bersila di tengah tujuh buah sapu lidi yang mengitarinya. Ujung-ujung lidi itu ditancapi dengan cabai merah. Layaknya seorang pertapa, ia memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi.

Alat-alat musik yang ia bawa, seperti Tibetan singing bowl, shakuhachi, dan beberapa alat tiup lain mulai dimainkan untuk mengiringi proses pembauran energi tersebut. Lalu tiga orang penari muncul. Satu orang penari wanita dengan langkah perlahan, menghamparkan kain putih yang dibawanya. Kemudian ia duduk di atasnya. Sementara dua orang penari pria berdiri tanpa gerak di samping kanan-kiri sang lelaki yang bersila.

Seiring instrumen yang mulai gencar dialunkan, para penari lelaki mulai meliukkan tubuh. Mereka melakukannya secara bertahap. Ketika gerakannya mulai cepat, seorang penari lelaki terlihat mengerang. Ia mengambil sapu lidi dan menyibakkannya ke udara hingga lidinya berhamburan. Tak berselang lama, satu penari pria lainnya melakukan hal yang sama.

Saat kondisi semakin “genting”, sang penari wanita mulai beranjak. Ia lalu melafalkan mantra Kalacakra, yang bebunyiannya ditulis di paragraf awal. Tampaknya lafal mantra itu manjur. Kedua pria yang awalnya terlihat beringas, mulai meluluh. Keduanya kemudian kembali ke posisi sadarnya.

Ya, gambaran di atas merupakan rangkuman pementasan berjudul “Ngrasuk” karya Galih Naga Seno, yang dipertunjukkan pada Bukan Musik Biasa #44, Rabu (28/1/2015). Dalam sesi diskusi yang berlangsung usai acara, Galih menuturkan karyanya tersebut adalah bentuk sinkronisasi tubuh manusia dengan energi-energi kehidupan.

“Manusia mempunyai sisi spiritualitas yang menghasilkan getaran ke dalam energi ruang, waktu, dan alam. Saya mencoba menyerapkannya ke tubuh para penari,” tutur Galih. Alat-alat musik yang ia bunyikan, merupakan perantara proses itu. “Musik yang saya mainkan tidak ada komposisinya. Saya tadi melakukan improvisasi rasa, yang mana digerakkan oleh energi-energi itu. Manakala getaran bunyi mencapai titik kesadaran, manusia berada pada titik pasrah dan ikhlas,” ungkapnya.

Pembicara Bukan Musik Biasa #44, Bondan Aji Manggala, menuturkan karya Galih Naga Seno itu merupakan proses dialog tubuh dengan dunia. “Aktivitas manusia selalu berhubungan dengan tubuh. Tubuh melekat ke lingkungan. Dari pertunjukan tadi, Galih sepertinya membuat lingkungan yang sugestif,” paparnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Artikel Populer

Artikel Terbaru

Meski Balon Udara Gagal Terbang, Warga Tetap Padati Alun-Alun Utara Solo

Soloevent.id - Belasan balon udara yang disiapkan manajemen Bank Jateng Syariah Cabang Solo dalam...

Dari Kuliner Viral sampai Guyon Waton, Ini Keseruan Uleg Bazar Kuliner 2026 di Mangkunegaran

Soloevent.id - Uleg Bazar Kuliner (UBK) 2026 digelar pada 14 hingga 17 Mei 2026...

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

More like this

Pre-Event Solo Batik Carnival ke-17 Kenalkan Tema “Pitoelas” di The Park Mall Solo Baru

Soloevent.id - Pre-Event Pertama Solo Batik Carnival ke-17 digelar di Atrium The Park Mall...

Semarak Budaya Indonesia 2026 Kembali Hadir di Solo Bawa Semangat “Swarna Bumi Bahari”

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 sebagai agenda tahunan Kota Surakarta kembali digelar...

26 Delegasi Dari 23 Daerah Siap Meriahkan Event Semarak Budaya Indonesia 2026

Soloevent.id - Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 kembali menghadirkan perhelatan budaya yang mempersatukan keberagaman...